TRIBUN-TIMUR.COM, SIDRAP -- Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mencatatkan lonjakan signifikan hingga mencapai 7,7 persen pada tahun 2025.
Capaian itu menempatkan wilayah berjuluk Bumi Nene Mallomo ini di urutan pertama di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Tren positif ini didorong sektor pertanian yang terus mengalami peningkatan produktivitas dan nilai tukar petani.
Itu disampaikan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif saat memimpin panen raya padi Musim Tanam I di Kelurahan Lautang Benteng, Kecamatan Maritengngae, Jumat (27/2/2026).
Meski berlangsung di tengah bulan Ramadan, prosesi panen tetap dilakukan menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) modern combine harvester.
"Hasil ubinan saat ini mencapai mencapai 9 sampai 10 ton per hektar. Berdasarkan data statistik, pertumbuhan ekonomi kita juara satu di Sulsel dengan hasil 7,7 persen, naik dari sebelumnya yang hanya sekitar 4 persen pada 2024," katanya saat membawakan sambutan.
Syahar mengungkapkan, pendapatan petani per hektar meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir.
Dari Rp 35 juta pada 2024, naik menjadi Rp 50 juta pada 2025, bahkan menyentuh angka Rp73 per hektar pada awal bulan 2026.
"Kesejahteraan petani juga terbantu serapan gabah yang tinggi. Meski harga standar ditetapkan Rp 6.500 hingga Rp 6.800 per kilogram, pihak pedagang dan penggilingan (PB.35) berani membeli seharga Rp 7.300 per kilogram," ungkapnya.
"Jadi ada bonus penjualan yang menambah pendapatan langsung petani," lanjut orang nomor satu Partai NasDem Sulsel ini.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Sidrap, Ibrahim menjelaskan, pada lahan seluas 50 are yang dipanen kali ini, petani menggunakan varietas Inpari 50 atau varietas padi unggul baru (VUB) inbrida.
"Varietas ini memiliki keunggulan tahan terhadap serangan tikus, meski memiliki kelemahan pada kematangan buah yang tidak serentak menguning. Namun, hasil produksinya tetap stabil di atas 9 ton per hektar," jelasnya.(*)