TRIBUNJATIM.COM - Nasib guru Reza Sudrajat belakangan jadi sorotan karena merasakan lelah emosional.
Reza Sudrajat adalah guru honorer yang viral karena mendatangi Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), dengan harapan agar kesejahteraannya dipikirkan.
Lelah emosional adalah hal yang dirasakan Reza Sudrajat selama ia menjadi guru honorer di salah satu sekolah di Karawang, Jawa Barat.
Tak bisa dipungkiri, tenaga yang dikeluarkan untuk memupuk calon penerus bangsa dirasa tidak sebanding dengan apa yang didapat.
Setidaknya itu yang bisa Reza bagikan saat ditemui di kawasan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Reza datang ke MK untuk melakukan perbaikan permohonan pengujian undang-undang.
Siang itu Reza tiba menggunakan kemeja biru. Ia didampingi oleh sejumlah orang yang merupakan bagian dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Indonesia Corruption Watch (ICW).
Reza menguji Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2026 (UU APBN 2026), terkhusus Pasal 22 ayat (3) beserta penjelasannya.
Baca juga: Trauma Guru Honorer yang Dipenjara karena Rangkap Jabatan, Belum Mau Bertemu Orang setelah Bebas
Reza resah, sebab pasal itu mengatur sumber program makan bergizi gratis (MBG) masuk dalam anggaran pendidikan 20 persen.
Ia menghendaki dana MBG tidak masuk dalam anggaran pendidikan.
"Kadang orang melihat capek fisik saja kan. Enggak melihat capeknya guru tuh kayak gimana sih? Dari cara manage orang di kelas, gimana sih? Apalagi generasi sekarang kan beda kan ya," ujar Reza kepada wartawan di Media Center MK usai melakukan perbaikan permohonan.
"Kadang seperti, kita tuh ada rasa di mana lelah secara emosional," sambungnya.
Baca juga: Kini Bebas, Guru Honorer Dipenjara Imbas Rangkap Jabatan Masih Tenangkan Diri, Mental Terguncang
Rasa lelah ini tak lepas dari rendahnya nilai apresiasi dalam bentuk rupiah yang Reza dapat sebagai guru honorer.
Ekspresi di wajah Reza tak bisa berbohong ketika ditanya apakah gajinya sebagai guru honorer cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Reza menjelaskan ihwal dia dan guru honorer lainnya mendapatkan nominal gaji yang bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan.
Itu pun jika dibayar tepat waktu. Tak jarang gaji guru honorer datang terlambat, bahkan ada pula yang baru mengantonginya per tiga bulan.
"Upah guru itu rata-rata jauh di bawah upah minimum kabupaten/kota atau provinsi sekalipun, itu yang pertama. Yang kedua ada sistem rapel atau penundaan gaji," ujarnya.
Baca juga: Agista Anak Pemulung Jual Lukisan Mulai Rp 5 Ribu untuk Bantu Beli Beras, Tak Masalah Krayon Patah
Lantas, apa yang membuat Reza masih bertahan untuk menjadi seorang guru? Sebuah profesi yang katanya tanpa tanda jasa.
Pria kelahiran 1995 ini ternyata masih punya harapan.
"Mimpi besar saya itu yang di mana guru-guru kita itu dalam kondisi yang sejahtera," tuturnya.
Bagi Reza, kondisi guru yang sejahtera menjadi kunci untuk tercapainya pendidikan yang, seperti kata dia, bagus.
Selain itu, menjadi seorang guru adalah sebuah profesi yang menurutnya mulia. Bagi Reza, pondasi bangsa dan negara juga tak lepas dari peran seorang guru.
Mimpi itu masih ia genggang, meski harus menelan pil pahit ketika ia mulai sadar ihwal kondisi kesejahteraan guru.
"Tapi waktu itu saya belum tahu ternyata oh gaji guru tuh ternyata kecil ya," ucapnya lirih.
"Dan ternyata meskipun katakanlah kami dianggap pahlawan tanpa tanda jasa, sebenarnya kami tuh enggak benar-benar dianggap pahlawan," lanjut Reza.
Hal tersebut Reza ungkap dengan penuh keyakinan dan bukan tanpa dasar.
Ia turut menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Budhi Sadewa yang beberapa waktu sempat ditanyai awak media soal sejumlah pengujian UU APBN di MK. Pria pengganti Sri Mulyani itu menyebut permohonan para pemohon lemah.
"Karena dari cara pemerintah menanggapi. Teman-teman bisa lihat sendiri pernyataan menteri kayak gimana soal ketika guru honorer menggugat dan seolah-olah kayak ngeremehin," jelas Reza.
Pinjaman online atau pinjol adalah jasa yang akrab dengan guru honorer. Setidaknya begitu klaim Reza.
Ia mengaku pernah harus menggunakan jasa pinjol sebab kebutuhan hidupnya belum terpenuhi dari gaji guru honorer.
"Saya kebetulan sudah pernah (menggunakan jasa pinjol), saya akui saya sudah pernah," ungkap Reza.
"Jadi untuk jaga-jaga kalau misalnya, ya sudah karena kita enggak ada uang, belum ada gaji dan sebagainya, ya sudah kita pinjam," ia menambahkan.
Tak hanya Reza, namun fenomena ini juga terjadi di lingkungan sekitarnya pun di banyak wilayah.
"Dari lingkungan saya, teman-teman, bahkan di luar pulau sekalipun atau luar provinsi sekalipun, itu memang banyak guru yang melakukan pinjaman online," jelasnya.
Baca juga: Kini Bebas, Guru Honorer Dipenjara Imbas Rangkap Jabatan Masih Tenangkan Diri, Mental Terguncang
Selain pinjol, Reza menyebut dirinya tidak hanya mengajar di satu sekolah, demi menutup kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia mengaku tidak membuka les privat seperti sebagian guru lainnya, melainkan tetap mengajar di lingkungan sekolah.
Aktivitas Reza dimulai sejak pagi.
Di Jawa Barat, jam sekolah dimulai sekitar pukul 06.30. Ia baru selesai mengajar dari dua sekolah berbeda sekitar pukul 15.30.
Durasi kerjanya, menurut dia, tak jauh berbeda dengan jam kerja kantoran pada umumnya. Namun, besaran upah yang diterima jauh dari kata layak.
"Kecil dan itu pun pas-pasan banget," ucap Reza lirih.
Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan kesepadanan antara beban kerja dan kesejahteraan yang diterima.
Di tengah persoalan gaji yang minim dan tekanan mental yang dirasakan, profesi guru honorer dinilainya belum sepenuhnya memberikan jaminan kesejahteraan yang layak.
Belum lagi ditambah anggaran pendidikan yang direcoki program MBG.