Tangis dan Sujud di Restoran Hayam Wuruk, Wanita Viral Tak Bayar Makan Dirujuk ke RSKD Duren Sawit
M Zulkodri February 28, 2026 11:23 AM

 

BANGKAPOS.COM--Suasana restoran cepat saji di kawasan Hayam Wuruk, Hayam Wuruk, mendadak tegang pada Kamis malam (26/2/2026).

Sejumlah pengunjung yang tengah menikmati makan malam dibuat terkejut ketika seorang perempuan paruh baya diamankan petugas setelah diduga mengambil makanan milik pelanggan lain tanpa membayar.

Perempuan itu belakangan diketahui bernama Nani Sitorus.

Namanya mendadak viral di media sosial karena disebut-sebut berulang kali melakukan aksi serupa, baik di restoran maupun terhadap pengemudi ojek online.

Dalam rekaman video yang beredar, Nani terlihat berdiri di hadapan petugas Satpol PP dengan wajah tertunduk. Suaranya terdengar lirih, nyaris tak terdengar di tengah kerumunan yang menyaksikan.

“Saya minta maaf, Pak. Saya tahu itu enggak boleh,” ucapnya pelan.

Tak lama kemudian, ia menelungkupkan kedua tangannya dan perlahan menurunkan tubuhnya hingga hampir bersujud di lantai restoran.

Beberapa orang tampak terdiam. Ada yang merekam, ada pula yang hanya memandangi dengan ekspresi campur aduk marah, iba, dan bingung.

“Pak, jangan diviralkan ya, Pak,” katanya lagi dengan suara bergetar.

Petugas segera memintanya berdiri. Situasi yang semula riuh perlahan mereda ketika aparat mulai menggiring Nani keluar dari restoran untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Berawal dari Laporan Pelanggan

Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa itu bermula ketika Nani masuk ke restoran dan mendekati meja seorang pelanggan yang tengah berada di lokasi.

Tanpa banyak bicara, ia diduga mengambil makanan di atas meja tersebut dan kemudian berjalan pergi.

Pelanggan yang merasa dirugikan langsung melapor kepada manajemen restoran. Pihak restoran pun menegur Nani dan berkoordinasi dengan aparat setempat.

Tidak lama kemudian, petugas Satpol PP tiba dan mengamankan yang bersangkutan.

Saat pemeriksaan awal, petugas juga menyoroti bahwa Nani tidak dapat menunjukkan kartu identitas. Ia diminta bersikap kooperatif selama proses pendataan.

Peristiwa itu menambah daftar panjang dugaan aksi serupa yang dikaitkan dengannya dalam beberapa hari terakhir.

Dibawa ke Kelurahan dan Jalani Asesmen

Setelah diamankan, Nani dibawa ke Kantor Kelurahan Kebon Kelapa di Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Di sana, petugas melakukan pendataan awal sebelum akhirnya Suku Dinas Sosial (Sudinsos) Jakarta Pusat menjemputnya untuk asesmen lebih lanjut.

Kepala Sudinsos Jakarta Pusat, Agus Aripianto, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi Nani.

“Yang bersangkutan semalam sudah diamankan di kelurahan. Kami lakukan asesmen sementara, dan terkonfirmasi atas nama Nani Sitorus,” ujar Agus, Jumat (27/2/2026).

Dari hasil asesmen awal tersebut, petugas menemukan adanya indikasi yang mengarah pada gangguan kejiwaan.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa hal itu bukanlah vonis, melainkan dugaan awal berdasarkan observasi lapangan.

“Bukan berarti kami memvonis. Tapi dari perilaku yang terlihat dan laporan yang kami terima, ada indikasi yang perlu ditindaklanjuti secara medis,” jelasnya.

Atas pertimbangan tersebut, Nani kemudian dirujuk ke RSKD Duren Sawit untuk menjalani pemeriksaan lebih komprehensif.

Rumah sakit tersebut memiliki layanan khusus kesehatan jiwa dan menjadi rujukan untuk penanganan kasus-kasus serupa di wilayah DKI Jakarta.

