TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Satu keluarga yang tinggal di dekat Musala Adzikri, di Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mulai mempersiapkan kebutuhan untuk mengungsi apabila terjadi erosi.
Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi, pascaambrolnya Musala Adzikri yang terjadi pada Selasa (24/5/2026) lalu.
Asrofi (60), salah satunya, warga setempat yang mengaku waswas.
Pasalnya, sebagian Musala Adzikri yang berada tepat di belakang rumahnya ambrol usai tebing mengalami erosi atau terkikis aliran Sungai Oya pada Selasa (24/2/2026) malam.
"Waswas itu pasti. Apalagi nanti kalau ada hujan terus ada angin dan banjir itu bagi kami yang ada di lingkungan dan sangat dekat dengan lokasi bencana ini sangatlah khawatir. Ini kan hujannya masih terus," katanya, saat dijumpai awak media di rumahnya, Kamis (26/2/2026).
Ia mengaku ingin pindah sementara atau mengungsi.
Namun, dikarenakan lokasi tempat tinggalnya dianggap masih aman dan jauh dari kejadian tebing erosi, maka sementara ini Ia bersama keluarganya memilih bertahan.
"Tapi, kalau nanti terus aja (tebing erosi) ya terpaksa harus keluar atau mungkin ngungsi begitu. Ngungsi paling yang aman di sebelah wetan (timur) sana deket Batu Gede, di Ngeposari (ada tempat tinggal saudara kosong yang bisa dipakai sementara) atau nanti di tempat anak saya yang ada di atas," jelas dia.
Disampaikannya, sejumlah barang perlengkapan kebutuhan memasak sudah mulai ia kumpulkan dan siap diangkut apabila sewaktu-waktu terjadi bencana erosi susulan tinggal dibawa ke tempat rumah pengungsian.
Baca juga: Detik-detik Jemaah Berlarian Selamatkan Diri Saat Musala Adzikri Ambrol Tergerus Erosi Sungai Oya
Lebih lanjut, Asrofi menceritakan bahwa dirinya sempat mendengar suara gemuruh saat musala yang berada tepat di belakang rumahnya itu ambrol.
Pada hari kejadian, ia dan sejumlah warga sedang melaksanakan Salat Isya dan akan melanjutkan Salat Tarawih.
"Waktu mau tarawih itu 'tuooor' (suara musala ambrol). Terus jemaah minta pindah. Jadi, kami pindah ke sini (teras rumahnya untuk melaksanakan salat tarawih. Kalau malam tadi, kami salat di rumah (kosong) kakak saya," ucap dia.
Asrofi menyampaikan bahwa musala itu dibangun di atas tanahnya pada tahun 2014 dengan dana swadaya masyarakat.
Dulu, jarak musala dan tebing Sungai Oya cukup jauh sekitar 20 meter.
Namun ternyata dalam perkembangannya, tebing itu terus terkikis hingga mengenai sebagian bangunan musala.
"Kemarin juga di situ rindang. Ada pohon-pohon. Pohon jati sama mahoni. Karena banjir terus longsor, jadi ada (pohon) yang ikut hanyut air (di Sungai Oya) ada yang dipotong dan dijual. Jadi, kalau sekarang jarak rumah saya ke tebing 10 meter aja enggak sampai," tuturnya.
Nurmiyati (30), warga lainnya, mengaku sedang ikut salat Isya di musala itu.
Selepas salat Isya, tiba-tiba ia mendengar suara 'gemetlok' dan jemaah lari keluar musala serta melanjutkan salat Isya di teras rumah tetangganya.
"Kemarin di teras. Kalau semalam di rumah kosong, tempat saudara ini (Pak Asrofi). Jaraknya enggak jauh, cuma sekitar 200-an meter. Jadi ini (musala Adzikri) sudah dua hari tidak dipakai, karena ambrol. Tapi, biasanya dipakai tarawih (oleh masyarakat setempat)," ucap dia.
Baca juga: Sedang Dipakai Tarawih, Musala Adzikri Wunut Ambrol, Jemaah Berlarian Selamatkan Diri
Nur menyampaikan bahwa pada siang hari sebelumnya tanah di sekitar Musala Adzikri sudah retak.
Masyarakat pun sempat menurunkan genteng musala dikarenakan khawatir akan ambrol.
"Siangnya genteng diturunkan, malamnya buat salat Isya kok suaranya kayak gini. Selesai salat Isya orang langsung pada lari semua, takut. Sudah salat terus kok ambrol," papar dia.
Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, berujar, saat kejadian musala sedang dipergunakan untuk salat tarawih oleh sejumlah warga setempat.
Namun, usai salat Isya, jemaah mendengar suara gemuruh sehingga bergegas lari meninggalkan musala.
"Itu musala kecil. Paling sekitar 50-an jemaah yang menggunakan tempat ibadah itu. Jadi, saat ini musala tidak bisa digunakan sebagai tempat tarawih, tetapi nanti jemaah salat tarawih di Kedungmiri di sebelah barat," katanya.
Disampaikan Titik, hampir sepertiga Musala Adzikri ambrol dikarenakan terkena erosi, sehingga belum ada rencana dilakukan perbaikan.
Apalagi, musala itu dekat dengan permukiman warga setempat.
"Ada satu rumah yang jaraknya sekitar lima meter dari musala itu. Rumah itu di sebelah utara musala, tetapi relatif lebih aman. Jadi, rumah itu masih ditempati sama penghuninya," ucap dia.
Kendati begitu, pihaknya akan melakukan kajian mendalam untuk mengetahui kondisi tanah di lokasi kejadian.
Sebab, kata Titik, kondisi tanah di lokasi itu mirip dengan kejadian tanah longsor yang memutus jalan di dekat desa wisata Srikeminut.
"Di lokasi itu sekitar lima KK, sehingga masih dilakukan pendalaman. Jadi, masih dalam kajian kita. Kalau misalnya memang membahayakan, akan kami upayakan untuk dilakukan evakuasi. Yang jelas, lokasi itu juga tidak menjadi tempat bermain anak, sehingga aman," jelas Titik.
Pihaknya pun mengimbau kepada masyarakat untuk tetap berhati-hati dan segera melapor pemerintah kalurahan sempat apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
Selain itu, pihaknya juga sedang mempersiapkan surat tembusan ke Pemerintah Kabupaten Bantul dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak terkait kejadian itu.
Terpisah, Kepala Pelaksan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Mujahid Amruddin, memastikan tidak ada korban jiwa akibat kejadian itu.
"Awalnya letak musala tersebut jaraknya lebih dari dua meter dengan bibir Sungai Oya, namun semakin lama dekat dengan titik terluar longsoran tebing, dikarenakan terus tergerusnya aliran Sungai Oya ketika diguyur hujan," jelasnya.
Dari hasil pantauannya pada sehari yang lalu, jarak musala dari bibir sungai masih sekitar dua meter.
Adapun hasil asesmen sementara, kata Mujahid, tebing longsor Sungai Oya tersebut diperkirakan memiliki ketinggian mencapai dua sampai tiga meter, sementara lebarnya mencapai 100 meter.
"Tetapi kejadian longsor di Sungai Oya tidak seketika, namun sejak November sampai sekarang ini kan hujan terus terusan, dan terjadi bencana hidrometeorologi," tandasnya.(*/nei)