Perang Segera Terjadi, AS dan Iran Gagal Capai Kesepakatan di Jenewa, Teheran Siap Menangkis Serangan
SERAMBINEWS.COM - Putaran terbaru perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa kesepakatan substantif pada Kamis (26/2/2026), menyisakan ancaman konflik militer yang semakin nyata di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporanWall Street Journal, perwakilan Gedung Putih Steve Witkoff dan Jared Kushner menyampaikan tuntutan tegas kepada Teheran.
Di mana AS meminta Iran menghancurkan tiga fasilitas nuklir utamanya, yakni Fordow Fuel Enrichment Plant, Natanz Nuclear Facility, dan Isfahan Nuclear Technology Center, serta menyerahkan seluruh sisa uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat.
AS juga menekankan bahwa setiap perjanjian baru harus bersifat permanen dan tidak mengandung “klausa kadaluarsa” seperti dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang dinegosiasikan pada era Presiden Barack Obama dan kemudian ditinggalkan oleh Presiden Donald Trump pada masa jabatan pertamanya.
Teheran menolak keras usulan pemindahan cadangan uranium ke luar negeri maupun penghentian total proses pengayaan.
Iran juga menentang pembongkaran infrastruktur nuklir serta pembatasan permanen atas programnya.
Pemerintah Iran tetap menegaskan haknya untuk memperkaya uranium, namun menawarkan beberapa opsi kompromi, termasuk menurunkan tingkat pengayaan dari 60 persen menjadi 1,5 persen, menangguhkan sementara aktivitas pengayaan, atau membuang material melalui usaha patungan Arab–Iran yang berbasis di dalam negeri.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi mengatakan bahwa kedua belah pihak bermaksud untuk membahas secara “lebih rinci” isu-isu kunci, termasuk pencabutan sanksi AS terhadap Iran dan “langkah-langkah terkait program nuklir.”
Menurut Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, yang menjadi mediator dalam pembicaraan tersebut, kedua pihak sepakat untuk bertemu kembali minggu depan di Wina untuk membahas detail teknisnya.
Sementara itu, New York Times melaporkan bahwa Iran sedang bersiap untuk menangkis serangan dari Amerika Serikat, karena menganggap perang sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
Menurut mereka, Iran telah belajar dari serangan mendadak Israel dan telah mengeluarkan instruksi yang jelas kepada semua pasukan keamanan untuk memblokade jalanan dan memburu agen-agen musuh.
Selain itu, latihan militer telah dilakukan, dan peluncur rudal kini telah dikerahkan di sepanjang perbatasan barat untuk menyerang Israel, dan di sepanjang pantai Teluk Persia untuk menyerang pangkalan dan pasukan angkatan laut AS.
Pada saat yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memerintahkan pengembangan rencana aksi jika beliau dibunuh.
Laporan media menunjukkan bahwa AS memiliki berbagai opsi untuk menyerang Iran.
Opsi-opsi ini termasuk kesepakatan "simbolis" dan rencana untuk membunuh pemimpin Ayatollah Khamenei.
Reuters melaporkan bahwa AS dan Iran dapat melanjutkan pembicaraan buntu tersebut pada awal Maret.
Kedua pihak akan membahas pencabutan sanksi dan mungkin mencapai kesepakatan sementara.
Ketegangan terus meningkat seiring dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah,
dan pekan lalu Presiden Trump memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan tentang masa depan program nuklirnya.
Para analis telah memperingatkan risiko konflik militer di kawasan tersebut jika kedua pihak tidak mencapai terobosan signifikan, yang dapat meng destabilisasi seluruh Timur Tengah dan berdampak pada pasar minyak.
"Tanpa terobosan diplomatik dalam beberapa hari mendatang, AS berisiko terjerumus ke dalam konflik militer dengan potensi eskalasi yang signifikan," kata Michael Hanna, direktur International Crisis Group, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Brussels.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)