TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Program pembagian buka puasa Ramadan kembali digelar di Masjid Al-Markaz Al-Islami dengan target 1.200 porsi takjil dan makan malam setiap hari.
Kegiatan disiapkan secara terstruktur.
Sebelum azan Magrib, jamaah diarahkan ke ruangan yang telah disiapkan panitia untuk menikmati takjil.
Setelah itu, jamaah melaksanakan salat Magrib berjamaah.
Kupon yang telah dibagikan sebelumnya kemudian ditukarkan dengan paket makan malam.
Koordinator kegiatan, Nanissa Suwarni, mengatakan sistem kupon diterapkan agar pembagian lebih tertib dan merata.
“Kupon dibagikan terlebih dahulu agar pembagian makanan lebih tertib dan merata,” ujarnya.
Dalam proses produksi, dapur utama ditangani satu juru masak yang dibantu sebelas orang di bagian dapur.
Enam orang lainnya bertugas menyiapkan dan membungkus takjil.
Setiap hari, panitia menyiapkan 1.200 bungkus takjil dan nasi untuk jamaah.
Meski tidak ada kendala berarti, faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri.
Dapur yang digunakan masih berupa tenda sehingga saat hujan dan angin kencang, nyala kompor terkadang terpengaruh.
“Kalau hujan dan angin memang sedikit memengaruhi, tapi di luar itu tidak ada kendala berarti,” jelas Nanissa.
Tahun ini, panitia memilih menggunakan kemasan kertas nasi yang dilapisi daun untuk mengurangi sampah plastik.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami menghindari penggunaan plastik seperti boks atau kemasan mika karena sampahnya sangat banyak. Dengan kemasan daun dan kertas, selesai makan bisa langsung dibuang tanpa menyisakan banyak sampah plastik,” tambahnya.
Program buka puasa ini tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga mencerminkan kepedulian sosial dan komitmen terhadap pengurangan limbah selama Ramadan.
Suasana pembagian takjil dan makan malam di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar.
Selama Ramadan, panitia menyiapkan 1.200 porsi per hari dengan sistem kupon agar tertib.
Tahun ini, kemasan menggunakan kertas nasi berlapis daun untuk mengurangi sampah plastik. (*)