Kamba Putar Lagu 'Darah Juang' untuk Bangunkan Warga Sahur 
M Syofri Kurniawan February 27, 2026 05:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - John Tobing, pencipta lagu legendaris "Darah Juang", tutup usia, pada Rabu (25/2/2026), di RSA UGM, Yogyakarta.

Jenazah John disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta dan akan dimakamkan, pada Sabtu (28/2/2026) besok.

Pada Kamis (26/2/2026) dini hari, Baharuddin Kamba berkeliling kampungnya.

Dia membangunkan warga sekitar tempat tinggalnya di Sariharjo, Ngaglik, Sleman, untuk sahur. 

Yang menarik, selama setengah jam berkeliling kampung, mulai dari pukul 03.00 hingga 03.30, Kamba tidak membawa beduk atau kentongan seperti lazimnya.

Dia menenteng speaker dan memutar lagu karya John Tobing, “Darah Juang”, melalui speaker itu.

Hal itu dilakukan Kamba, seorang aktivis di Sleman, sebagai bentuk penghormatan kepada John Tobing, selaku pencipta lagu ”Darah Juang”.

Sebagai sesama aktivis, Kamba mengaku berduka atas meninggalnya John Tobing.

Baginya karya dan semangat John tidak akan pernah padam. 

"Apalagi lagu ‘Darah Juang’ merupakan lagu wajib, yang setia menemani kalangan aktivis saat memperjuangkan reformasi tahun 1998 lalu,” kata Kamba, yang langsung ke RSA UGM, setelah mendengar kabar duka. 

“Hingga kini lagu tersebut masih menggema saat kalangan aktivis menggelar demontrasi," sambungnya. 

John Tobing meninggal dunia di RSA UGM, Sleman, pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45. 

Jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda, Arimatea, Yogyakarta, sejak Kamis, sebelum dimakamkan, pada Sabtu besok.

Sebelum pemakaman, pihak keluarga juga akan menggelar upacara adat Batak Toba, Martonggo Raja, pada Jumat (27/2/2026) hari ini.

Johnsony Maharsak Luman Tobing atau John Tobing lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965.

Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986 juga dikenal sebagai maestro perjuangan yang melahirkan himne abadi Gerakan Reformasi 1998. 

Kamba menyampaikan, langkahnya memutar lagu “Darah Juang” untuk membangunkan sahur, sebagai cara mengenang dedikasi John Tobing bagi perjuangan rakyat.

"Saya berharap meskipun raga John Tobing telah tiada, namun semangat memperjuangkan keadilan dan melawan kezaliman tak akan pernah mati," ucap. 

John Tobing menciptakan lagu “Darah Juang”, sekitar 1991-1992, di kontrakan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta.

Melodi lahir dari gitar akustiknya saat gelisah malam hari.

Lirik awal ditulis bersama Dadang Juliantara, mahasiswa Fakultas MIPA UGM, karena John kurang percaya diri menulis kata-kata.

Kemudian, lirik itu direvisi berkali-kali oleh teman-teman John, termasuk Budiman Sudjatmiko.

Idola 

Anak John Tobing, Gopas Kibar Syang Proudy (18), mengungkapkan kepergian ayahnya terjadi secara mendadak.

Keluarga tidak sempat mendampingi di detik-detik terakhir karena John dirawat di ruang ICU dan tidak bisa ditunggu. 

“Ini mendadak sih, sebetulnya. Memang kami dari keluarga itu pas sedang di rumah memang, karena di rumah sakit itu dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu,” ujar Gopas, saat ditemui di rumah duka, Kamis (26/2/2026). 

Bagi Gopas, lagu “Darah Juang” yang kerap dinyanyikan saat demonstrasi membuatnya semakin mengidolakan sang ayah.

“Jujur saya, saya sendiri sebagai anaknya, saya sangat menganggap ayah saya itu idola saya,” kata Gopas. 

“Saya baru sadar karena memang dia itu kalau di rumah tidak semenonjol itu, jadi seperti layaknya bapak-bapak biasa,” ungkapnya. 

Dia mengaku takjub, ketika rekan-rekan ayahnya datang ke rumah dan menyanyikan lagu ciptaan John Tobing.

“Saya takjubnya karena melihat kawan-kawan yang datang semuanya dengan lagu-lagu yang diciptakannya,” ujar dia. 

Menurut Gopas, semangat sang ayah tak pernah padam hingga akhir hayatnya sebagai aktivis yang memikirkan bangsa.

Gopas menuturkan, harapan almarhum adalah agar lagu-lagunya bisa dinyanyikan siapa saja tanpa mempersoalkan hak cipta.

“Memang untuk bangsa dan kalaupun dinyanyikan di mana pun, Bapak malah senang. Tidak perlu hak cipta segala macam karena dia ingin lagunya dikenal di semua penjuru Indonesia, bahkan mancanegara.

“Itu doang harapan dia. Lagunya dikenal dan dia juga mempunyai karya yang membekas,” imbuhnya. (Kompas.com/Tribun Jogja)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.