TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – NS (13), bocah yang tewas diduga akibat penganiayaan ibu tirinya di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meninggalkan kenangan terakhir yang menyayat hati.
Sekitar sebulan sebelum wafat, ia memberikan sebuah sarung kepada Pitasari (36), ibunda teman sekamarnya di pondok pesantren, sebagai tanda terima kasih.
Pitasari mengenang, NS datang ke rumahnya dan menyerahkan sarung itu dengan alasan sederhana.
“Dia ngasih sarung, saya tanya buat apa. Katanya buat kenang-kenangan, tanda terima kasih,” ujar Pitasari di Kampung Cidahu, Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Rabu (25/2/2026).
Air mata Pitasari tak terbendung saat menceritakan kembali momen tersebut. Ia merasa NS berterima kasih karena selama sering menginap di rumahnya, selalu diurus dan diperlakukan layaknya anak sendiri.
Pitasari masih ingat jelas pertemuan terakhir dengan NS sehari sebelum libur panjang pesantren. Saat itu, NS berpamitan pulang ke rumah orangtuanya.
Ia terlihat sehat, bahkan makan dengan lahap.
“Makannya lebih banyak dari anak saya, lahap banget. Tidak ada tanda-tanda sakit,” kenang Pitasari.
Kabar kematian NS membuatnya syok.
“Saya kaget, masa anak baik-baik saja bisa secepat itu meninggal,” ujarnya.
Di mata Pitasari, NS adalah anak lugu, sopan, namun pendiam. Ia sering melihat NS melamun, seolah memendam beban hidup.
“Dia jarang bicara, sering melamun. Sepertinya banyak beban,” kata Pitasari.
Polres Sukabumi telah menetapkan TR, ibu tiri NS, sebagai tersangka dugaan kekerasan fisik dan psikis.
NS meninggal pada Kamis (19/2/2026) di RSUD Jampang Kulon.
Sebelum meninggal, ia sempat mengaku disuruh minum air panas oleh TR, yang menyebabkan luka bakar di tubuhnya.
Baca juga: Cek TKP Penganiayaan Pelajar di Tual, Kompolnas Tegaskan Proses Pidana Berjalan
TR membantah tudingan penganiayaan maupun pembunuhan, menyebut kematian NS sebagai takdir.
Ia mengaku terpukul atas kepergian anak yang telah dirawat sejak kelas 3 SD, dan menilai respons publik di media sosial berlebihan.