TRIBUNKALTARA.COM - Mengenal sosok Prof. Dr. Rusydi Sulaiman, M.Ag, seorang Guru Besar IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Perjalanan hidup Prof. Dr. Rusydi Sulaiman membuktikan bahwa ketekunan, disiplin, kecintaan pada ilmu, serta kepatuhan kepada guru dan orang tua adalah fondasi utama kesuksesan.
Dari seorang bayi prematur di Pangkalpinang, ia tumbuh menjadi Guru Besar yang konsisten berkarya dan menginspirasi.
Prof Rusydi memang lahir dalam kondisi prematur dengan berat badan 1,7 kilogram.
Ia dilahirkan di Pangkalpinang, tepatnya di lingkungan Dinas Kesehatan Tentara (DKT), tempat orang tuanya bekerja.
Baca juga: Abah Jimmy Nasroen Rintis Pondok Pesantren Sekaligus Bangun Peradaban Kecil di Tanjung Selor
Meski lahir dalam kondisi fisik yang tidak ideal, perjalanan hidupnya justru menunjukkan keteguhan, ketekunan, dan semangat belajar yang luar biasa.
Ia berasal dari keluarga yang memiliki akar kuat dalam tradisi keagamaan. Keluarganya berasal dari Desa Kemuja, Bangka.
Dari garis keturunan ayah, terdapat jejak sejarah keluarga yang pernah lama menetap di Mekkah.
Kakek dan beberapa pamannya lahir di Tanah Suci dan menjalani tradisi “naun”, yakni bermukim lama di Mekkah selepas menunaikan ibadah haji.
Tradisi keilmuan dan spiritual inilah yang menjadi fondasi pembentukan karakter Rusydi kecil.
Pendidikan dasar Prof Rusydi Sulaiman ditempuh di SDN 1 Pangkalpinang.
Sejak kecil, ia telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari orang tuanya.
Pada sore hari, ia melanjutkan belajar di sekolah Arab Al-Hidayah Al-Islamiyah yang berada di sekitar Masjid Permuthi Pangkalpinang.
Pada usia 12 tahun, tepatnya tahun 1979, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Darussalam Gontor.
Di Gontor, kecintaannya terhadap bahasa mulai tumbuh.
Awalnya Prof Rusydi mengaku sempat takut dengan bahasa Inggris.
Namun lingkungan pesantren justru membentuk Prof Rusydi menjadi santri yang unggul dalam bahasa.
Ia aktif mengikuti lomba pidato bahasa Arab dan bahasa Inggris, bahkan meraih juara dalam kompetisi pidato bahasa Inggris tingkat pondok.
Ia kemudian dipercaya menjadi bagian dari Divisi Penerangan Pondok, yang menuntut kemampuan menyampaikan pengumuman resmi dalam bahasa Arab dan Inggris di hadapan ribuan santri.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Gontor dan menjalani masa pengabdian mengajar, ia melanjutkan studi di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo pada 1987.
Di sana ia kuliah di Fakultas Dakwah jurusan Bimbingan Penyuluhan Masyarakat.
Selain menjadi mahasiswa berprestasi, ia juga aktif mengajar bahasa Inggris, bahasa Arab, bahkan bahasa Jerman.
Ia dipercaya menjadi Wakil Direktur Lembaga Pengembangan Bahasa Asing dan mengajar senior-seniornya sendiri.
Ia menyelesaikan studi S1 dalam waktu tiga tahun tujuh bulan dan langsung diangkat menjadi dosen.
Semangat akademiknya terus berlanjut.
Ia melanjutkan S2 dan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan beasiswa penuh.
Selama studi doktoral yang ditempuh selama tujuh tahun, ia aktif menulis, menerjemahkan buku, serta membangun jaringan akademik nasional dan internasional.
Kecintaannya terhadap dunia internasional membawanya mengikuti berbagai program akademik luar negeri.
Ia pernah mengikuti program di Hawai University dan mengunjungi sejumlah pusat studi agama di Amerika Serikat, termasuk sekolah publik ternama di New York.
Baginya, keterbatasan finansial bukan penghalang untuk menembus dunia global.
Karier akademiknya dimulai sebagai dosen PNS yang ditempatkan di STAIN Bengkulu.
Di sana ia dipercaya menjadi Ketua Panitia Pendirian Program Pascasarjana.
Namun pada tahun 2011, atas persetujuan Menteri Agama, ia kembali ke Bangka Belitung dan mengabdi di IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung.
Sebagai akademisi, ia dikenal sangat produktif menulis.
Sejak muda ia membiasakan diri menulis diary dan karya ilmiah.
Ia juga menulis sejumlah buku akademik dan menjadi reviewer jurnal nasional maupun internasional.
Baginya, waktu tidak boleh kosong; setiap hari harus diisi dengan karya dan manfaat.
Selain menjadi Guru Besar dan dosen S1, S2, serta pengajar S3 di luar daerah, ia aktif di berbagai organisasi.
Di antaranya Dewan Masjid Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), MUI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Lembaga Adat Melayu, hingga Badan Penasihatan Perkawinan di lingkungan Kementerian Agama.
Dalam pandangannya, modernitas dan digitalisasi bukanlah ancaman, melainkan sarana. Ia menegaskan bahwa teknologi boleh diadopsi, namun nilai dan akar tradisi harus tetap dijaga.
Prinsip yang ia pegang adalah memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik.
Momentum Ramadan, menurutnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperkuat kepribadian dan pengendalian diri.
Ia menekankan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (*)