TRIBUN-PAPUA.COM - Arifin (48) baru pulang dari pabrik furniture tempat ia bekerja saat hujan mengguyur wilayah rumahnya pada Senin (23/2/2026) sore.
Pria paruh baya itu hanya tinggal berdua dengan sang istri.
Rumah bercat abu-abu yang mereka tinggali itu tampak bersih dan rapi.
"Saya mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) rumah subsidi ini tahun 2012, pakai BTN (Bank Tabungan Negara)," ucap Arifin saat ditemui di rumahnya di kawasan Dukuh Ngrantan, Desa Kadokan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin.
Arifin mengungkapkan, sebelum menempati rumah tersebut, ia tinggal di kos-kosan dengan istrinya selama delapan tahun.
"Waktu itu ada info rumah subsidi di daerah ini, ya saya coba ambil," ucapnya.
Di tahun 2012, Arifin yang bekerja di pabrik hanya menerima upah tak jauh dari batas UMR (Upah Minimum Regional).
Ia mengaku kerap bekerja lembur demi mendapatkan upah tambahan untuk bisa membayar cicilan rumahnya.
Sementara sang istri bekerja sebagai penjahit yang menerima pesanan untuk produksi mukena dalam skala kecil hingga menengah.
"Harga rumah ini Rp148 juta dengan tenor 10 tahun."
Untuk mengajukan KPR, Arifin menyiapkan uang muka sebesar Rp30 juta.
Ia merogoh kocek Rp10 juta dari tabungan pribadinya, sementara sisanya didapat dari orangtua.
"Bersyukur sekali waktu itu pengajuan KPR rumah ini disetujui BTN. Dulu kan gaji saya mepet UMR. Alhamdulillah rumah ini sudah lunas dan jadi milik saya," ucapnya dengan senyum mengembang.
Arifin mengaku sangat dimudahkan oleh BTN dalam proses KPR rumah.
Ia menuturkan bahwa proses pengajuan KPR hingga disetujui cukup cepat, persyaratannya juga tidak rumit.
"Selain itu ada kelonggaran membayar cicilan beberapa hari setelah jatuh tempo. Jujur itu sangat membantu."
Menurut Arifin, membeli rumah lewat KPR sangat meringankan beban finansial, karena ia tidak perlu menyiapkan seluruh harga rumah sekaligus.
"Kalau bangun rumah sendiri kan biayanya mahal. Kalau KPR lebih enak karena diangsur tiap bulan jadi enggak begitu terasa bebannya," jelasnya.
Setelah lunas, Arifin mulai merenovasi rumahnya hingga kini memiliki dua lantai.
Ia merasa lega sudah memiliki rumah sendiri sebelum memasuki usia pensiun.
Setelah memiliki rumah, Arifin dan istrinya bisa fokus menggunakan uang mereka untuk keperluan lain yakni membuka usaha.
"Saya buka toko mainan kecil-kecilan mumpung keuangan saya agak longgar setelah KPR rumah ini lunas. Hasilnya lumayan sebagai sampingan," bebernya.
Berhasil Punya Rumah Meski Kerja di Sektor Informal
Rasa lega bisa membeli rumah lewat KPR juga dirasakan oleh Wulandari (48).
Ia mengajukan KPR non-subsidi di BTN Syariah yang kini bertansformasi menjadi Bank Syariah Nasional (BSN).
Rumah yang ia beli lewat KPR pada tahun 2025 itu berlokasi di Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
"Aku baru bikin sumur tanah di rumah," ucap Wulandari mengungkapkan progres renovasi rumah barunya dengan wajah sumringah saat ditemui di kawasan Jln. Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah, pada Senin (16/2/2026) lalu.
Wulandari mengaku senang bisa memiliki rumah meski dirinya bekerja di sektor informal.
"Awalnya coba-coba saja, kalau disetujui KPR-nya ya alhamdulillah."
Ibu tiga anak itu sehari-hari bekerja sebagai penjual mie di depan SMA Regina Pacis Surakarta.
"Saya kan enggak punya slip gaji, jadi waktu itu pihak bank yang survei ke lokasi jualan saya," papar Wulandari.
Selama berjualan, Wulandari memang konsisten mencatat pengeluaran serta keuntungan jualannya.
Catatan itulah yang ia serahkan ke petugas bank ketika melakukan survei.
Sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), omzet yang didapat Wulandari tak pasti.
Kadang kecil, kadang bisa mencapai Rp800 ribu per hari.
"Untuk KPR ini saya pilih tenor 20 tahun dengan cicilan Rp2,7 juta flat sampai lunas," jelas Wulandari.
Ia mengaku memang punya target sudah punya rumah tahun ini.
Menurutnya, rumah bisa menjadi investasi jangka panjang yang menguntungkan.
"Soalnya nanti harga tanah dan rumah akan makin mahal, jadi mending beli sekarang. Kalau pakai KPR jadi lebih ringan. Daripada uang saya habis begitu saja mending saya pakai untuk mencicil rumah, hasilnya nyata dan bisa jadi investasi," ucapnya.
BTN Salurkan Kredit Perumahan ke Hampir 6 Juta Unit Rumah
Hingga 8 Desember 2025, total penyaluran KPR BTN menembus sekitar 5,7 juta rumah di seluruh Indonesia.
