TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kejadian adanya siswa yang tewas diduga dianiaya oknum anggota Polisi Brimob memicu aksi demontrasi mahasiswa IPB.
Mereka menggelar aksi unjuk rasa di wilayah kampus IPB, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jumat (27/2/2026).
Unjuk rasa ini terpantau diwarnai longmarch, aksi tiarap di atas aspal jalan, tabur bunga, menyalakan lilin sebagai aksi simbolik.
Diketahui peristiwa yang memicu gelombang aksi unjuk rasa mahasiswa ini merupakan peristiwa di Maluku yang menyebabkan siswa SMP inisial AT (14) tewas.
AT diduga dianiaya oleh oknum Brimob yang berinisial Bripda MS.
Fadlan, salah satu orator perwakilan massa pendemo mahasiswa IPB, menyatakan bahwa pihaknya sangat mengecam hal itu.
"Jelas sangat menolak dan mengecam dengan adanya kejadian tersebut," kata Fadlan kepada wartawan, Jumat.
Dia pun menyoroti Brimob dan menyampaikan sejumlah kritikan.
Meski bagian dari Polri, kata Fadlan, Brimob memiliki hal yang berbau semi militer dan komando.
Meski dari sisi sejarah, Polri dulunya memang sempat masuk bagian dari ABRI (TNI sekarang).
"Keluarnya Polri dari ABRI itu seharusnya merubah paradigma, salah satu bentuk reformasi Polri sendiri, yang mana sistemnya Polisi full servant, polisi melayani masyarakat, tunduknya sama UU dan konstitusi, bukan pada atasan," katanya.
"Tapi melihat sekarang dengan sistem semi militermya, dengan adanya Brimob, rasa-rasanya polisi masih sistem komando, polisi kita tidak menjadikan rakyat sebagai atasannya, tapi menjadi kepentingan kelompok, kepentingan oligarki sebagai atasannya," imbuhnya.
Selain itu, dia juga mengkritisi arogansi oknum aparat yang ada di tubuh Polri.
"Mereka merasa lebih tinggi, ada arogansi yang tumbuh, yang tersebar secara kolektif di institusi tersebut, sehingga dirinya merasa superior," kata Fadlan.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya sangat mengecam dan sangat menolak hal yang nilai suatu 'kerusakan' di dalam tubuh Polri.
"Bayangkan seorang Bripda, bahkan seorang anggota polri pun bisa mati ditangan seniornya sendiri, apalagi kita," ungkapnya.