Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Suasana pagi di Desa Padang Betuah, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu tampak berbeda pada Rabu (26/2/2026).
Sejumlah warga dan tokoh masyarakat telah berkumpul sejak pagi di sekitar Masjid Padang Betuah untuk menyambut kedatangan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Sekitar pukul 09.00 WIB, iring-iringan kendaraan hitam memasuki kawasan masjid.
Fadli Zon turun dari mobil dan langsung disambut Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Bupati Bengkulu Tengah, serta tokoh masyarakat setempat.
Mengenakan batik dan peci hitam, ia tampak berbincang singkat sebelum bersama rombongan memasuki masjid.
Di dalam bangunan yang didominasi warna biru pada dinding dan tiang penyangga tersebut, kegiatan seremonial digelar secara sederhana.
Fadli Zon berdiri di atas karpet merah bermotif dan menyampaikan sambutan di hadapan tamu undangan yang duduk bersila mengikuti rangkaian acara dengan khidmat.
Dorong Percepatan Status Cagar Budaya
Dalam sambutannya, Fadli mendorong percepatan penetapan Masjid Padang Betuah sebagai cagar budaya tingkat provinsi sebelum diproses menjadi cagar budaya tingkat nasional.
“Kita menghargai jejak-jejak sejarah, perjalanan dari para pendahulu kita,” ujar Fadli Zon.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat 313 cagar budaya tingkat nasional, sementara di tingkat provinsi dan kabupaten jumlahnya lebih banyak lagi.
“Kita sedang berakselerasi untuk memperbanyak cagar budaya di tingkat nasional agar bisa memberikan perlindungan yang lebih kuat,” katanya.
Fadli juga memaparkan bahwa pada 2025 lalu pemerintah telah melakukan pemugaran terhadap 152 cagar budaya dan jumlah tersebut akan ditingkatkan pada tahun ini.
“Tahun 2025 kita melakukan pemugaran 152, tahun ini akan lebih banyak lagi. Kita harapkan ini menjadi upaya kita untuk melestarikan cagar budaya yang bisa dimanfaatkan dan dikembangkan,” jelasnya.
Nilai Sejarah Masjid Padang Betuah
Sebelumnya, Fadli telah meninjau sejumlah situs bersejarah di Bengkulu seperti Fort Marlborough, Masjid Jamik Bengkulu, serta Rumah Pengasingan Bung Karno.
Menurutnya, pembangunan Masjid Padang Betuah yang diperkirakan berasal dari era 1800-an menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.
“Kalau 100–200 tahun itu masih terbilang muda, mengingat sejarah panjang kita. Kita punya cagar budaya dari jutaan tahun hingga ratusan tahun. Sehingga sangat perlu dijaga dengan baik,” ujarnya.
Fadli menilai Masjid Padang Betuah memiliki nilai narasi sejarah yang kuat meski tampak sederhana secara fisik.
“Masjid Padang Betuah ini memang kelihatan sederhana, tetapi ceritanya panjang. Ini lah yang akan membawanya menjadi destinasi. Dari cerita itu akan memberikan pembelajaran, literasi dan narasi,” katanya.
Pelestarian Tanggung Jawab Bersama
Ia menekankan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah pusat, melainkan tanggung jawab bersama lintas sektor.
“Tugas ini harus menjadi tugas bersama, multi sektoral, multi layer dari pemerintah pusat hingga pemerintah desa. Melibatkan komunitas, swasta dan tokoh masyarakat,” tegasnya.
Fadli berharap pasca pemugaran, status masjid dapat segera ditingkatkan menjadi cagar budaya tingkat provinsi.
“Kita berharap, pasca pemugaran Masjid Padang Betuah, bisa menjadi cagar budaya tingkat provinsi. Mohon Pak Sekda dipercepat, agar nanti bisa kita proses menjadi cagar budaya tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, potensi budaya di Bengkulu sangat besar dan perlu terus dipromosikan agar tetap terpelihara dengan baik.
“Masyarakat bisa menjadikan tempat ini sebagai heritage yang harus kita lindungi dan kita rawat,” tutupnya.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini