Penulis Naskah : Novianti, Mahasiswa Semester VI Fakultas Dakwah dan Komunikasi Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang
SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Jalan KH Azhari di kawasan Seberang Ulu menjadi salah satu ruas penting di Kota Palembang yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya.
Ruas jalan ini membentang sekitar lima kilometer, menghubungkan wilayah Kecamatan 3-4 Ulu hingga Tanggo Takat.
Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu perkampungan tua di Palembang yang telah berkembang sejak masa lampau.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jalan KH Azhari kerap mengalami kepadatan arus lalu lintas. Kondisi ini dipicu meningkatnya volume kendaraan yang dialihkan untuk menyeberangi Jembatan Musi 4, terutama pada jam sibuk.
Namun di balik dinamika lalu lintasnya, tidak banyak warga yang mengetahui sosok ulama besar yang namanya diabadikan sebagai nama jalan tersebut.
KH Azhari memiliki nama lengkap Kemas Haji Abdullah Azhari, dan dikenal pula dengan sebutan Kiai Pedatukan atau Ki Pedatukan.
Ia lahir di Kampung 12 Ulu pada 27 Sya’ban 1279 H atau 1862 M, dan wafat pada 1937 M.
Dalam silsilah keluarga, garis keturunannya disebut bersambung hingga Sunan Kudus melalui jalur berbeda.
Ayahnya, Kemas Haji Muhammad Azhari, juga merupakan ulama terkemuka yang pernah mengajar di Makkah serta dikenal produktif menulis karya keislaman.
Sejak kecil, KH Azhari telah mendapatkan pendidikan agama yang kuat. Pada usia 10 tahun, ia dibawa ke Makkah dan kemudian menetap selama kurang lebih 12 tahun untuk memperdalam ilmu agama.
Sepulang dari Makkah, ia membangun pusat dakwah di kampung halamannya di kawasan Seberang Ulu.
Lokasi tersebut kini masih dapat dikunjungi, meskipun bangunan aslinya sudah tidak digunakan. Di atasnya berdiri ruang salat yang dikenal sebagai ruang doa Ki Kemas Haji Abdullah Azhari.
Sebutan Pedatukan berasal dari gelar kehormatan “Datuk” yang diberikan masyarakat sebagai bentuk penghormatan.
Di tengah masyarakat berkembang sejumlah kisah tentang karisma dan keistimewaan KH Azhari. Salah satu cerita populer berkisah tentang pembangunan rumah dakwahnya.
Ketika tiang penyangga dianggap kurang panjang, ia memegang tiang tersebut dan berkata, “Sampai di sini.” Konon, setelah dipasang kembali, tiang tersebut mencukupi kebutuhan bangunan.
Kisah lain menyebutkan bahwa dalam sebuah acara besar, hanya satu wadah nasi yang dimasak untuk menjamu tamu.
Ia meyakinkan bahwa makanan tersebut akan cukup, dan menurut cerita yang berkembang, hidangan itu tidak habis meski tamu sangat banyak.
Untuk membedakan dengan ayahnya yang memiliki nama serupa, masyarakat mengenal sang ayah sebagai Ki Azhari Tuo (tua), sementara putranya disebut Ki Azhari Mudo (muda).
Selain berdakwah, KH Azhari juga dikenal produktif menulis. Sejumlah karya yang dinisbatkan kepadanya antara lain Aqa’id al-Iman, Badi’ az-Zaman, Taqwim al-Qiyam, Bidayah ar-Rahman, Bidayah al-‘Ilmiyyah, Risalah fi ‘Aqidah at-Tawhid li Ma’rifah, dan Manaqib Syekh Muhammad Samman.
Warisan keilmuan dan keteladanan inilah yang membuat namanya diabadikan sebagai nama jalan di kawasan 3-4 Ulu.
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas modern, Jalan KH Azhari menjadi pengingat akan jejak seorang ulama yang pernah menjadi cahaya dakwah di tepian Sungai Musi.