TRIBUN-MEDAN.com - Terungkap curhat pilu NS (12), bocah yang mengalami penganiayaan oleh terduga ibu tirinya, TR.
Sebelum kejadian naas yang merenggut nyawanya, anak laki-laki tersebut sempat menceritakan kelakuan ibu tirinya.
Pitasari (36), ibunda dari Faris Fadlan Al Farizi yang merupakan teman sekamar NS di Pondok Pesantren Darul Ma'arif Cibitung, menceritakan curahan hati almarhum yang merasa enggan pulang ke rumahnya.
Pitasari mengatakan, NS sering berkunjung bahkan menginap di kediamannya di Kampung Cidahu, Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, saat libur pesantren atau sekolah.
Meski dikenal sebagai anak yang sangat sopan dan santun, NS sering terlihat murung dan banyak melamun saat berada di rumah Pitasari.
"Saya sering melihat dia kayak aneh gitu, kayak beda dari anak-anak yang lain, sering murung, sering diam, melamun. Kan kamar saya ini enggak ada pintunya ya Pak, jadi kelihatan gitu. Saya bolak-balik ya saya tanyalah ada apa gitu kenapa," kata Pitasari saat ditemui Tribunnewsw.com di rumahnya, Rabu (25/2/2026).
Kepada Pitasari, NS pernah mencurahkan isi hatinya ketika ditanya mengapa ia jarang pulang ke rumahnya sendiri seperti anak-anak pesantren lainnya.
"Katanya, 'mau pulang ke mana, Bu? Saya enggak ada tempat pulang'. Kenapa? kata saya. 'Ibu saya (TR) galak'," ujar Pitasari menirukan ucapan NS.
Pitasari tak kuasa menahan air matanya saat menceritakan sosok NS kepada Tribunnews.com.
Suaranya terdengar sesegukan saat mengingat sosok NS yang dikenal sangat sopan namun sering terlihat menyimpan beban pikiran.
Pitasari kemudian memperlihatkan kamar tidur yang biasa digunakan NS sewaktu menginap di rumahnya.
Ia mengenang kebiasaan NS yang sering tidur terlentang dengan posisi tangan berada di atas kepala sembari melamun.
Kepada Pitasari, NS juga bercerita mengenai ayahnya yang jarang berada di rumah karena sibuk bekerja.
Tak hanya soal ibu tiri, NS juga sempat bercerita mengenai ibu kandungnya.
Sejak masih kecil, NS mengaku tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan ibu kandungnya tersebut.
Menurut Pitasari, NS sudah dianggap seperti anak sendiri.
Dalam seminggu, almarhum bisa datang dua sampai tiga kali ke rumahnya untuk sekadar mencari makan atau bertemu suami Pitasari di bengkel.
"Sering dia, nyamperin suami Ibu ya, ke rumah Umi, ke rumah nenek, kalau enggak ada saya kan warung gitu ya," tuturnya.
Sebagai informasi, kepolisian Polres Sukabumi telah menetapkan TR sebagai tersangka atas dugaan kekerasan, baik fisik atau psikis.
NS meninggal pada Kamis (19/2/2026) di RSU Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi.
Sebelum meninggal, NS mengaku disuruh minum air panas oleh ibu tirinya, TR.
Hal ini disebut menyebabkan adanya sejumlah luka bakar pada tubuh korban.
Namun, TR membantah tudingan penganiayaan maupun pembunuhan, dan menyebut kematian NS sebagai takdir.
TR mengaku telah merawat korban sejak kelas 3 SD dan merasa terpukul atas kepergian anak tersebut.
Ia menilai respons publik di media sosial berlebihan dan tidak adil.
Ia bahkan menyebut netizen sebagai “pahlawan kesiangan” karena dianggap hanya mengomentari tanpa memberikan bantuan nyata, termasuk dalam proses pemakaman.
Anwar Satibi mengaku pernah memergoki istrinya, TR (47) berduaan bersama anak angkatnya yang kini telah SMA di dalam kamar.
Diketahui Anwar Satibi adalah ayahanda dari NS, bocah yang diduga dianiaya oleh ibu tirinya, TR.
NS sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi tubuh melepuh, penuh luka bakar, serta demam.
Pada detik-detik menjelang kematiannya, NS sempat menunjuk TR selaku pelaku yang telah membuatnya menderita.
Tak berselang lama, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
Bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, itu akhirnya tutup usia pada Kamis (19/2/2026).
Kabar terbaru, Anwar Satibi mengungkap fakta baru. Rupanya istri keduanya itu selalu membela anak angkat jika cekcok dengan NS.
Anak angkat itu diambil TR dari pernikahan sebelumnya dengan seorang anggota polisi.
Ada satu yang sudah bekerja, sementara satu lagi laki-laki masih kelas 3 SMA.
Anak laki-laki itulah yang disebut kerap konflik dengan NS. Bahkan Anwar pernah memergoki anak tersebut ada di dalam kamar bersama TR.
"Saya pulang kerja dia lagi mijitin istri saya, pakai dasteran, dia pakai kolor, anak angkat.
