Oleh: KH Sabaruddin, Lc Hafidzahullah, Pendakwah
BANJARMASINPOST.CO.ID- Berkaitan dengan bulan suci Ramadan, jika kita melihat ayat yang diturunkan, itu adalah panggilan keimanan: “Wahai orang-orang yang beriman.” Artinya, yang dipanggil bukan fisiknya, melainkan jiwanya.
Keimanan berada di dalam jiwa. Maka yang terpanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah jiwa dan keimanan.
Ada seorang ulama yang memberi ilustrasi menarik. Ketika datang bulan suci Ramadan, beliau membaca Surah Al-Fil.
Surah ini menceritakan pasukan bergajah yang dipimpin Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah.
Abrahah disimbolkan sebagai kesombongan dan keangkuhan. Sementara Ka’bah dipertahankan oleh Abdul Muthalib sebagai simbol ketekunan dan ketakwaan.
Burung Ababil yang melemparkan batu menjadi simbol keadilan Allah dalam menghancurkan kesombongan tersebut.
Dari sini kita belajar bahwa dalam diri manusia juga ada “Baitullah”, yaitu hati. Hati adalah pusat spiritualitas dan niat.
Memasuki Ramadan, banyak orang lebih menjaga fisiknya, tetapi kurang menjaga hatinya.
Padahal yang paling penting ditingkatkan adalah spiritualitas dan keimanan. Intelektualitas juga penting, dengan memperbanyak membaca dan menghadiri kajian.
Hati adalah sumber niat. Dalam puasa, niat menjadi dasar. Ulama berbeda pendapat tentang niat puasa; ada yang membolehkan satu kali niat untuk sebulan penuh, ada yang mewajibkan niat setiap malam.
Menggabungkan keduanya adalah sikap yang baik: berniat di awal Ramadan untuk sebulan penuh, dan tetap memperbarui niat setiap malam.
Hati juga menjadi sumber aktivitas, baik maupun buruk. Jika seseorang berkata kasar, masalahnya bukan pada lisannya, tetapi pada hatinya. Jika seseorang mencela atau menyakiti orang lain, sumbernya adalah hati.
Manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Jasad diberi makan dan minum. Jiwa pun memiliki tingkatan: ada nafsul mutmainnah yang cenderung pada kebaikan, nafsul amarah yang cenderung pada keburukan, nafsul lawwamah yang menyesal setelah berbuat dosa, dan jiwa yang bimbang.
Pikiran, pendengaran, dan penglihatan juga bisa menjadi sumber dosa jika tidak dijaga. Banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus dan dahaga karena tidak menjaga mata, telinga, dan pikirannya.
Karena itu, keimanan dan pikiran harus selaras agar ibadah Ramadan maksimal.
Pertama, luruskan niat hanya karena Allah. Jangan menjadi hamba Ramadan, tetapi jadilah hamba Allah.
Kedua, ketika semangat menurun, jangan tinggalkan yang wajib. Jika kondisi iman naik, sempurnakan dengan amalan sunah.
Ketiga, lakukan secara bertahap dan konsisten. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.
Keempat, perbanyak bermajelis dan berinteraksi dengan orang-orang saleh. Lingkungan sangat memengaruhi kualitas ibadah.
Terakhir, yakini bahwa tidak semua orang bisa bertemu Ramadan. Bisa jadi ini Ramadan terakhir kita, maka maksimalkanlah. (*)