Puasa Bedug: Apa Hukumnya dalam Islam dan Apakah Diperbolehkan?
Whiesa Daniswara February 28, 2026 12:33 PM

TRIBUNNEWS.COM - Istilah puasa bedug sering digunakan di masyarakat untuk menyebut puasa setengah hari, yaitu berpuasa sejak pagi hingga waktu Dzuhur atau ketika bedug berbunyi.

Tradisi ini biasanya diterapkan kepada anak-anak sebagai bentuk latihan sebelum mereka mampu menjalankan puasa penuh.

Di Indonesia, istilah puasa bedug ini sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam melatih anak-anak untuk menjalankan puasa.

Tradisi ini kerap memunculkan pertanyaan di kalangan orang tua: apakah puasa setengah hari memiliki dasar dalam hukum Islam?

Dan pada usia berapa latihan puasa pada anak-anak ini sebaiknya dimulai?

Dikutip dari laman Baznas, secara normatif dalam hukum Islam, puasa didefinisikan sebagai menahan diri dari segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari (Maghrib).

Berdasarkan definisi ini, secara teknis tidak ada istilah “puasa setengah hari” dalam syariat bagi mereka yang sudah berkewajiban (mukallaf).

Artinya, bagi orang yang sudah baligh dan mampu, puasa wajib harus dilakukan secara penuh dari fajar sampai Maghrib. Jika sengaja berbuka sebelum waktunya tanpa alasan syar’i, maka puasanya tidak sah.

Namun, berbeda halnya dengan anak-anak yang belum baligh.

Mereka belum terkena beban kewajiban (taklif), sehingga tidak berdosa jika membatalkan puasa di tengah hari.

Dalam konteks ini, puasa bedug dipandang sebagai bentuk latihan dan metode pendidikan (pedagogis).

Baca juga: 4 Istilah yang Kerap Muncul di Bulan Ramadan, Mokel hingga Godin, Sebutan Batal Puasa Diam-diam

Tujuannya agar anak tidak merasa kaget saat nantinya harus menjalankan puasa penuh.

Para ulama umumnya menganjurkan usia tujuh tahun sebagai waktu awal untuk mulai memperkenalkan ibadah secara lebih formal.

Anjuran ini dianalogikan dengan perintah mengajarkan salat pada usia yang sama.

Meski demikian, setiap anak memiliki kesiapan fisik dan mental yang berbeda-beda, sehingga orang tua perlu menyesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Berikut tahapan yang bisa diterapkan dalam melatih anak berpuasa:

1. Usia 3–5 Tahun (Fase Perkenalan)

Pada tahap ini, anak cukup diajak merasakan suasana Ramadan, seperti ikut sahur atau berbuka bersama keluarga. Tidak ada tuntutan untuk menahan lapar. Tujuannya adalah membangun kedekatan emosional dan rasa senang terhadap Ramadan.

2. Usia 6–7 Tahun (Fase Puasa Bedug)

Ini adalah fase yang umum untuk mulai mencoba puasa setengah hari. Anak belajar menahan lapar dan haus hingga waktu Dzuhur. Pada tahap ini, mereka mulai dikenalkan pada disiplin waktu dan pengendalian diri secara bertahap.

3. Usia 10 Tahun ke Atas (Fase Pendisiplinan)

Jika kondisi fisik anak memungkinkan, mereka mulai didorong untuk berpuasa penuh hingga Maghrib. Di usia ini, ketahanan tubuh biasanya sudah lebih stabil, sehingga lebih siap menjalankan puasa secara utuh.

Kesimpulannya, puasa bedug tidak memiliki dasar sebagai bentuk puasa wajib dalam syariat Islam.

Namun, ia diperbolehkan sebagai metode latihan bagi anak-anak yang belum baligh.

Dengan pendekatan yang bertahap dan penuh kasih sayang, orang tua dapat membantu anak mencintai ibadah puasa tanpa merasa terpaksa.

Baca juga: Hukum Puasa tetapi Tidak Menunaikan Salat, Begini Penjelasannya

Agar puasa bedug menjadi sarana belajar yang efektif dan tidak terasa menyiksa, orang tua perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Niat sebagai Edukasi

Walaupun hanya berpuasa setengah hari, ajarkan anak untuk tetap membaca niat pada malam hari atau saat sahur. Hal ini penting agar anak memahami bahwa puasa adalah ibadah yang dilakukan karena Allah, bukan sekadar menunda waktu makan dan minum. Dengan begitu, sejak kecil mereka sudah mengenal makna keikhlasan dalam beribadah.

2. Fleksibilitas Waktu Berbuka

Karena sifatnya latihan, orang tua tidak perlu bersikap kaku. Jika anak merasa sangat lemas, misalnya sebelum Dzuhur, izinkan ia minum atau makan secukupnya.

Setelah itu, orang tua bisa mengajaknya mencoba “berpuasa kembali” hingga waktu yang disepakati, seperti Dzuhur atau Ashar. Pendekatan ini mengajarkan konsep bertahap (tadarruj) dalam Islam, sekaligus menjaga kondisi fisik dan psikologis anak.

3. Nutrisi Sahur yang Berkualitas

Anak-anak sedang berada dalam masa pertumbuhan, sehingga asupan sahur harus diperhatikan dengan baik. Pastikan mereka mengonsumsi makanan bergizi, seperti karbohidrat kompleks dan protein, agar energi dapat bertahan lebih lama selama menjalani latihan puasa setengah hari. Hindari makanan yang terlalu manis atau instan agar anak tidak cepat merasa lemas.

Selain bernilai ibadah, puasa bedug juga memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter anak.

Latihan ini membantu mereka belajar mengendalikan diri dan memahami bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga.

Ketika berhasil menahan lapar hingga waktu Dzuhur, anak akan merasakan kebanggaan dan pencapaian (sense of achievement) yang meningkatkan rasa percaya diri.

Di sisi lain, mereka juga mulai belajar berempati dengan memahami bagaimana rasanya menahan lapar, sehingga tumbuh kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung.

(Tribunnews.com/Latifah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.