M. Shabri Abd. Majid, Profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK.
DI Aceh, kalau orang sudah kesal tingkat dewa, kalimatnya pendek saja: “Hana utak!” Artinya? Tidak ada otak. Tidak berotak. Bebal. Bodoh. Kalimat ini biasanya keluar ketika melihat kelakuan yang bikin tekanan darah naik. Motor lawan arah padahal jalan lebar. Buang sampah ke sungai lalu ikut demo karena banjir. Marah-marah soal keadilan tapi parkir di atas trotoar. “Hana utak!” Tapi pernah tidak kita berpikir: betulkah masalahnya di otak? Aceh memang kaya istilah unik. Ada juga istilah “cina buta” untuk nikah tahlil. Padahal yang buta bukan orang Cina. Mereka tidak tahu apa-apa, tidak ikut-ikutan, tapi namanya disebut-sebut juga. Kasihan. Salah alamat.
Begitu juga “hana utak”. Seolah-olah semua masalah manusia karena kurang otak. Padahal kalau mau jujur, banyak yang otaknya encer. IQ tinggi, lulus S2, S3, dan bahkan Profesor. Hafal teori. Bisa debat sampai mikrofon panas. Tapi tetap saja bisa zalim, sombong, dan merasa diri paling benar. Bahkan ada yang merasa diri paling Tuhan. Kalau begitu, jangan-jangan yang sering bermasalah bukan “Hana Utak”, tapi tak ada hati “Hana Ate”.
Zaman modern ini punya satu keyakinan diam-diam: manusia itu otaknya.
Cinta cuma reaksi kimia. Iman cuma ilusi saraf. Moral cuma kalkulasi neuron. Islam tidak menolak otak. Al-Qur’an berkali-kali bertanya: “Afala ta‘qilun (Apakah kamu tidak menggunakan akal?)” dan“Afala tatafakkarun? (Tidakkah kamu berpikir?).
Otak itu penting. Ia pusat logika, menganalisis, menghitung, mengatur gerak. “Hana Utak“, kita tidak bisa memahami perintah. Makanya dalam Islam, “Ureung Pungoe“ (majnun) tidak dibebani dosa. Tidak shalat pun tidak berdosa, tidak puasa tidak dicatat. Bahkan bisa masuk surga karena memang tidak punya tanggung jawab syariat. Sakit otak: Dokter ada, obat ada, dan rumah sakit ada. Tapi Al-Qur’an berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam. “Bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46). Jadi yang bisa buta bukan cuma penglihatan. Hati pun bisa buta. Rasulullah saw bersabda: “Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari-Muslim). Bukan disebut otak, tapi yang disebut hati.
Sakit otak vs sakit hati
Kalau otak rusak, manusia kehilangan logika. Ia tak mampu membedakan konsekuensi, tak sadar aturan. Dalam Islam, orang yang hilang akalnya tidak dibebani dosa karena memang tidak mampu memahami. Tetapi kalau hati yang rusak? Itu jauh lebih berbahaya. Al-Qur’an menyebut: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya.” (QS. Al-Baqarah: 10). Penyakit hati itu bernama sombong, iri, riya, dengki, hasad, cinta dunia berlebihan, merasa diri paling benar. Ia tak terlihat di CT-scan, tak terdeteksi di laboratorium. Namun dampaknya bisa lebih menghancurkan daripada tumor otak.
Fir‘aun bukan “hana utak”. Ia cerdas, strategis, punya sistem, pasukan, dan peradaban. Tapi hatinya sakit. Sampai ia berkata: “Ana rabbukum al-a‘la (Akulah Tuhanmu yang paling tinggi)” (QS. An-Nazi‘at: 24). Iblis juga bukan bodoh. Ia tahu Allah. Tetapi ketika diperintah sujud kepada Adam, ia menolak karena sombong (QS. Al-Baqarah: 34). Ia enggan dan takabur, lalu menjadi kafir. Jadi kadang masalahnya bukan “hana utak”. Kadang justru otaknya sangat encer. Yang tidak ada adalah hati yang tunduk.
Sakit otak bisa menggugurkan tanggung jawab. Tapi sakit hati justru membuat dosa tetap berjalan. Orang yang hatinya sakit masih bisa shalat, ceramah, tampil terhormat, namun di dalamnya penuh dengki. Sakit fisik ada obatnya. Sakit hati jauh lebih sulit disembuhkan. Dalam Islam, qalb adalah pusat niat dan iman. Allah berfirman: “Kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 89). Yang menyelamatkan bukan kecerdasan, melainkan hati yang selamat. “Hana utak” sering kali bukan soal IQ, tapi soal kesadaran. Masalah bukan di kepala, tapi di dada. Otak bertanya: apa yang menguntungkan? Hati bertanya: apa yang benar? Otak tanpa hati bisa licik. Hati tanpa otak bisa keliru. Hikmah lahir saat keduanya selaras. Krisis kita bukan kurang pintar, tetapi kurang bersih. Peradaban maju oleh otak, diberkahi oleh hati.
Klinik hati tahunan
Islam tidak hanya mendiagnosis penyakit hati, tetapi juga memberi resep penyembuhannya. Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan disebut sebagai ”syifa”, penawar dan rahmat. “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat.” (QS. Al-Isra: 82). Ia bukan sekadar dibaca, tetapi ditadabburi. Bukan hanya suara, tetapi terapi batin. Allah juga memberi kunci sederhana: dzikir. “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub (Dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram)” (QS. Ar-Ra’d: 28). Kalimatnya singkat: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar. Tetapi ia menenangkan kegelisahan yang tak mampu diselesaikan logika.
Malam menambah ruang perbaikan. Tahajud dan doa melembutkan hati yang keras. Rasulullah SAW mengajarkan: “Allahumma inni a’udzu bika minal-hammi wal-hazan…(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari gelisah dan sedih”. Kadang yang dibutuhkan bukan jawaban cepat, tetapi dada yang lapang. Dan di antara semua obat itu, ada satu terapi besar yang Allah siapkan setiap tahun. Ramadhan datang untuk membersihkan qalb, karena yang kelak ditanya bukan seberapa cerdas kita, tetapi seberapa selamat hati kita.
Puasa bukan menyebut mengosongkan perut sebagai obat hati, karena banyak penyakit batin berakar pada hawa nafsu. Allah menegaskan tujuannya: “…la‘allakum tattaqun”—agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183). Bukan agar kurus, bukan sekadar hemat, tetapi agar lahir takwa. Dan takwa adalah kerja hati.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Maka inti puasa bukan lapar, melainkan penyucian qalb. Lapar mengajarkan kelemahan, haus meretakkan kesombongan, dan menahan diri melatih hati untuk tunduk. Ramadhan adalah madrasah takwa, tempat iri diredam, dengki dilebur, riya dipatahkan, dan sombong dikikis.
Kita tidak kekurangan orang cerdas, gelar berderet, analisis melimpah. Yang langka adalah hati yang lembut. Tanpa hati yang bersih, kecerdasan berubah menjadi kesombongan dan logika menjadi pembenaran ego. Allah berfirman: “Kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).” (QS. Asy-Syu‘ara: 89).
Yang berbahaya bukan kurang otak, melainkan hati yang mati rasa. Peradaban maju oleh otak, tetapi diberkahi oleh hati. “Hana ate” lebih berbahaya daripada “hana utak”. Yang paling berat bukan mengoreksi pikiran orang lain, melainkan menundukkan kesombongan dalam dada sendiri sebelum berdiri di hadapan-Nya. Semoga Ramadhan bukan hanya menyehatkan raga dan meluruskan akal, tetapi membersihkan qalb.