TRIBUNBANYUMAS.COM, SALATIGA- Di kawasan kantor Satlantas Polres Salatiga, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang perjalanan waktu.
Dindingnya kokoh, nuansa kolonial sangat terasa. Bangunan itu adalah Fort De Hock, yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya sekaligus menjadi Museum Polres Salatiga.
Di dalam museum itu, arsip-arsip tersusun rapi, foto-foto dokumentasi terpajang dalam bingkai waktu, dan perlengkapan kepolisian dari masa ke masa menjadi saksi bisu perubahan.
Seragam lama dengan potongan khas era terdahulu, mesin ketik yang pernah menjadi alat utama laporan, hingga dokumentasi kegiatan pengamanan bertahun-tahun silam.
Semuanya seperti mengajak pengunjung menengok kembali jejak pengabdian.
Menurut cerita sejarah, Bangunan Fort De Hock Salatiga didirkan oleh VOC pada tahun 1746. Saat itu, bangunan berupa benteng ini dibangun sebagai sarana pertahanan militer untuk mengawasi gerakan pasukan pemberontakan terhadap pemerintah Belanda.
Saat ini, bangunan tersebut merupakan bagian dari kantor Satlantas Polres Salatiga yang disulap menjadi museum.
"Kami mendirikan dan merenovasi kembali gedung ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Gedung ini sudah menjadi cagar budaya, sehingga perawatannya juga dilakukan dengan memperhatikan nilai historisnya," tutur Kapolres Salatiga, AKBP Ade Papa Rihi, Kamis (26/2/2026).
AKBP Ade mengatakan, museum tersebut bukan ruang nostalgia. Ia menyebutnya sebagai ruang refleksi. Tempat belajar dari masa lalu untuk melangkah lebih profesional di masa depan.
Baca juga: Pelatih PSIS Andri Ramawi Anggap Perseteruan Pemain saat Latihan Hal Biasa
Melalui koleksi peralatan kepolisian dari masa ke masa, tulisan sejarah, serta arsip-arsip lama, pengunjung diajak memahami bagaimana institusi kepolisian berdiri dan berkembang hingga saat ini.
"Museum ini kami hadirkan sebagai pengingat bahwa Polri terus berproses, berbenah, dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Dari masa lalu kita belajar, untuk melangkah lebih profesional di masa depan," tuturnya.
Tak hanya soal perkembangan institusi Polri dari masa ke masa, Museum Polres Salatiga juga mengajak pengunjung mengetahui sejarah panjang Kota Salatiga. Sejumlah dokumentasi menceritakan sejarah Kota Salatiga mulai dari gedung wali kota, Alun-Alun Pancasila, dan beberapa tempat-tempat bersejarah di kota tersebut.
Sejak diresmikan pada 29 Desember 2025 lalu, museum ini telah dibuka untuk umum secara gratis. Kehadirannya bukan sekadar mempercantik bangunan lama, tetapi menjadi ruang belajar sejarah.
"Museum ini dibuka untuk umum, gratis sejak diresmikan oleh Kapolda pada 29 Desember 2025. Ini museum porles slaaitga. Kita dirikan, renovasi, gedung ini jadi gedung cagar budaya," tutur AKBP Ade.
Proses revitalisasi bangunan tidak dilakukan sembarangan. Polres Salatiga bekerja sama dengan para sejarawan dan dosen dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) untuk membangun kembali narasi sejarah yang akurat.
Kolaborasi ini bertujuan agar museum tidak hanya menjadi ruang pajang benda-benda lama, tetapi juga memiliki landasan akademik yang kuat. Setiap arsip, dokumen, dan koleksi yang dipamerkan ditelusuri sumbernya.
"Arsip-arsip kami banyak dapat dari perpustakaan atau dokumen-dokumen di Belanda. Sumbernya dari museum di Netherland," katanya.
Tak hanya untuk internal kepolisian, museum ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas. Museum Polres Salatiga ini terbuka bagi masyarakat, pelajar, hingga komunitas sejarah yang ingun berkunjung untuk mempelajari perjalanan panjang kepolisian dan sejarah Kota Salatiga.
Pihaknya membuka pintu lebar bagi sekolah-sekolah untuk memanfaatkan museum ini sebagai media pembelajaran di luar kelas.
"Kalau ingin mengajak anak-anak atau pelajar untuk belajar sejarah, bisa datang ke sini. Kami ingin tempat ini menjadi ruang edukasi," ucapnya.
Keberadaan museum ini mendapat respons positif dari warga yang berkunjung.
Seorang pengunjung asal Argomulyo, Yulianto (38) mengatakan, keberadaan Museum Polres Salatiga menjadi wadah edukasi tersendiri bagi warga.
"Saya baru tahu di Satlantas ini ada museum. Ini keren sekali. Tidak semua kota punya museum sejarah kepolisian seperti ini," ujarnya.
Dia berharap, museum tersebut terus dikembangkan, baik dari sisi koleksi maupun kegiatan edukatif.
"Semoga nanti ada tur khusus atau supaya pengunjung makin paham. Ini bisa jadi tempat belajar sejarah bagi anak-anak Salatiga," ucapnya. (eyf)