Alasannya abis mijit, saya datang dia lagi di kamar, berdua. Saya gak melihat anak ini lagi mijit, cuma pas saya datang anak ini keluar dari kamar," katanya dikutip TribunnewsBogor dari podcast Denny Sumargo, Selasa (24/2/2026).
Lalu di lain hari, Anwar menyita handphone anak tersebut.
"Saya ambil HP-nya, saya bukain HP-nya. yang saya kaget banyak film (asusila) di HP anak ini. Saya tanya 'jang ini kenapa HP banyak film', 'dikirim yah sama temen'. Logikanya kalau film dikirim WA (WhatsApp) ya langsung hapus lah buang kenapa harus disimpan di koleksi," katanya.
Sejak temuan tersebut, Anwar mengaku tidak bisa berpikir jernih.
"Semenjak ada film itu otak saya udah gak sehat, oh pantesan kalau dia berantem sama anak saya membelanya bener-bener. Gak nyaman aja perasaan saya," katanya.
Sampai akhirnya diputuskan anak angkat ikut pesantren, juga dengan NS. Suatu hari Anwar pergi ke Garut, sepulang ke rumah dia mendapati si anak angkat itu ada di rumah.
"Saya pulang dia gak tahu saya mau pulang, anak itu ada di rumah, di meja makanan semua, dan anak itupun lari, kabur melihat saya itu. Kalau dia gak punya salah ngapain harus takut, justru dengan dia lari jadi pertanyaan," katanya.
Anwar Satibi mengatakan setiap kali ada masalah, NS yang selalu dimarahi oleh TR.
"Tiap ada masalah anak saya dihantam, anak itu dibela," katanya.
Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian, mengungkapkan adanya luka bakar di lengan, kaki kanan, kiri, hingga punggung. Yang paling mencolok, ditemukan luka bakar lama yang sudah permanen di area bibir atas dan hidung.
"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujar dr. Carles.
Kejanggalan muncul saat pemeriksaan organ dalam. Tim dokter menemukan kondisi paru-paru korban yang sudah membengkak.
Karena luka luar dianggap tidak mematikan, tim forensik kini mencurigai adanya faktor lain di dalam tubuh korban.
"Kami sudah mengambil sampel organ untuk diuji laboratorium di Jakarta. Kami ingin mengetahui apakah ada zat-zat tertentu di dalam organnya," tambahnya.
Meski isu dugaan penganiayaan oleh ibu tiri viral di media sosial, dr. Carles menegaskan bahwa pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kekerasan akibat benda tumpul.
Fokus penyelidikan kini beralih pada hasil uji laboratorium untuk memastikan apakah korban meninggal karena penyakit bawaan atau pengaruh zat eksternal.
Pihak kepolisian dari Polres Sukabumi kini masih menunggu hasil uji lab tersebut guna menentukan langkah hukum selanjutnya dalam kasus yang menimpa anak di bawah umur ini.
Mengutip TribunJabar.id, sang ayah, Anwar Satibi (38) menceritakan, ia meninggalkan anaknya dalam kondisi sehat saat hendak bekerja. Berselang dua hari, sang istri menelepon dan mengabarkan NS demam.
Saat pulang, Anwar Satibi mendapati kulit anaknya sudah melepuh. Sang istri yang berstatus sebagai ibu tiri berdalih, luka tersebut disebabkan oleh demam tinggi.
Korban pun dibawa ke IGD RS Jampang Kulon. NS sempat memberi keterangan singkat kepada ayahnya, yakni ia disuruh minum air panas oleh ibu tirinya.
Dalam kondisi tubuh penuh luka bakar, NS memberikan kesaksian kunci yang mengungkap tabir gelap di balik kematiannya.
Momen tersebut terjadi saat pihak kepolisian tengah meminta keterangan kepada korban di tengah perawatan medis yang kritis.
Ketika ditanya mengapa tubuhnya penuh luka, NS dengan sisa tenaganya langsung merespons. Sambil terbaring lemah, NS melayangkan telunjuknya ke arah sang ibu tiri yang berada di ruangan tersebut.
"Tuh, tuh..." ucap NS lirih namun jelas, menunjuk ke arah perempuan yang seharusnya melindunginya.
Melihat dirinya ditunjuk oleh sang bocah, ibu tiri korban sempat mencoba mendekat. Namun, reaksi tak terduga datang dari ayah kandung NS, Anwar Satibi, yang berada di sisi kiri korban.
Tak kuasa menahan gejolak emosi setelah mendengar pengakuan langsung dari sang anak, Anwar seketika meledak. Di hadapan petugas kepolisian, ia langsung memukul istrinya (ibu tiri korban) tersebut.
Petugas polisi yang berada di lokasi langsung menghardik sang ayah agar tenang dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.
Anwar hanya bisa lemas, menangis sambil merutuki kenyataan pahit bahwa anak sulungnya menderita di tangan orang terdekat.
(*/TRIBUN-MEDAN.com)
Sumber: Tribunjabar/ Tribunnews.com