TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan tahun ini memberi warna berbeda bagi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI 2026. Perayaan yang biasa berlangsung meriah pada malam hari itu kini dimulai lebih awal, menyesuaikan ritme warga yang menanti waktu berbuka puasa.
Event tahunan yang masuk dalam Calendar of Event DIY tersebut digelar selama tujuh hari, 25 Februari hingga 3 Maret 2026, di kawasan Pecinan Ketandan dan Jalan Suryatmajan. Mengusung tema “Warisan Budaya Kekuatan Bangsa”, PBTY tahun ini dirancang dengan konsep yang lebih inklusif karena bertepatan dengan Ramadan 1447 H.
Alih-alih membuka rangkaian acara pada malam hari, panitia memajukan waktu kegiatan untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin ngabuburit. Ruang publik di Ketandan pun disiapkan sebagai tempat menunggu berbuka dalam suasana yang hangat dan tertata.
Festival kuliner tetap menjadi magnet utama dengan 172 stan terpilih dari 300 pendaftar, tersebar di sepanjang Jalan Ketandan dan Suryatmajan. Proses kurasi dilakukan untuk menjaga kualitas sajian.
Untuk menjaga kenyamanan selama Ramadan, panitia menerapkan aturan zonasi yang lebih tegas. Area halal dan non-halal dipisahkan secara jelas serta diberi penanda. Stan di zona halal diimbau mulai berjualan pukul 17.00 WIB guna melayani kebutuhan berbuka puasa, sementara zona non-halal baru diperbolehkan buka setelahnya.
Perubahan juga tampak pada tata panggung. Jika sebelumnya terpusat di area parkir eks-UPN, tahun ini panggung utama bergeser ke Jalan Suryatmajan, di kawasan pertigaan Ketandan–Melia Purosani.
Panggung pun turut dirancang dengan teknologi yang dapat dinaik-turunkan sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas pada pagi hingga siang hari.
Sepanjang pelaksanaan, pengunjung dapat menjelajahi pameran seni dan budaya yang mengangkat sejarah Pandu Tionghoa dan Wayang Cina Jawa di Rumah Budaya Ketandan.
Panggung utama diisi pentas seni harian, sementara Wayang Po Tay Hee digelar setiap pukul 19.00–22.00 WIB di Teras Ketandan.
Atraksi Liong dan Naga Barongsai tampil setiap hari. Puncak acara, Malioboro Imlek Carnival atau Karnaval Budaya, dijadwalkan Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.00–22.30 WIB, dengan rute dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Dalam sambutan pembukaan, Gubernur DIY, Hamengku Buwono X, menempatkan perayaan ini sebagai ruang perenungan nilai.
“Setiap perayaan budaya sejatinya adalah ruang batin peradaban. Sebuah ruang di mana nilai luhur dihidupkan kembali, kesadaran ditinggikan, dan tekad ditempa untuk memuliakan kehidupan dalam keseimbangan dan kebermanfaatan. Di Ketandan, di lorong-lorong kampung tua yang sarat sejarah, di panggung-panggung budaya yang malam ini kembali menyala, kita menyaksikan bagaimana masyarakat menyapa masa lalu, menata masa kini, dan mengirim pesan kepada masa depan. Dan dalam ikut mensyukuri Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, baik dalam kapasitas sebagai Gubernur maupun secara pribadi, saya mengucapkan: ‘Gong Xi Fa Cai’. Selamat tahun baru, semoga rezeki dan keberkahan,menyertai kita semua," kata Sri Sultan, Rabu (24/2) malam.
Sultan menegaskan bahwa PBTY bukan sekadar agenda tahunan. Melainkan momentum perjumpaan nilai, bukan sekadar pertemuan tradisi tetapi pertemuan kesadaran.
