Tradisi Haroa Sambut Ramadhan 2026 ala Masyarakat Buton di Baubau Sulawesi Tenggara
Faiz Fadhilah February 26, 2026 08:42 AM

- Aroma kue tradisional menyeruak dari dapur-dapur warga di Baubau, Sulawesi Tenggara.

Sejak pagi, para ibu sibuk mengaduk adonan, menggoreng ubi dan pisang, serta menata kue-kue dalam talang.

Ramadhan belum tiba, tetapi suasana religius sudah terasa hangat di tengah masyarakat Buton.

Di tanah inilah, tradisi Haroa kembali digelar untuk menyambut Ramadhan 2026.

Haroa bukan sekadar acara kumpul keluarga. Ia adalah warisan leluhur masyarakat Buton yang terus dijaga lintas generasi.

Tradisi ini biasa dilakukan saat menyambut Ramadhan, Bulan Rajab, maupun memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Namun menjelang Ramadhan, Haroa memiliki makna yang lebih dalam: ungkapan syukur sekaligus doa bagi keluarga yang telah berpulang.

Menjelang hari pertama puasa, keluarga-keluarga berkumpul di dalam rumah. Ruang tamu disulap menjadi tempat berkumpul, sementara dapur menjadi pusat kesibukan.

Talang-talangan disiapkan, diisi dengan aneka kue tradisional sesuai kemampuan tuan rumah.

Prosesi dimulai dengan menghadirkan pembaca doa. Salah satunya adalah La Ipo, sosok yang kerap diminta memimpin doa dalam Haroa.

Bagi masyarakat setempat, doa yang dipanjatkan bukan hanya doa selamat, tetapi juga doa yang diniatkan untuk para leluhur dan anggota keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia.

Doa itu memohon agar kesalahan mereka diampuni dan arwahnya diberi ketenangan.

Tak hanya itu, doa juga dipanjatkan bagi yang masih hidup agar diberi kesehatan, rezeki yang lapang, iman yang kuat, serta kesempatan kembali dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya.

Di tengah kekhusyukan, talang Haroa menjadi simbol penting. Talang bukan sekadar wadah makanan, melainkan lambang harapan.

Setiap kue yang tersusun di atasnya menyimpan makna tentang doa dan pengharapan akan kebaikan hidup.

Zaura, salah seorang pengisi talang Haroa, menjelaskan bahwa isi talang biasanya berupa onde-onde, waje, baruasa, bolu, cucur, palu, pisang goreng, dan ubi goreng.

“Tidak ada ketentuan baku mengenai jumlah atau jenisnya; semuanya disesuaikan dengan kemampuan keluarga penyelenggara,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

Berbeda dengan peringatan Maulid Nabi yang memiliki tata letak dan hiasan khusus, Haroa menjelang Ramadhan berlangsung lebih sederhana.

Setelah doa selesai dibacakan, talang-talangan itu dibawa kembali oleh masing-masing keluarga untuk dinikmati bersama di rumah.

Sehari menjelang Ramadhan, denyut tradisi Haroa juga terasa di pasar-pasar tradisional Kota Baubau. Di Pasar Wameo dan Pasar Karya Nugraha, antrean pembeli sudah terlihat sejak pagi.

Para pedagang kewalahan melayani permintaan yang meningkat tajam dua hari sebelum Ramadhan.

Kue-kue tradisional telah dibungkus rapi dalam plastik, siap disusun dalam talang.

Satu paket lengkap biasanya berisi onde-onde, baruasa, waje, bolu, cucur, palu, pisang goreng, dan ubi goreng.

Ambo, salah seorang pedagang, mengatakan bahwa momen Haroa selalu membawa berkah tersendiri bagi penjual kue.

“Dalam satu paket lengkap, harga dibanderol sekitar Rp51 ribu, dengan pilihan pembelian per bungkus seharga Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per cup,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

Hingga siang hari, para pembeli masih memadati lapak-lapak kue, memastikan talang Haroa mereka terisi sempurna.

Bagi masyarakat Buton, tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan pengikat nilai kekeluargaan dan spiritualitas.

Di balik manisnya kue-kue tradisional itu, tersimpan doa-doa yang mengalir pelan.

Haroa menjadi cara masyarakat Buton menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih, mengingat yang telah tiada, mendoakan yang masih ada, dan menyiapkan diri memasuki bulan suci dengan penuh harapan.(*)

Program: Ngabuburit Asyik
Editor: Faiz Fadhilah

#ngabuburit #ngabuburitasyik #tradisi #haroa #buton #baubau #sulawesitenggara #ramadhan2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.