TRIBUNNEWS.COM - Khutbah Jumat, 27 Februari 2026, berjudul "Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital."
Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.
Pada kesempatan khutbah Jumat yang penuh berkah ini, khatib mengangkat tema penting yakni tentang bagaimana beretika di medsos selama bulan Ramadan.
Tema ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menjaga "lisan digital" baik dalam berntuk tulisan, komentar, emoji, dan unggahan yang dapat menyakiti orang lain.
Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat 27 Februari 2026:
Baca juga: 3 Teks Khutbah Jumat Awal Ramadhan 2026 dengan Berbagai Tema dan Judul
Jemaah salat Jum’at yang dicintai Allah Swt,
Saya berwasiat kepada diri saya dan jemaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan hanya terlihat dalam ibadah lahiriah, tetapi tercermin dari sikap mengendalikan diri saat tidak ada yang melihat termasuk saat kita berselancar di dunia maya.
Salah satu hikmah puasa adalah melatih muraqabah - مُرَاقَبَة atau merasa diawasi oleh Allah setiap saat. Saat kita sendirian, kita tidak makan dan minum karena yakin Allah mengawasi atau melihat amal perbuatan manusia. Tetapi pertanyaannya, apakah kesadaran itu juga hadir saat kita memegang gawai?
Seringkali kita sangat berhati-hati menjaga ucapan di mimbar, di majelis, atau di depan atasan. Tetapi ketika berada di balik layar, kita merasa bebas berkata apa saja. Padahal Allah tetap Maha Melihat dan Maha Mendengar.
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 14)
Rasulullah saw mengingatkan, bahwa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Mengapa? Karena lisannya tidak dijaga. Dalam hadis diterangkan, yakni;
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang salat malam, tidak mendapatkan dari qiyamnya kecuali begadang”. (Sunan Ibn Majah No. 1690)
Di era digital seperti saat ini, lisan kita dapat berubah bentuk menjadi tulisan, komentar, emoji, dan unggahan yang dapat menyakiti orang lain. Tanpa disadari, “lisan digital” tersebut berubah menjadi dosa digital yang mungkin sering kita anggap ringan. Dosa-dosa digital yang dianggap ringan tersebut bisa saja mengurangi pahala kebaikan yang pernah kita buat, sebagaimana digambarkan dalam sebuah hadis:
“Sesungguhnya orang yang muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dalam keadaan pernah mencaci si ini, menuduh si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah kepada mereka (orang-orang yang dizalimi) pahala kebaikannya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum selesai membayar kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka lalu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (H.R. Imam Muslim No. 2581).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sejatinya, Ramadan menjadi momentum membersihkan hati, bukan memperkeruh lini masa. Hati yang bersih tentu menjadi cahaya penuntun ke arah kesalehan spiritual dan sosial. Sementara itu bila hati keruh, maka akan menjerumuskan ke jurang kegelapan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini manusia mengenal istilah jejak digital. Apa yang kita unggah bertahun-tahun lalu bisa muncul kembali. Foto, video, tulisan, komentar semua tersimpan. Bayangkan kelak di hari kiamat, ketika catatan amal dibuka. Bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi semuanya tertulis lengkap. Jika di dunia saja jejak digital bisa menjadi bukti di pengadilan, maka di akhirat catatan amal jauh lebih detail dan sempurna. Allah berfirman:
"Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.’ Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (Q.S. Al-Kahf [18]: 49)
Maka sebelum memposting sesuatu, renungkan: Apakah saya siap melihat ini kembali di hadapan Allah?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadan mengajarkan kita untuk memperlambat reaksi dan memperdalam refleksi. Maka, mari kita ubah cara kita bermedia sosial di bulan Ramadan dengan tiga prinsip:
Pertama, prinsip takwa. Takwa adalah memelihara diri untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Gunakan media sosial dengan kesadaran, bahwa Allah selalu mengawasi. Setiap goresan tulisan di media sosial tidak lepas dari pengawasan Allah Swt.
Kedua, prinsip manfaat. Rasulullah saw mengajarkan, tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat.
“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, No. 2317)
Ketiga, prinsip pertanggungjawaban. Setiap tulisan akan diminta pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.
Jemaah yang dicintai Allah,
Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala. Bulan suci Ramadan adalah kesempatan emas untuk menabur kebajikan. Media sosial bisa menjadi saving pahala dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum menyebar ilmu yang sahih, mengajak pada kebajikan, dan mengutamakan ukhuah islamiah, serta menginspirasi untuk melakukan kegiatan bemanfaat.
Tetapi jika satu unggahan keburukan dan menyesatkan mengundang orang lain untuk berbuat maksiat, maka dosanya akan terus mengalir sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam surah Al-‘Ankabut [29]: 13,
“Mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka (sendiri) dan dosa-dosa (orang lain yang mereka perdaya) di samping dosa-dosa mereka. Pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan”.
(Tribunnews.com/Latifah)