Pakar Kesehatan Masyarakat UMY Dorong Evaluasi Menu MBG Kering, Pastikan Kualitas Gizi Ideal
Joko Widiyarso February 26, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dr. Merita Arini, MMR menilai menu MBG kering selama Ramadan kurang memenuhi gizi seimbang. 

Beberapa paket MBG kering memang cukup memenuhi angka kecukupan energi, namun protein terbatas, dominan makanan manis atau berbasis tepung, kandungan lemak dan garam cukup tinggi.

Ada MBG yang memberikan roti, kacang bawang, kacang atom, telur asin, hingga keripik tempe. 

“Program ini kan dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi ya, tetapi kalau dengan menu seperti itu, belum bisa memenuhi gizi seimbang,” katanya, Kamis (26/2/2026). 

"Sebagian besar MBG kering berupa roti berbasis tepung atau karbohidrat sederhana. Memang praktis, umur simpan lebih lama, tapi dari perspektif gizi kurang ideal apabila terlalu dominan.

Ia menilai peran ahli gizi di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sangat penting dalam menyusun menu MBG. 

Menurut dia, ahli gizi juga perlu memadukan makanan tinggi natrium dengan makanan lain dalam satu paket MBG.

“Telur apapun itu kalau direbus saja nggak masalah, tetapi kalau berbentuk telur asin, tu kan kandungan natriumnya tinggi. Problemnya lagi nanti ada kacang bawang, keripik tempe, abon yang tinggi natrium, tinggi lemak. Perencanaan menu harus dievaluasi agar makanan tinggi natrium tidak berada dalam satu paket,” sambungnya.

MBG kering itu camilan 

Menurut Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY itu, MBG kering yang diberikan selama Ramadan seperti camilan atau makanan pendamping. 

Dengan demikian, perlu ada edukasi kepada keluarga penerima manfaat untuk menyediakan makanan sehat.

Jika MBG kering berkelanjutan, ia mendorong SPPG untuk berkolaborasi dengan UMKM sekitar yang bisa menyediakan menu dengan masa simpan lebih panjang.

“Kan ada UMKM yang bisa memasak daging atau sayuran yang di-vacum, tanpa pengawet. Nah, SPPG bisa berkolaborasi. Namun jika anggarannya tidak mencukupi, tentu SPPG juga harus mencari cara, mencari teknologi agar menu MBG ini tetap memenuhi gizi. Tentu ini hal yang harus dibicarakan oleh pemangku kebijakan di level atas,” terangnya.

“Atau misalnya fokus pada satu komponen gizi saja, misalnya protein. Misalnya diberikan telur rebus saja, atau mungkin MBG untuk satu minggu itu diganti dengan ayam utuh. Karena kan tidak semua masyarakat bisa membeli lauk berkualitas. Tentu ini butuh formulasi dan kajian dari pemangku kebijakan,” lanjutnya.

Merita mendorong adanya standar minimal MBG kering. Standar minimal tersebut mencakup target energi minimum, target protein minimum, minimal satu sumber protein berkualitas, minimal satu buah, dan komposisi seimbang.

Standar minimal ini penting untuk mengurangi kesenjangan mutu MBG antarwilayah. 

Tak hanya itu, paket MBG juga mestinya dilengkapi informasi sederhana terkait tanggal produksi, batas konsumsi, cara penyimpanan, serta anjuran kebersihan tangan sebelum mengonsumsi.

MBG kering perlu dievaluasi

Pelaksanaan MBG kering selama Ramadan juga perlu dievaluasi secara khusus, mengingat mekanisme distribusi yang berbeda. Evaluasi tersebut mencakup kualitas menu, keamanan pangan, konsumsi aktual anak, dan penerimaan menu.

Dari kacamata kesehatan publik, sinergi lintas sektor penting, baik dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan lain-lain. 

Sinergi hexahelix dibutuhkan untuk memperkuat kualitas MBG sebagai intervensi kesehatan masyrakat.

“Pelaksanaan MBG selama Ramadan menunjukkan bahwa program telah berupaya beradaptasi secara operasional, melalui pemberian makanan kemasan yang relatif praktis dan aman. Namun dari perspektif kesehatan masyarakat, tantangan utama MBG selama Ramadan bukan lagi pada distribusi makanan, tetapi pada konsistensi kualitas gizi dan keamanan pangan,” ujarnya.

“Keberhasilan MBG sebagai intervensi kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh jumlah paket yang dibagikan, tetapi sejauh mana paket tersebut benar-benar mampu mendukung pemenuhan gizi anak secara optimal. Keterlibatan lintas sektor harus terus didorong dan difasilitasi untuk memastikan MBG efektif dan berkesinambungan,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.