Dipicu Masalah Sepele, Adik di Jakarta Utara Pukul Kakak Pakai Palu Hingga Tewas
Abd Rahman February 26, 2026 04:03 PM


TRIBUN-SULBAR.COM- Seorang remaja berinisial MAH (16) diduga menganiaya kakak kandungnya, MAR (21), hingga meninggal dunia di rumah mereka di Kelapa Gading Utara, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.

Peristiwa tragis tersebut diduga dipicu persoalan keluarga yang telah berlangsung cukup lama dan minim komunikasi antara keduanya.

Kepala Satuan PPA-PPO Polres Metro Jakarta Utara, Komisaris Polisi Ni Luh Sri Arsini, mengatakan hubungan kakak d

Baca juga: Besok Jumat , Zodiak Aries Rentan Sakit Kepala, Gemini Diminta Jaga Imunitas

Baca juga: Eks Bendahara Dinkes Polman Korupsi Rp2,1 Miliar, Divonis Hakim 10 Tahun Penjara

“Ada masalah-masalah sebelumnya yang terpendam antara kakak dan adik. Komunikasinya kurang baik, si adik cenderung pendiam,” ujar Arsini, Kamis (26/2/2026).

Dipicu Teguran Soal Barang

Menurut keterangan polisi, insiden bermula ketika korban menaruh perlengkapan mandi miliknya di kamar pelaku. Ibu mereka sempat menegur agar barang tersebut dipindahkan.

Respons korban saat ditegur disebut memicu emosi pelaku.

“Ketika ditegur ibunya, respons korban dianggap kurang menyenangkan oleh pelaku,” kata Arsini.

Dalam kondisi tersulut emosi, pelaku diduga mengambil palu dari dapur dan menyerang korban yang saat itu tengah memberi makan hewan peliharaan. Korban mengalami luka serius dan dinyatakan meninggal dunia.

Ibu Bantah Tudingan Pilih Kasih

Ibu korban dan pelaku, Nurul Arifah, membantah anggapan bahwa peristiwa tersebut dipicu perlakuan berbeda terhadap kedua anaknya. Ia menegaskan, insiden itu berakar pada persoalan keluarga dan miskomunikasi yang telah lama terjadi.

Menurut Nurul, dinamika keluarga berubah sejak ia berpisah dengan ayah anak-anaknya sekitar satu tahun lalu. Dalam tujuh bulan terakhir, ia mengaku komunikasi dengan mantan suaminya terputus.

“Anak ini merasa kehilangan figur ayah. Akses komunikasi terblokir dan tidak bertemu. Emosinya jadi lebih mudah terpancing,” ujar Nurul.

Ia mengatakan, sejak konflik keluarga terjadi, pelaku kerap menunjukkan emosi berlebih ketika menghadapi persoalan kecil di rumah.

Pada hari kejadian, situasi disebut berlangsung cepat sehingga ia tidak sempat mencegah pertikaian yang berujung fatal tersebut.

“Dia mengaku khilaf dan tidak sadar. Kejadiannya sangat cepat,” katanya.

Soal Perhatian dan Biaya Pendidikan

Nurul juga membantah tudingan adanya perlakuan tidak adil. Ia menjelaskan lebih sering mendampingi pelaku karena kondisi kesehatan anak tersebut.

Pelaku disebut memiliki riwayat gangguan asam lambung dan infeksi bakteri Helicobacter pylori sehingga harus menjalani pengobatan rutin di sejumlah rumah sakit di Jakarta.

Sementara itu, korban yang telah berkuliah lebih banyak beraktivitas di luar rumah.

“Kalau kakaknya sudah kuliah dan aktif organisasi. Saya tetap memberi uang sesuai kebutuhannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, perbedaan nominal uang yang diberikan semata-mata karena kebutuhan yang berbeda.

Meski pelaku masih duduk di bangku SMP, ia telah menyiapkan tabungan khusus untuknya.

“Keduanya saya perlakukan adil. Tidak benar jika disebut pilih kasih,” kata Nurul.

Jalani Pemeriksaan Kejiwaan

Hingga kini, penyidik masih mendalami kasus tersebut. Polisi juga menjadwalkan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku atas permintaan keluarga.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologis pelaku, sementara proses hukum tetap berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.