TRIBUNKALTIM.CO - Di tepian Sungai Kayan, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, berdiri sebuah kompleks makam sederhana yang diyakini menyimpan jejak awal penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Tempat itu berada di Desa Salimbatu, tak jauh dari jalur penyeberangan Tanjung Palas–Salimbatu, dan kini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Bumi Tenguyun—sebutan lokal untuk Bulungan.
Masyarakat setempat meyakini, di lokasi itulah dimakamkan Syekh Ahmad Al Maghribi, ulama yang disebut-sebut sebagai penyiar Islam pertama di kawasan pesisir utara Kalimantan.
Meski minim catatan tertulis, namanya tetap hidup melalui cerita lisan yang diwariskan turun-temurun.
Baca juga: Jejak Pengabdian KH Mursyidin di Sultra, dari Hafidz ke Ketua MUI
Kompleks makam tersebut tidak menampilkan kemegahan. Sebuah pendopo kecil menghadap sungai, dengan kain kuning dan hijau yang membalut area pusara.
Nisannya terbuat dari tegel berwarna gelap tanpa ukiran mencolok. Bunga tabur yang mengering tampak berserakan, menandakan makam itu rutin diziarahi.
Bagi warga Salimbatu, makam ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol awal masuknya Islam di daerah mereka.
Aping, penjaga keamanan makam, menjelaskan bahwa tidak ada data pasti mengenai tahun kedatangan Syekh Ahmad Al Maghribi.
“Kami tidak tahu persis kapan beliau datang. Tidak ada yang mengingat awalnya. Yang jelas, beliau inilah yang membawa dan memperkenalkan Islam di Desa Salimbatu,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Menurut kisah yang berkembang, Syekh Ahmad Al Maghribi tiba bersama sekitar dua belas orang dalam sebuah rombongan dakwah—yakni kelompok yang berkeliling menyebarkan ajaran Islam.
Mereka kemudian berpencar ke berbagai wilayah.
Baca juga: Senja di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru, Ratusan Warga Duduk Tanpa Sekat Menanti Azan Magrib
Syekh Ahmad disebut menetap di Salimbatu dan mulai mengenalkan ajaran tauhid, yaitu keyakinan tentang keesaan Tuhan dalam Islam.
“Rombongannya itu katanya ada 12 orang. Karena berpencar, beliau sampai ke Salimbatu. Di sinilah beliau menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat,” kata Aping.
Asal-usulnya diyakini dari Brunei, meski jejak perjalanan sebelum tiba di Salimbatu belum diketahui secara pasti.
Nama “Al Maghribi” sendiri diduga merupakan gelar. Dalam tradisi Islam, gelar sering dilekatkan untuk menandai asal-usul, waktu tertentu, atau pengaruh seseorang. Ia awalnya dikenal sebagai Ahmad, kemudian disebut Syekh—sebutan bagi ulama atau tokoh agama—karena perannya yang besar di tengah masyarakat.
“Karena pengaruhnya besar di Desa Salimbatu, beliau kemudian dikenal sebagai Syekh Ahmad Al Maghribi,” jelasnya.
Saat tiba di Salimbatu—yang dikenal sebagai desa tertua di Bulungan—ia disebut tidak menghadapi penentangan. Masyarakat setempat saat itu masih memegang kepercayaan tradisional yang cenderung memuja alam.
“Beliau disambut baik. Dulu masyarakat lebih banyak percaya pada kekuatan alam. Setelah beliau datang, mereka mulai mengenal ajaran Islam,” tutur Aping.
Cerita mengenai wafatnya pun diwarnai kisah yang diyakini sebagai karamah—istilah dalam tradisi Islam untuk menyebut peristiwa luar biasa yang dikaitkan dengan kemuliaan seorang wali atau ulama.
Warga meyakini bahwa saat prosesi pemakamannya sekitar pukul 18.00 Wita, matahari seolah belum terbenam hingga sekitar pukul 19.00 Wita, sebelum akhirnya cahaya meredup setelah pemakaman selesai.
Peristiwa itu kemudian dikaitkan dengan sebutan “Al Maghribi”, yang secara bahasa merujuk pada waktu maghrib atau senja.
Kisah lain yang berkembang menyebutkan bahwa makamnya dahulu berada tepat di bibir sungai.
Saat banjir besar melanda, pusara tersebut dipercaya berpindah ke lokasi yang lebih tinggi tanpa campur tangan manusia.
“Kalau hujan deras, logikanya pasti tempias karena makam beliau paling pinggir dan tidak ada dinding penutup. Tapi tidak pernah terkena hujan. Justru dua makam murid beliau yang di samping itu yang sering terkena,” ujar Aping.
Terlepas dari berbagai kisah yang menyertainya, kompleks makam Syekh Ahmad Al Maghribi kini menjadi tujuan ziarah, terutama setelah Idul Fitri.
Peziarah datang dari berbagai wilayah, bahkan luar Kalimantan.
Tidak ada pungutan biaya bagi pengunjung. Warga juga tidak membatasi latar belakang peziarah. “Pernah ada peziarah dari Bali juga. Kami tidak melarang siapa pun, baik Muslim maupun non-Muslim. Semua boleh datang dan mendoakan beliau,” kata Aping.
Di bawah rindangnya pepohonan jati dan bambu, makam itu menjadi ruang pertemuan antara sejarah, keyakinan, dan identitas lokal.
Bagi masyarakat Bulungan, kisah Syekh Ahmad Al Maghribi bukan sekadar legenda, melainkan bagian dari memori kolektif tentang awal mula Islam berakar di pesisir utara Kalimantan. (*)