Chef Nasional Norman Ismail Latih 21 Juru Masak SPPG di Pidie, Didatangkan oleh Menteri Teuku Riefky
Mursal Ismail February 26, 2026 01:03 AM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nazar I Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya atau TRH, mendatangkan Chef Nasional, Norman Ismail, ke Pidie, Aceh, Selasa (24/2/2026). 

Kedatangannya untuk melatih 21 juru masak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Pidie di salah satu SPPG di kabupaten ini. 

Teuku Riefki Harsya yang ikut datang ke lokasi SPPG itu mengatakan program mendatangkan Chef Nasional untuk melatih juru masak SPPG ini merupakan program nasional yang telah dilakukan ke sejumlah kabupaten/kota di Indonesia.

Seperti telah dilaksanakan di Kota Lampung. Tentunya kehadiran chef nasional menjadi semangat baru bagi juru masak di seluruh SPPG di Indonesia. 

Menurutnya, chef nasional akan sharing terhadap menu makanan untuk MBG di Pidie. Mulai dari variasi makanan dengan menggunakan bahan baku lokal, baik rasa maupun tampilan. 

Namun, bahan baku itu tetap dalam koridor mengandung protein, vitamin dan gizi yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional atau BGN. 

Baca juga: Sistem Penyaluran MBG di Lhokseumawe Selama Ramadhan, SPPG Diminta Patuh

"Kehadiran chef nasional untuk sharing, bukan untuk memaksa menggenaralisasikan rasa dari ujung barat ke ujung timur. 

Tapi, yang paling penting menjaga kerifan lokal, yang tetap sesuai protein gizi yang diutamakan," kata Teuku Riefky Harsya disela-sela demo memasak bersama Chef Nasional, Norman Ismail, di Pidie. 

Telur Bebek Menu MBG

Dikatakan, bahan baku lokal untuk MBG harus menjadi prioritas.

Misalnya, ketika harga barang naik, maka daging ayam bisa disubsidikan dengan ikan dan telur ayam diganti dengan telur bebek. Sebab, di Aceh banyak telur bebek.

"Saya rasa selama bisa melakukan koordinasi dengan BGN, tentunya harus dicari jalan keluar karena sasaran utama MBG itu, di samping investasi SDM juga untuk menumbuhkan ekosistem ekonomi kabupaten," jelasnya. 

Baca juga: Kepala BGN Beri Insentif Rp 6 Juta per Hari untuk SPPG, Termasuk Hari Libur dan Bebas Pajak

Kata Teuku Riefky, program MBG diprakarsai Presiden Prabowo Subianto, untuk memberikan gizi kepada generasi emas, dengan sasaran melakukan investasi SDM, sekaligus menghapus stunting. 

Juga untuk perkembangan ekosistem ekonomi di kabupaten hingga pedesaan. Harapannya di Pidie yang SPPG-nya berjumlah, hendaknya bisa mendongkrak ekonomi.

Baik usaha peternakan, perikanan, perdagangan dan penggiat jasa, yang tentunya berdampak pada penyerapan lapangan kerja. Jika aktivitas itu berjalan baik, maka ekonomi kerakyatan akan berkembang . 

"Investasi ke depan di Aceh diharapkan lebih baik, menyusul dana Otsus yang ada batasnya dan limitasi angkanya. Saya rasa, ini peluang bagi Aceh, khususnya Pidie untuk membangkitkan ekonomi. 

Sebab, dana MBG beraral dari APBN dengan dukungan sejumlah kementrian," ujarnya. 

Penerima MBG Capai 65 Juta Orang

Baca juga: MPU Aceh Imbau SPPG-MBG dan Warung Patuhi Aturan Saat Ramadhan, Minta Para Dai Gunakan Bahasa Santun

Pada kesempatan yang sama, Putra Aceh ini, menyebutkan secara nasional angka penerima MBG telah mencapai 65 juta orang dengan 21.897 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG tersebar di Indonesia. 

"Tahun 2026 target penerima MBG terjadi lonjakan menjadi 83 juta orang sebagai penerima mamfaat dengan target 36.600 dapur SPPG di Indonesia," kata TRH. 

Kata Teuku Riefky, Kementerian Ekonomi kreatif memiliki kepentingan terhadap program MBG yang diprakarsai Presiden Prabowo harus berjalan sukses.

Peran penting Kemenekraf adalah pada sektor kuliner UMKM. Sebab, ada 17 subsektor dikelola Kementerian Ekonomi Kreatif. 

Menurutnya, UMKM lokal kabupaten/kota harus menjadi prioritas menyuplai bahan baku untuk SPPG.

"Jika tidak ada di UMKM kabupaten/kota, baru lah diambil dari kabupaten/kota lain. Saya tekankan UMKM lokal harus dilibatkan pada program MBG," ujarnya. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.