TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah derasnya kritik dan perbincangan publik yang mengarah kepadanya, Sarifah Suraidah memilih merespons dengan cara berbeda.
Alih-alih memberi bantahan langsung, istri Rudy Mas'ud, Gubernur Kalimantan Timur itu menyalurkan sikapnya melalui unggahan bernuansa reflektif dan religius di media sosial, seolah menegaskan posisinya terhadap mereka yang mengkritik dan menilai dirinya.
Unggahan-unggahan tersebut muncul saat namanya tengah menjadi sorotan luas, menyusul viralnya sebuah video yang memperlihatkan dirinya di ruang publik.
Baca juga: Pengamat Kebijakan Publik Kritisi Mobil Dinas Rp8,5 M Gubernur Kaltim, Sentil Masih Ada Jalan Rusak
Melalui akun Instagram @syarifahsuraidah, Sarifah membagikan sejumlah Instagram Story sejak Rabu (25/2/2026) hingga Kamis (26/2/2026).
Isi unggahan itu menyinggung sikap manusia, cara menghadapi serangan, hingga hubungan seorang hamba dengan Tuhan.
Salah satu kutipan yang ia unggah berbunyi:
"Kalau satu orang menyerang, itu opini. Kalau berkelompok menyerang, itu rasa takut. Mereka butuh keramaian untuk menjatuhkan."
Pada unggahan lain, Sarifah juga membagikan pesan motivasi yang menyinggung alasan seseorang menjadi sasaran ketidaksukaan:
"Beberapa orang tidak menyukaimu bukan karena kamu jahat, namun karena kerja keras dan pantang menyerahmu menyakiti hatinya."
Bagi sebagian warganet, unggahan ini dibaca sebagai bentuk respons batin atas kritik dan serangan opini yang tengah mengarah kepadanya.
Tak hanya refleksi, Sarifah juga menyelipkan doa-doa bernuansa personal menjelang bulan suci Ramadan. Salah satu doa yang diunggah berbunyi:
"Ya Allah jadikanlah Ramadhan tahun ini, menjadi bulan Ramadhan yang dipenuhi kabar baik, kebahagiaan, rezeki lancar dan keberkahan."
Ia turut membagikan doa perlindungan yang sarat makna:
"Ya Allah, lindungilah kami dari rasa iri dan dengki orang-orang yang tidak menyukai kami tanpa alasan. Lindungilah kami dari orang-orang yang ingin mencelakai kami, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
Jagalah hati kami, keluarga kami, dan urusan kami dari tipu daya mereka, dan berikanlah kami kedamaian, keselamatan, dan petunjuk dalam setiap langkah yang kami ambil."
Rangkaian doa tersebut memperkuat kesan bahwa unggahan Sarifah merupakan respons spiritual di tengah tekanan opini publik.
Baca juga: Gaya Glamor Sarifah Istri Gubernur Kaltim saat Temui Warga di Tengah Polemik Mobil Dinas Rp8,5 M
Dalam unggahan lain, Sarifah membagikan kutipan bernuansa tausiyah yang dikaitkan dengan KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha. Kutipan tersebut berbunyi:
"Kita pernah membuat Allah kecewa karena tidak bangun subuh. Namun paginya Allah masih membangunkanmu dengan tubuh yang sehat. Adakah cinta yang setulus itu?!"
Ia juga mengunggah refleksi panjang tentang makna Ramadan sebagai ruang perbaikan diri:
"Pada akhirnya saudara saudaraku, mohon maaf padanya dan bertaubat pada Allah atas kesalahan di awal kisahnya. Begitupula kita, mungkin banyak yang memulai Ramadhan dengan kesalahan dan kekurangan.
Tapi bukan berarti tertutup kesempatan untuk menyempurnakan akhirnya. Karena Ramadhan bukan hanya tentang siapa yang datang dengan bekal terbaik, tapi juga tentang siapa yg pergi dalam keadaan terampuni."
Respons-reflektif tersebut muncul setelah sebuah video yang menampilkan Sarifah menemui seorang nenek penjual sayur di pinggir jalan viral di media sosial.
Dalam video yang viral di media sosial, memperlihatkan Sarifah berbincang dengan sang nenek sambil memberikan sejumlah uang.
Aksi yang awalnya dipandang sebagai wujud kepedulian sosial itu justru berkembang menjadi perdebatan luas, karena terjadi di tengah polemik pengadaan mobil dinas mewah untuk sang suami, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud.
Baca juga: Gubernur Rudy Masud Sesumbar Pakai Mobil Dinas Rp8,5 untuk Jaga Marwah Kaltim, Pengamat: Keliru
Dalam video tersebut, Sarifah tampil mengenakan gaun putih bermotif bunga, dipadukan dengan kalung mutiara, anting, cincin berukuran besar, serta topi bertepi lebar yang senada. Penampilan ini kemudian menjadi fokus komentar warganet.
Sebagian netizen menyebut gaya busana Sarifah menyerupai “noni Belanda”, istilah yang merujuk pada perempuan muda Belanda pada masa kolonial.
Tafsir itu lalu dikaitkan dengan isu mobil dinas Gubernur Kaltim yang disebut-sebut bernilai Rp8,5 miliar.
Seiring waktu, sorotan terhadap busana Sarifah tak lagi berhenti pada aspek estetika, tetapi meluas menjadi simbol kelas, sensitivitas sosial, dan konteks politik yang menyertainya.
Rangkaian unggahan media sosial dan penampilan Sarifah Suraidah memperlihatkan bagaimana setiap gestur figur publik selalu berada dalam ruang tafsir yang luas.
Di era media sosial, tindakan personal, gaya berpakaian, hingga doa dapat berubah menjadi simbol yang dibaca berlapis-lapis.
Polemik ini menjadi gambaran betapa tipisnya batas antara ekspresi pribadi dan persepsi publik, terutama bagi mereka yang berada di lingkar kekuasaan dan sorotan politik.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)