SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Menjelang puncak perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro pada 1 Maret 2026, infrastruktur vital berupa jembatan ponton yang menghubungkan daratan PT Gajah Unggul Internasional (GUI) ke Pulau Kemaro kini telah tersambung sepenuhnya.
Pantauan di lapangan, terlihat deretan tongkang raksasa berjajar rapi membentuk jalur kokoh yang siap menampung ribuan peziarah dan wisatawan yang diperkirakan akan memadati pulau legendaris tersebut.
Salah satu panitia Cap Go Meh, Tjik Harun, menegaskan bahwa persiapan tahun ini menitikberatkan pada kenyamanan dan keamanan pengunjung.
“Jembatan sudah tersambung, tapi proses belum selesai. Saat ini kami sedang memasang tenda di sepanjang badan ponton agar pengunjung terlindung dari terik matahari maupun hujan,” ujar Tjik Harun, Jumat (27/2/2026).
Selain itu, panitia tetap menyediakan layanan transportasi sungai gratis berupa tongkang bagi masyarakat, sesuai tradisi tahunan.
Titik keberangkatan berada di depan kelenteng kawasan 16 Ilir, dan jumlah armada akan dikonfirmasi mendekati hari pelaksanaan.
Cap Go Meh juga menjadi penggerak ekonomi bagi pelaku UMKM. Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas perdagangan yang mulai padat sejak pagi hari, dengan pedagang menyeberang menggunakan perahu jukung dari Dermaga Kalidoni ke pulau.
Salah satu pedagang, Nando, mengaku momen Cap Go Meh memberikan dampak signifikan bagi pendapatannya.
“Ini tahun kedua saya berjualan di sini. Secara omzet, hasilnya sangat menjanjikan karena antusiasme warga luar biasa tinggi,” ujar Nando optimistis.
Di sisi lain pulau, persiapan kelenteng Hok Tjing Rio terus dilakukan. Area peribadatan tengah dibersihkan dan beberapa sudut bangunan mendapatkan sentuhan cat ulang untuk memperkuat nuansa merah keberuntungan.
Kelenteng yang dibangun sejak 1962 ini menjadi pusat ibadah Tridharma dan berkaitan dengan Pagoda 9 lantai serta makam legendaris Tan Bun An dan Siti Fatimah.
“Tahun ini sepertinya lebih tertata rapi. Jalan menuju dermaga tongkang sudah dibangun permanen dan kokoh,” jelas Tjik Harun.
Dengan rampungnya akses jembatan ponton dan tertatanya area komersial UMKM, Pulau Kemaro siap menjadi magnet budaya, memadukan tradisi leluhur dengan geliat ekonomi masyarakat.
Tjik Harun berharap, meski Cap Go Meh tahun ini bersamaan dengan Ramadan, festival ini tetap menjadi momentum menunjukkan keberagaman di Palembang tumbuh dalam ruang toleransi yang nyata.
“Perayaan ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi juga ajang mempererat silaturahmi lintas budaya di Kota Palembang,” pungkasnya.