TRIBUNPEKANBARU.COM - PASAMAN - Di tengah dorongan percepatan transisi energi dan penguatan bauran energi baru terbarukan nasional, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Masang-2 berkapasitas 44 megawatt (MW) di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kian mendapat dukungan luas.
Proyek strategis tersebut tidak hanya diproyeksikan memperkuat sistem kelistrikan regional, tetapi juga diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Dukungan itu mengemuka dalam sosialisasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang digelar pada 26 Februari 2026 di Kantor Wali Nagari Koto Limo, Kecamatan Bonjol. Forum tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, akademisi, tokoh masyarakat, serta warga terdampak.
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng), yang diwakili oleh Officer Lingkungan PLN UIP Sumbagteng, Join Hadamean, menegaskan bahwa proses Amdal menjadi fondasi penting dalam memastikan proyek berjalan sesuai regulasi dan prinsip keberlanjutan.
“Kami memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan PLTA Masang-2 dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan. Melalui proses Amdal ini, kami mendengarkan masukan masyarakat, mengidentifikasi potensi dampak, serta merumuskan langkah-langkah pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara komprehensif,” ujarnya.
Menurut Join, proyek PLTA Masang-2 mencakup tahap pra-konstruksi berupa perizinan dan pengadaan lahan, tahap konstruksi pembangkit, hingga tahap operasional. PLN berkomitmen memaksimalkan dampak positif, termasuk penyerapan tenaga kerja lokal dan pemberdayaan masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
“Kehadiran PLTA Masang-2 diharapkan tidak hanya memperkuat sistem kelistrikan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. PLN membuka ruang dialog dan siap berdiskusi apabila terdapat hal-hal yang perlu dikomunikasikan,” kata Join.
Menanggapi itu, Asisten II Pemerintah Kabupaten Pasaman, Djoko Rifanto, menyatakan Pemerintah Daerah Kab Pasaman menyambut baik rencana pembangunan tersebut. Menurut dia, pembangunan PLTA Masang-2 di Kecamatan Bonjol diharapkan membawa dampak langsung bagi masyarakat sekitar, khususnya di Limo Koto dan Koto Kaciak.
“Dengan adanya Pembangunan PLTA Masang-2 ini, kita tentu menyambut baik dan mendukung. Harapannya, proyek ini dapat berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Tim Amdal dari Universitas Andalas, Dr. Mahdi, S.P., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa kajian dilakukan secara menyeluruh pada setiap tahapan proyek.
“Kami mengidentifikasi seluruh potensi dampak, baik positif maupun negatif. Tujuannya agar dampak negatif dapat diminimalkan dan pengelolaan lingkungan dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Tim Amdal PLTA Masang-2 menyebutkan bahwa proyek tersebut akan memanfaatkan lahan seluas 106,5 hektare dan diperkirakan melibatkan sekitar 1.000 tenaga kerja, termasuk sekitar 20 tenaga kerja asing.
Menanggapi paparan tersebut, sejumlah warga menyampaikan dukungan dengan catatan.
“Sekitar 30 persen masyarakat di sini menggantungkan hidup dari perikanan di Batang Masang. Kami tidak menolak pembangunan, tetapi prosesnya harus jelas dan benar-benar menyerap tenaga kerja lokal,” ucap Ismet, warga Koto Kaciak.
Sinergi antara pemerintah daerah, PLN, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi penting agar pembangunan PLTA Masang-2 berjalan sesuai regulasi, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menghadirkan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan bagi Pasaman. PLN berkomitmen membangun infrastruktur ketenagalistrikan yang andal dan berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.