TRIBUNNEWS.COM, PALABUHANRATU- Pitasari (36), ibunda dari Faris Fadlan Al Farizi yang merupakan teman sekamar NS (14) di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cibitung, menceritakan curahan hati almarhum yang merasa enggan pulang ke rumahnya.
Pitasari mengatakan, NS sering berkunjung bahkan menginap di kediamannya di Kampung Cidahu, Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, saat libur pesantren atau sekolah.
Meski dikenal sebagai anak yang sangat sopan dan santun, NS sering terlihat murung dan banyak melamun saat berada di rumah Pitasari.
"Saya sering melihat dia kayak aneh gitu, kayak beda dari anak-anak yang lain, sering murung, sering diam, melamun. Kan kamar saya ini enggak ada pintunya ya Pak, jadi kelihatan gitu. Saya bolak-balik ya saya tanyalah ada apa gitu kenapa," kata Pitasari saat ditemui Tribunnewsw.com di rumahnya, Rabu (25/2/2026).
Kepada Pitasari, NS pernah mencurahkan isi hatinya ketika ditanya mengapa ia jarang pulang ke rumahnya sendiri seperti anak-anak pesantren lainnya.
"Katanya, 'mau pulang ke mana, Bu? Saya enggak ada tempat pulang'. Kenapa? kata saya. 'Ibu saya (TR) galak'," ujar Pitasari menirukan ucapan NS.
Pitasari tak kuasa menahan air matanya saat menceritakan sosok NS kepada Tribunnews.com. Suaranya terdengar sesenggukan saat mengingat sosok NS yang dikenal sangat sopan namun sering terlihat menyimpan beban pikiran.
Pitasari kemudian memperlihatkan kamar tidur yang biasa digunakan NS sewaktu menginap di rumahnya. Ia mengenang kebiasaan NS yang sering tidur terlentang dengan posisi tangan berada di atas kepala sembari melamun.
Kepada Pitasari, NS juga bercerita mengenai ayahnya yang jarang berada di rumah karena sibuk bekerja.
Tak hanya soal ibu tiri, NS juga sempat bercerita mengenai ibu kandungnya. Sejak masih keci;, NS mengaku tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan ibu kandungnya tersebut.
Menurut Pitasari, NS sudah dianggap seperti anak sendiri. Dalam seminggu, almarhum bisa datang dua sampai tiga kali ke rumahnya sekadar mencari makan atau bertemu suami Pitasari di bengkel.
Baca juga: Ketua RW Soal Ibu Tiri yang Aniaya Anak di Sukabumi: Jarang Keluar, Sering Cekcok dengan Suami
"Sering dia, nyamperin suami Ibu ya, ke rumah Umi, ke rumah nenek, kalau enggak ada saya kan warung gitu ya," tuturnya.
Jadi Tersangka
Polres Sukabumi telah menetapkan TR sebagai tersangka atas dugaan kekerasan, baik fisik atau psikis.
NS meninggal pada Kamis (19/2/2026) di RSU Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi. Sebelum meninggal, NS mengaku disuruh minum air panas oleh ibu tirinya, TR. Hal ini disebut menyebabkan adanya sejumlah luka bakar pada tubuh korban.
Namun, TR membantah tudingan penganiayaan maupun pembunuhan, dan menyebut kematian NS sebagai takdir.
TR mengaku telah merawat korban sejak kelas 3 SD dan merasa terpukul atas kepergian anak tersebut.
Ia menilai respons publik di media sosial berlebihan dan tidak adil.
Ia bahkan menyebut netizen sebagai 'pahlawan kesiangan' karena dianggap hanya mengomentari tanpa memberikan bantuan nyata, termasuk dalam proses pemakaman.