Penyaluran KPR BTN bermula pada 29 Januari 1974, ketika Menteri Keuangan Ali Wardhana menugaskan BTN sebagai penyelenggara KPR untuk mendukung program perumahan rakyat.
BTN resmi menyalurkan KPR perdananya pada 10 Desember 1976 dengan nilai Rp38 juta untuk 17 unit rumah di Semarang dan Surabaya.
Sejak itu, BTN tumbuh menjadi bank pilihan para pembeli rumah pertama (first homebuyers).
Hingga kini, KPR tetap menjadi core business BTN dengan kontribusi lebih dari 78 persen terhadap portofolio dan penguasaan pasar KPR nasional sekitar 40 % .
Di HUT KPR ke-49, BTN telah menyalurkan KPR dengan total plafon senilai Rp504,18 triliun terhitung hingga 8 Desember 2025.
Penyaluran tersebut terdiri atas KPR konvensional sebanyak 5,23 juta rumah dan pembiayaan kepemilikan rumah berbasis syariah sebanyak 456.749 unit.
Adapun 4,38 juta unit disalurkan sebagai KPR subsidi, sedangkan 1,3 juta unit merupakan KPR nonsubsidi.
“BTN telah berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi nasional melalui sektor perumahan. Posisi BTN sebagai bank pilihan utama untuk pembiayaan rumah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem properti nasional. Dengan lebih dari 8.000 mitra pengembang dan dukungan pemerintah, BTN memainkan peran penting dalam memberikan dampak turunan kepada 185 subsektor ekonomi di Indonesia,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu pada 10 Desember 2025 seperti dikutip dari laman resmi BTN.
BTN Jadi Penyalur KPR Sejahtera FLPP Terbesar
Hingga 22 Desember 2025, BTN menjadi penyalur KPR dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP) terbesar secara nasional dengan total realisasi mencapai 128.608 unit rumah subsidi atau setara 46,7?ri total penyaluran nasional sebanyak 270.985 unit.
Hal tersebut dipaparkan oleh Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) di Jakarta, pada 23 Desember 2025.
Berdasarkan data BP Tapera, BTN menjadi bank penyalur KPR FLPP Sejahtera dengan realisasi penyaluran tertinggi di antara 39 bank penyalur dengan rumah yang dibangun oleh 8.058 pengembang yang terdiri dari 13.118 perumahan yang tersebar di 33 provinsi di 401 kabupaten/kota.
Anak usaha BTN, yakni PT Bank Syariah Nasional (BSN) menjadi penyalur terbesar kedua dengan total realisasi penyaluran sebanyak 59.463 unit saat BSN masih berupa Unit Usaha Syariah (BTN Syariah).
Secara total, penyaluran oleh BTN dan BSN mencapai 188.071 hingga 22 Desember 2025.
“BTN masih menjadi bank penyalur KPR Subsidi terbesar secara nasional dan portofolio KPR Subsidi saat ini juga mencapai 64?ri total portofolio KPR BTN. Pertumbuhan KPR Subsidi tetap stabil sepanjang tahun 2025 dan diharapkan permintaannya akan meningkat pada tahun 2026 seiring dengan meningkatnya kebutuhan rumah layak dan terjangkau bagi MBR,” tutur Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar pada 23 Desember 2025 seperti dikutip dari laman resmi BTN.
Pada 2026, BTN akan memperkuat fungsi intermediasinya termasuk untuk penyaluran KPR Subsidi dengan mengerahkan upaya yang lebih proaktif dalam mencari calon-calon debitur potensial.
Salah satunya, kata Hirwandi, dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai institusi dan korporasi yang memiliki jumlah karyawan cukup masif melalui anak-anak usaha atau perusahaan terafiliasi mereka.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan KPR Subsidi masih menjadi portofolio mayoritas di BTN dan terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Pencapaian BTN di Usia 76 Tahun
Pada 9 Februari 2026, BTN merayakan ulang tahunnya yang ke-76.
Berdiri sejak 1950, BTN berkembang dari bank tabungan menjadi bank fokus pembiayaan perumahan.
Saat ini BTN dikenal sebagai bank spesialis pembiayaan perumahan, terutama lewat program KPR Subsidi FLPP dan berbagai produk KPR komersial.
Di usia 76 tahun, BTN tidak hanya bertahan lama tapi juga mampu menjaga kinerja yang solid dan berkelanjutan.
Dikutip dari laman media sosial resmi BTN, sepanjang tahun 2025, BTN berhasil membukukan laba bersih konsolidasian Rp3,5 triliun, tumbuh signifikan 16,4 % dibanding tahun sebelumya.
Pendapatan bunga juga meningkat, biaya operasional lebih efisien, dan keuntungan dari selisih bunga (NIM) meningkat menjadi 4,2 % .
Kinerja positif BTN ini turut tercermin dari:
- Total aset Rp527,8 triliun, tumbuh 12,4 % yoy.
- Penyaluran kredit Rp400,6 triliun, tumbuh 11,9 % yoy.
- DPK (Dana Pihak Ketiga) Rp437,4 triliun, meningkat 14,6 % yoy.
- Kualitas aset terjaga dengan NPL gross 3,1 % .
- CAR (Capital Adequacy Ratio) 20,9 % sebagai buffer permodalan yang kuat.
Hal itu membuktikan bahwa BTN punya fondasi keuangan yang kokoh untuk terus berkembang dan memberi layanan lebih baik ke nasabah. (*)