BANJARMASINPOST.CO.ID - Makanan Bergizi Gratis (MBG) dalam sepekan ini menuai sorotan.
Tak sedikit dikeluhkan seiring kualitasnya yang makin rendah.
Apalagi memasuki Ramadhan 2026 ini, MBG yang dibagikan masuk MBG kering.
Berikut sejumlah fakta keluhan MBG yang dibagikan dalam sepekan terakhir.
Keluhan warga terkait menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) beredar luas di media sosial sejak Senin (23/2/2026) petang di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Unggahan tersebut memantik beragam komentar warganet dan menjadi perbincangan hangat di ruang publik dunia maya.
Akun berinisial RA menuliskan, “Apa habar Mbg hari ini wadai nya bejamur wan ubi celembu nya buruk mka ini jatah gsn 3 hari.” Narasi itu disertai dua foto paket MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Foto pertama memperlihatkan sejumlah makanan ringan dalam wadah biru, di antaranya ubi cilembu, susu kotak, telur ayam, telur itik, pisang, dan kue.
Sementara itu foto kedua menyorot bagian bawah wadai/kue (donat) dengan dua titik kecokelatan serta bercak putih di bagian tengah yang diduga sebagai jamur.
Informasi dihimpun, pengunggah dugaan kue berjamur tersebut adalah salah satu wali murid di wilayah distribusi SPPG atau dapur MBG yang berada di Desa Ujung, Kecamatan Batibati.
Paket menu MBG yang ia unggah adalah menu yang didistribusikan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) wilayah setempat (di Desa Ujung) pada Senin kemarin.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG setempat, Hernando, memberikan klarifikasi saat dikonfirmasi, Selasa (24/2/2026).
Ia membenarkan bahwa paket dalam unggahan tersebut merupakan MBG yang didistribusikan pihaknya dan diunggah oleh salah satu wali murid pada Senin kemarin.
Hernando menjelaskan, tampilan ubi cilembu yang terlihat gelap merupakan proses karamelisasi alami saat pengolahan.
“Kondisi ubi tersebut layak untuk dikonsumsi,” tegasnya.
Terkait dugaan bercak putih pada roti, ia memastikan itu bukan jamur.
“Bercak putih di bagian bawah roti merupakan sisa alas tepung saat proses pemanggangan yang menempel setelah roti selesai diproses,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, roti yang digunakan merupakan produksi pelaku UMKM di sekitar dapur SPPG. Hingga kini, menurutnya, tidak ada keluhan serupa dari wali murid lainnya.
“Terima kasih atas kritik dan saran yang kami terima. Ini menjadi evaluasi bagi kami agar ke depan pelayanan semakin baik,” pungkasnya.
Selama bulan Ramadan pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) masih terus dijalankan. Namun untuk menu yang dibagikan tampaknya mendapat keluhan dari orangtua murid.
Seperti yang diungkapkan salah satu orangtua murid yang menyayangkan dengan makanan yang didapat sang anak, berupa kudapan yang tampaknya dibeli dari luar.
“Jajanannya seperti beli di warung, dan jumlahnya sedikit,” ujarnya.
Kepala SDN Murung Sari 5 Rina Emilyana mengatakan dua hari terakhir menu MBG yang dibagikan adalah roti, kacang, kurma dan telur.
“Untuk hari ini menunya kue kering, kacang yang dilapisi tepung, kue basah, pisang dan telur itik ada juga yang telur ayam,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Rina menambahkan untuk MBG yang diberikan meskipun dalam bentuk kudapan diharapkan tetap memiliki nilai gizi yang mencukupi dan harga yang sesuai.
Keluhan akan menu MBG juga diterima oleh Satgas MBG HSU yang kepalai oleh Sekda HSU Adi Lesmana.
Dirinya mengatakan hari ini telah melakukan koordinasi dengan Koordinator BGN HSU.
“Kami juga menerima adanya keluhan menu MBG di bulan Ramadan, dan hari ini sudah melakukan koordinasi agar bisa dilakukan perbaikan dan kesesuaian menu,” ujarnya.
Terpisah Eka, Koordinator BGN HSU Eka mengatakan untuk pemenuhan menu kadang SPPG juga bekerjasama dengan UMKM yang menyedikan menu sesuai dengan rencana menu harian.
“Kami diperbolehkan bekerjasama dengan UMKM yang sudah memiliki izin, dan misalnya untuk menu roti dari UMKM lokal, kami tetap berusaha membuat makanan olahan, kerjasama dengan UMKM tidak setiap hari,” ujarnya.
Anggaran untuk makanan porsi kecil adalah Rp 13 ribu dikurang untuk SPPG Rp 3 ribu dan insentif mitra Rp 2 ribu sehingga untuk makanan anggarannya Rp 8 ribu. Sedangkan untuk porsi besar dengan anggaran Rp 15 ribu untuk SPPG dan mitra tersisa Rp 10 ribu untuk makanan.
Eka mengaku pihaknya juga melakukan trial menu untuk menemukan makanan yang tepat untuk ketahanan dan keseimbangan kandungan gizi sesuai dengan kebutuhan gizi harian.
Eka menambahkan saat ini masih terus mengutamakan untuk makanan olahan yang memiliki ketahanan cukup lama.
Pendistribusian MBG dilakukan seperti biasa, untuk jenjang Taman Kanak Kanak (TK) diserahkan setiap hari senin dan kamis. Sedangkan untuk SD, SMP dan SMA sederajat dibagikan ke sekolah seperti biasa.
Pembagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 1447 Hijriah memunculkan beragam respons di Kota Banjarmasin.
Makanan kering untuk berbuka puasa dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi sebagian penerima manfaat.
“Sudah jalan sejak Senin (23/2). Selasa (24/2) ini menunya telur rebus, buah, kurma dan bolu kukus,” kata Kepala SMAN 5, Mukhlis Takwin.
Ia mengakui antusiasme siswa terlihat menurun dibanding hari biasa.
“Menurut saya MBG di bulan Ramadan ini sebaiknya ditiadakan dulu. Saya melihat dalam dua hari ini anak-anak tidak terlalu antusias menerima. Bahkan dari pengakuan siswa, ada yang memberikannya lagi ke orang lain,” ungkapnya.
Jika program tetap dijalankan selama Ramadan, dia menyarankan menu disesuaikan dengan selera anak-anak untuk berbuka puasa serta mempertimbangkan daya tahan makanan hingga waktu magrib.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan kian menjadi sorotan tajam dari masyarakat umum.
Setelah sebelumnya viral menu berupa roti, susu, dan pisang mentah, kini muncul temuan yang lebih memprihatinkan yakni roti yang sudah menghitam, telur diduga busuk, hingga paket makanan tanpa minuman.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah orang tua dan pelajar yang kemudian membagikan kondisi makanan melalui media sosial.
Unggahan itu langsung menuai reaksi keras dari masyarakat yang mempertanyakan kualitas serta pengawasan dari pengelola Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG).
“Anak kami dapat roti yang sudah menghitam, telurnya bau. Bahkan ada yang tidak dapat minuman sama sekali. Ini kan untuk anak sekolah,” ujar salah satu orang tua siswa yang tak ingin disebutkan namanya.
(Banjarmasinpost.co.id)