Kisah Dosen Polinef Dirikan Kedai Kopi Sierra di Kampung Tanama Fakfak 
Hans Arnold Kapisa February 26, 2026 05:44 PM

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Kisah inspiratif datang dari Kampung Tanama, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak.

Seorang dosen Politeknik Negeri Fakfak (Polinef), Wahyudin Abdullah, "banting setir" membuka usaha kedai kopi bernama Kedai Kopi Sierra di kampung halamannya.

Nama Sierra sendiri diambil dari bahasa Spanyol yang berarti “rangkaian gunung”.

Wahyudin menuturkan, kecintaannya terhadap kopi sudah tumbuh sejak masa kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Background saya memang pecinta kopi, passion dari zaman kuliah, bahkan sudah bergabung komunitas kopi,” ujarnya kepada Tribunpapuabarat.com di Fakfak, Kamis (26/2/2026).

Berbekal pengalaman kursus profesional dan dukungan keluarga, Wahyudin menyulap sebagian rumahnya menjadi kedai kopi.

“Selain ingin nongkrong sambil ngopi tapi tetap dekat keluarga, saya juga melihat peluang usaha di Kampung Tanama,” katanya.

Kedai Kopi Sierra resmi dibuka pada 19 Januari 2026.

Baca juga: Kisah Sukses Pasutri di Fakfak: Dari Bengkel ke Resto Hits "Koeltura"

Lokasinya strategis, menjadi kedai kopi pertama yang ditemui pengunjung dari arah Bandar Udara Siboru menuju kawasan Tanama–Torea.

Konsep yang diusung adalah nuansa tenang dengan desain minimalis, ornamen lampu, hiasan dinding, dan tanaman yang memberi kesan homie.

Menu kopi yang ditawarkan antara lain Americano, Café Latte, Cappuccino, hingga Dirty Latte, semuanya berbahan dasar full arabica. Selain itu, tersedia menu makanan seperti mie titi, nasi goreng, mie, dan aneka kue.

Ke depan, Wahyudin berencana memperluas area kedai dengan menambah ruang semi outdoor di lantai atas agar pengunjung bisa menikmati pemandangan laut Fakfak.

“Kalau dari atas, view-nya langsung menghadap laut,” tuturnya.

Baca juga: Kisah Inspiratif Aldi Sama, Jadi Tukang Ojek untuk Bisa Kuliah

Lulusan Sarjana Komputer ini berharap kehadiran kedai kopi dapat mendorong ekosistem kopi di Fakfak, termasuk memberi dampak positif bagi petani kopi lokal.

Ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat tentang kopi asli dan segar, bukan sekadar kopi instan sachet.

“Kalau pecinta kopi dan pelaku bisnis bersatu, suaranya lebih kencang dan lebih didengar,” ujarnya.

Wahyudin juga merindukan adanya Festival Kopi di Fakfak sebagai ajang edukasi, promosi, sekaligus penggerak UMKM lokal.

“Dengan begitu, ada transfer knowledge, ekonomi daerah juga bisa lebih berputar,” harapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.