Mutiara Ramadhan: Menyempurnakan Hubungan Sesama Manusia
Adhinata Kusuma February 26, 2026 02:14 PM

Drs H Anwar Sadat, M.Ag

Bupati Tanjung Jabung Barat 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahi wahdah.
Wassalamu alaihi rasulullah Muhammad ibnu abdillah,
wa ala alihi wa ashabihi wa mawalah.
La haula wala quwata illa billah amma badu.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu kemudian diajarkan beliau kepada para sahabat, lalu diajarkan lagi kepada berikut berikutnya, sampailah pada ulama-ulama kita.

Salah satu pengajaran yang diberikan oleh rasulullah kepada ulama-ulama kita, dan lalu kemudian ulama-ulama kita itu menyampaikan kepada kita semua, salah satu yang disampaikan oleh para hukama kepada kita adalah ada 4 perkara yang menjadi penyebab sehingga seseorang itu diangkat oleh Allah derajatnya kepada derajat yang paling tinggi, derajatul abdi, diangkat oleh Allah derajat seorang hamba dengan derajat yang tinggi.

Salah satunya adalah karena al-hilm.

Hilm artinya orang yang bijak, orang yang penyantun.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta'ala menisbahkan namanya dengan Al-Halim, penyantun.
Kalau kita sebagai hambanya maka disebut Abdul Halim.

Kaum muslimin rahimakumullah, orang-orang yang penyantun, orang-orang yang bijak adalah orang-orang yang patut kita segani, orang-orang yang harus kita jadikan patronasi dalam kehidupan.

Kita malu melihat orang-orang yang penyantun, maka nabi mengingatkan kepada kita nanti akan datang satu zaman yang dia tidak punya rasa malu terhadap orang yang memiliki sifat penyantun.

Maka apabila ada orang yang memiliki sifat penyantun, orang-orang yang bijak, maka itulah tanda sifat bahwa orang itu akan diangkat oleh Allah ke derajat yang paling tinggi.

Lalu yang ke-2 adalah sifat tawaduk.

Orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang selalu tidak menyombongkan dirinya, baik dengan pangkat dan jabatan, harta, ataupun ilmu pengetahuan yang dia miliki.

Tetapi semakin dia banyak dianugerahkan oleh Allah, lalu dia semakin rendah hati dalam hidupnya.

Maka orang yang memiliki sifat tawadu ini adalah orang yang menjadi penyebab Allah angkatkan derajatnya di derajat yang paling tinggi di antara hamba-hambanya.

Kaum muslimin, para pemirsa rahimakumullah, lalu yang ke-3 adalah asaha. Asaha ini adalah orang-orang yang dermawan, orang-orang yang pemurah. 

Rasulullah sering mengingatkan kepada kita bahwa orang-orang yang dermawan adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, orang-orang yang dekat dengan manusia, orang-orang yang dekat dengan surga, jauh dari api neraka.

Orang-orang yang pemurah adalah orang-orang yang selalu memiliki rasa kesetiaan, kawanan sosial yang tinggi, berbela hati, memiliki sense of responsibility, rasa tanggung-jawab atas nikmat yang Allah kasih, lalu kemudian dia bisa memanfaatkan harta kekayaannya bagi banyak masyarakat.

Lalu yang terakhir orang yang akhlaknya baik, baik tutur kata, tindakan, perilaku, dan sebagainya, menunjukkan kebaikan-kebaikan.

Maka orang-orang yang memiliki 4 sifat inilah yang menjadi sebab Allah angkat derajatnya pada derajat yang lebih tinggi, baik kehidupannya di atas dunia maupun kehidupannya di akhirat kelak.

Setiap kita menginginkan kebaikan, dan semua orang punya cita-cita ingin menjadi baik, tapi dalam perjalanan apa yang diinginkan ternyata tidak berbanding lurus.

Salah satu, seperti apa yang diuntai diuntaikan oleh para hukama kita, kalau bukan karena 5 persoalan, maka orang-orang itu akan menjadi orang-orang yang baik semua.

Yang pertama adalah Al-Qanaah bil Jahli.

Orang yang merasa puas dengan kebodohan sehingga dia tidak mau menuntut ilmu pengetahuan.

Apa yang dia dapatkan selama ini menjadi sesuatu yang sudah memuaskan dirinya.

Sehingga dia hidup dalam kebodohan, tidak mau untuk menambah wawasan, menuntut ilmu, dan sebagainya.

Sehingga merasa cukup dengan apa yang dia miliki. Inilah yang menyebabkan seseorang itu kemudian tidak menjadi baik.

Lalu yang ke-2 orang yang terlalu serakah.

Hidupnya di atas dunia sehingga dia lupa bahwa dunia ini adalah tempatnya bercocok tanam, tempatnya untuk mencari bekal bagi kehidupan mereka nanti di akhirat.

Oleh karena itu apabila sifat ini dimiliki oleh seseorang maka sulit orang itu akan menjadi orang yang baik.

Kaum muslimin rahimakumullah, yang ke-3 orang yang kikil terhadap anugerah.

Karunia yang diberikan oleh Allah kepada mereka, kenikmatan berupa harta yang telah Allah limpahkan kepada dirinya, lalu tidak menjadikan dia menjadi orang yang pemurah.

 Padahal itu adalah kesempatan baginya untuk menjadikan dirinya sebagai hamba yang baik, hamba yang saleh di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala.

Kaum muslimin rahimakumullah, lalu yang ke-4 adalah Arya fil amal.

Orang yang selalu pamer, yang selalu minta lihat orang lain ketika dia melakukan amal-amal baik, amal-amal saleh, baik amal yang berkaitan dengan hubungan kepada Allah secara langsung maupun amal-amal yang berkaitan dengan kehidupan sosial.

Orang yang selalu ingin disebut adalah orang-orang yang riak terhadap amalnya.

Sehingga tidak cukup dengan penglihatan Allah subhanahu wa ta'ala. Maka ini menjadi penghalang untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang saleh.

Lalu yang ke-5 ialah Wal ajab. Orang yang selalu merasa benar, yang selalu menganggap dirinya yang baik sehingga semua orang dianggap tidak baik dan tidak benar. 

Nah orang seperti ini adalah orang-orang yang egois, orang-orang yang hidupnya egois sehingga menganggap bahwa dirinya adalah sesuatu yang benar, yang tidak pernah salah, dan melihat orang lain semua salah dan tidak benar.

Inilah salah satu sifat yang apabila ada dalam diri seseorang maka sulit orang itu akan menjadi orang yang saleh di antara kita.

Yang terakhir kata Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang selalu menganggap bahwa segala-galanya adalah tergantung dengan dirinya.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada kita semua. Amin.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.