Riwayat Aksi Serupa di Jakarta Barat

Beberapa hari sebelum diamankan di Jakarta Pusat, Nani juga diduga melakukan tindakan serupa di sebuah warung makan di kawasan Srengseng, Jakarta Barat, Minggu (22/2/2026).

Zahra (22), penjaga warung, menceritakan peristiwa itu bermula saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Ia memiringkan bangku di depan warung agar tidak terkena air. Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh.

“Saya lihat, ternyata dia sudah duduk di situ,” kata Zahra saat ditemui beberapa hari setelah kejadian.

Awalnya, Zahra mengira perempuan tersebut hanya berteduh menunggu angkutan umum.

Namun ketika hujan semakin deras, Nani masuk ke dalam warung dan menunjuk rentengan kopi sachet tanpa berbicara.

“Dia nunjuk kopi, enggak ngomong. Ya sudah saya bikinin. Tapi pas saya lagi bikin, dia ambil jajanan juga tanpa bilang apa-apa,” ujar Zahra.

Setelah menghabiskan makanan dan minuman, Nani disebut langsung berjalan pergi dan mencoba menaiki angkutan umum. Zahra pun bergegas mengejar.

“Saya bilang, ‘Mba, belum bayar.’ Dia jawab, ‘Apa sih? Saya cuma minta, saya cuma minta,’” tutur Zahra.

Perdebatan singkat itu menarik perhatian warga sekitar. Beberapa pekerja tempat pencucian motor di sebelah warung ikut keluar membantu.

Dalam situasi terdesak itulah, Nani disebut berlutut dan meminta maaf.

Video momen tersebut kemudian menyebar luas di media sosial, memicu beragam reaksi publik dari kecaman hingga rasa simpati.

Antara Pelanggaran dan Dugaan Masalah Mental

Kasus ini memunculkan dilema tersendiri. Di satu sisi, tindakan mengambil makanan tanpa membayar jelas merugikan pelaku usaha dan mengganggu ketertiban umum.

Di sisi lain, jika benar terdapat persoalan kesehatan mental, pendekatan penanganannya tentu tidak bisa semata-mata represif.

Agus Aripianto menekankan bahwa langkah merujuk Nani ke rumah sakit jiwa merupakan bagian dari pendekatan sosial.

“Untuk ukuran orang normal, harusnya tidak seperti itu. Maka kami duga ada keterkaitan dengan masalah mental. Tapi tentu nanti pihak medis yang memastikan,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, namun tidak bertindak main hakim sendiri jika menghadapi kejadian serupa.

Warga dapat melaporkan kepada aparat setempat baik kepolisian, Bhabinkamtibmas, Babinsa, maupun Satpol PP untuk ditangani sesuai prosedur.

Selain itu, masyarakat DKI Jakarta dapat menghubungi layanan darurat 112 apabila membutuhkan respons cepat dari pemerintah daerah.

Sorotan Publik dan Empati yang Terbelah

Kasus Nani menjadi potret kompleks kehidupan kota besar. Di tengah gemerlap ibu kota, masih ada individu yang terjebak dalam situasi sulit entah karena faktor ekonomi, sosial, atau kesehatan mental.

Sebagian warganet menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum yang harus diproses tegas.

Namun tidak sedikit pula yang menilai peristiwa itu sebagai alarm bahwa sistem perlindungan sosial dan kesehatan mental perlu diperkuat.

Di restoran cepat saji malam itu, ketika Nani hampir bersujud di lantai dan memohon agar tidak diviralkan, suasana seakan membeku.

Adegan tersebut menyisakan pertanyaan: apakah ia sekadar pelaku pelanggaran, atau seseorang yang tengah bergulat dengan kondisi yang tak kasatmata?

Kini, jawabannya berada di tangan tim medis di RSKD Duren Sawit. Sementara itu, publik terus mengikuti perkembangan kasus ini antara rasa geram, iba, dan harapan agar penanganan yang tepat dapat diberikan.

Peristiwa ini bukan sekadar kisah viral. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kota memperlakukan warganya yang tersandung masalah, dan bagaimana keseimbangan antara penegakan aturan serta kepedulian sosial diuji di ruang-ruang publik.

Sumber : Kompas.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.