"Dalam nilai kebijaksanaan Tiongkok, dikenal konsep ‘Yin dan Yang’: keseimbangan antara terang dan teduh, antara gerak dan diam, antara kekuatan dan kelembutan. Kehidupan tumbuh bukan di satu sisi, melainkan dalam keselarasan dua kutub, yang saling melengkapi. Dalam peradaban Jawa, dikenal falsafah ‘Hamemayu Hayuning Bawana’, yang bermakna merawat keindahan dan menjaga harmoni dunia. Dua nilai moral dari bahasa yang berbeda ini, bertemu dalam satu pesan yang sama: bahwa keseimbangan adalah fondasi peradaban. Dan ketika keseimbangan menjadi landasan, energi perubahan pun harus diarahkan dengan bijaksana," kata Sultan.
Memasuki Tahun Kuda Api, menurut Sultan, energi dan semangat perlu dituntun agar memberi terang.
“Memasuki Tahun Kuda Api, kita berbicara tentang daya gerak, dan cahaya transformasi. Kuda melambangkan keberanian melangkah; api melambangkan semangat yang menyala. Meski begitu, api hanya memberi terang ketika terkendali, dan dapat membakar bila dilepas tanpa arah. Dalam laku Jawa dikenal watak ‘rèh’ dan ‘ririh’: kesabaran dan kehati-hatian, tidak ‘grusa-grusu’, tidak mudah tersulut. Energi tidak dimatikan, tetapi dituntun. Semangat tidak dipadamkan, tetapi dijernihkan. Hal ini selaras dengan ajaran Konfusianisme, yang menempatkan kemanusiaan sebagai nilai utama, berakar pada kasih dan kepedulian terhadap sesama. Martabat manusia terjaga, ketika ia memperlakukan sesamanya dengan toleran, hormat, dan welas asih," kata Sultan.
Sultan juga menyinggung makna khusus PBTY yang berlangsung dalam suasana Ramadan. Di tengah laku menahan hawa nafsu, kata Sultan, ruang budaya tetap terbuka,sebagai ruang perjumpaan nilai. Bahkan, PBTY menghadirkan tausiah, berbagi takjil, dan kegiatan kebersamaan lainnya.
"Ini menjadi penanda, bahwa kebudayaan dan ketakwaan dapat berjalan beriringan. Pekan Budaya ini, juga menghadirkan wajah ekonomi kerakyatan. Di antara gemilang cahaya lampion dan pertunjukan seni, para pelaku UMKM, pedagang kuliner, perajin, dan seniman memperoleh ruang berkarya, dan menghidupi keluarganya. Pergerakan ekonomi tidak hanya terasa di Ketandan, tetapi menjalar ke Malioboro dan sekitarnya, menguatkan denyut kota, memperluas distribusi manfaat, dan mempererat kohesi sosial," kata Sultan.
Menutup sambutannya, Sultan mengingatkan bahwa akulturasi telah lama menjadi napas Yogyakarta. Bagaimana tidak, Wayang Potehi yang tampil berdampingan dengan kesenian Jawa, hingga ragam kuliner dan seni yang saling mempengaruhi, semuanya menjadi bukti bahwa perjumpaan budaya bukan sekadar koeksistensi.
"Itulah linimasa proses kreatif, yang melahirkan kesejahteraan dan memperkaya peradaban. Dari jejak sejarah itu kita belajar, bahwa peradaban yang besar bukanlah yang seragam, melainkan yang mampu merawat perbedaan dalam keseimbangan. Yogyakarta, dengan keistimewaannya, tumbuh dari kesediaan untuk membuka ruang bagi setiap identitas yang datang dengan niat baik dan kerja keras. Pekan Budaya Tionghoa, adalah bagian dari narasi panjang itu. Oleh karenanya, dari Ketandan, kita mengirim pesan, bahwa harmoni bukan utopia. Ia adalah pilihan sadar, yang terus kita rawat. Akhirnya, dalam setiap doa tulus, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa memberkati kita dengan kesuksesan, kekuatan, dan kesehatan. Mari membuka jalan bagi setiap asa dan kebaikan, menciptakan dunia yang lebih sejahtera dan penuh kedamaian," pungkas Sultan.