Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Ramadan 1447 Hijriah membawa berkah tersendiri bagi pasangan suami istri di Lingkungan Awirarangan, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis.
Sejak 1998, Yeni (53) dan Ade Suryaman (53) konsisten memproduksi kolang-kaling setiap bulan suci.
Usaha musiman itu menjadi penopang kebutuhan keluarga menjelang Idul Fitri.
Di halaman rumah sederhana mereka, Yeni tampak sedang membelah buah aren atau kawung yang telah direbus.
Sementara Ade mengangkat tandan buah aren hasil panen dari kebun sekitar rumah, lalu melepaskannya dari tangkai sebelum masuk tahap perebusan.
Baca juga: Adzan Subuh 9 Ramadan 1447 H/2026 Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Pangandaran, Banjar, dan Ciamis
“Alhamdulillah dari kolang-kaling ini bisa memenuhi kebutuhan dan bekal buat Lebaran, sekaligus sambil ngisi waktu ngabuburit,” ujar Yeni, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, usaha tersebut juga sempat memberdayakan warga sekitar.
Namun tahun ini hanya dua orang yang membantu karena bahan baku aren tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Ade mengungkapkan, pesanan kolang-kaling biasanya mulai ramai sejak sebulan sebelum Ramadan.
Permintaan datang dari pedagang di Pasar Manis Ciamis hingga pembeli yang mengolahnya menjadi campuran sirup dan minuman segar.
“Biasanya ramai di awal Ramadan, sempat turun di pertengahan karena stok pasar banyak, lalu naik lagi mendekati Lebaran,” katanya.
Untuk harga, kolang-kaling dijual Rp 8 ribu hingga Rp 9 ribu per kilogram untuk pembelian partai besar.
Sementara harga eceran mencapai Rp 10 ribu per kilogram.
Dalam sehari, mereka mampu memproduksi sekitar 20 kilogram kolang-kaling.
Jika dirata-rata selama 25 hari produksi dengan harga Rp 8.000 per kilogram, omzet kotor yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp 4 juta selama Ramadan.
Namun di balik ramainya pesanan, Ade mengaku khawatir dengan ketersediaan bahan baku.
Hingga hari keenam Ramadan, ia baru memanen tiga pohon aren dan memperkirakan masih ada enam pohon lagi yang bisa diolah.
“Sekarang agak sulit untuk bahan bakunya. Jadi tidak semua pesanan bisa terpenuhi,” ujarnya.
Soal buah aren yang dikenal bisa menyebabkan gatal, pasangan ini punya cara tersendiri untuk mengatasinya.
“Iya bisa bikin gatal, tapi kami sudah biasa. Biasanya pakai minyak kelapa, alhamdulillah aman,” ucap Ade.
Di luar Ramadan, Ade bekerja sebagai perajin gula aren, sementara Yeni mengelola warung kecil di rumahnya.
Bagi mereka, usaha kolang-kaling bukan sekadar bisnis musiman, melainkan tradisi keluarga yang terus bertahan selama hampir tiga dekade.(*)