Laporan Wartawan TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Imam Nawawi
SURYAMALANG.COM | JEMBER - Bupati Jember Muhammad Fawait minta maaf karena menu Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadhan 2026 ini dikeluhkan banyak wali murid dan guru.
Bahkan, para wali murid menuangkan ekspresi keluhan terhadap menu MGB Ramadhan 2026 melalui media sosial.
Pantauan SURYAMALANG.COM, para netizen banyak mengunggah keluhan di grup media sosial Facebook Info Warga Jember.
Di antaranya, keluhan datang dari netizen yang menginformasikan menu MBG Ramadhan 2026 dari berbagai wilayah kecamatan di Jember.
Yakni, di Kecamatan Ledokombo, Wuluhan, Bangsalsari, Pakusari, Tanggul, Puger, Rambipuji, dan Patrang Jember.
Berdasarkan data yang dihimpun media ini, mereka mengeluhkan makanan bergizi itu tidak layak.
Menurut mereka, penerima MBG hanya mendapatkan roti, makanan ringan dan telur rebus.
Bahkan, nasi diganti pisang atau ketela rebus tanpa dilengkapi sayur-mayur atau lauk daging maupun ikan.
"Ada kekurangan-kekurangan pelaksanaan MBG, saya sebagai bupati mohon maaf. Jangan menyalahkan pemerintah pusat apalagi presiden," ujar Bupati Jember Muhammad Fawait, Jumat (27/2//2026).
Dia meminta Satuan gugus tugas (Satgas) MBG Pemkab Jember segara mengambil tindakan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang tidak memberikan makanan layak terhadap siswa tersebut.
"Dapur-dapur yang main-main memberikan menu tidak pas, hati-hati. Kepala daerah punya hak memberikan rekomendasi kepada BGN untuk menghentikan," kata pria yang akrab disapa Gus Fawait ini.
Fawait mengaku akan segara memanggil semua kepala dapur sehat MBG di Jember. Supaya mereka tertib mendata menu makanannya setiap hari
"Kami akan segera kumpulkan, kepala-kepala SPPG dan kita akan bikin grup. Mereka wajib mendata dan menampilkan menu masakan setiap hari," paparnya.
Baca juga: Roti Basi hingga Buah Mentah, DPRD Kabupaten Malang Gelar Raker Soal Keluhan Menu MBG Tak Layak
Baca juga: Satgas MBG Sudah Beri Teguran ke SPPG yang Suguhkan Pisang Mentah untuk Siswa Kabupaten Malang
Kejadian miris di Tulungagung, seorang siswa SDN 1 Kepatihan, Kecamatan Tulungagung menerima menu MBG telur rebus yang menjijikkan.
Satu dari 3 telur rebus itu masih menempel kotoran ayam, sehingga muncul dugaan telur ayam itu tidak dicuci sebelum direbus.
Temuan ini semakin memperpanjang sajian MBG yang menjadi sumber keluhan warga.
“Hari ini menunya dirapel untuk 3 hari, isunya susu sekolah, telur, dan salad buah,” ujar Herlambang Novian Efendi, paman salah satu siswa.
Karena dirapel untuk 3 hari, ada 3 telur rebus yang dimasukkan dalam wadah paket MBG.
Menurut Herlambang, karena Bulan Ramadan paket MBG ini dibawa pulang oleh keponakannya.
Sesampai di rumah, ternyata sebutir telur masih dalam kondisi kotor, ada kotoran ayam yang masih menempel.
“Waktu dibuka kami kaget, kok ada kotoran ayam di telur rebus. Ini membuat kami heran,” ucapnya.
Herlambang menduga, telur-telur itu tidak dicuci namun langsung direbus sehingga masih kotoran ayam yang menempel.
Setelah telur itu matang, ternyata dimasukkan begitu saja dalam paker MBG.
Herlambang pun mempertanyakan kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dianggap sembrono.
“Apa tidak diseleksi saat memasukkan telur rebus? Bagaimana mungkin mereka tidak melihat ada kotoran ayam masih menempel?” keluhnya.
Satu telur yang masih tertempel kotoran ayam itu akhirnya dibuang.
Sementara 2 telur lainnya dicuci bersih, dan masih dikonsumsi.
Meski demikian Herlambang masih mempertanyakan kelayakan telur rebus itu untuk dikonsumsi.
“Proses merebus telur kan jadi satu, artinya dalam satu wadah yang sama sudah tercampur kotoran ayam. Telur yang lain sebenarnya kan juga tercemar,” katanya.
Terkait temuan ini, Kepala Satgas Percepatan MBG Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagus Kuncoro, mengaku sudah melaporkan ke Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (Korwil BGN) Tulungagung.
“Kami teruskan ke Korwil BGN Kabupaten Tulungagung,” tulis Bagus lewat Whatsapp.