BANGKAPOS.COM--Sosok Sarifah Suraidah Abidien Harum tengah menjadi perhatian publik setelah gaya busananya saat blusukan viral di media sosial.
Istri Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Masud, itu menuai beragam komentar usai tampil mengenakan gamis putih lengkap dengan topi lebar senada dan kalung mutiara saat menyapa seorang nenek penjual sayur.
Video yang beredar memperlihatkan Sarifah turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan warga.
Namun, penampilannya justru memancing perdebatan. Sebagian warganet menilai busana tersebut terlalu mencolok untuk kegiatan blusukan.
Bahkan, muncul sebutan “Noni Belanda” yang ramai diperbincangkan di kolom komentar.
Di tengah sorotan itu, nama Sarifah kembali menjadi perbincangan, bukan hanya karena gaya berbusana, tetapi juga rekam jejaknya di dunia politik dan sosial.
Sarifah Suraidah Abidien Harum lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 1 Januari 1981.
Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 1 Penajam, Kabupaten Pasir, kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Penajam.
Pendidikan terakhirnya ditempuh di SMK Sekolah Perawat Kesehatan Departemen Kesehatan Balikpapan.
Latar belakang pendidikan kesehatan itu sempat membentuk citranya sebagai figur yang dekat dengan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dalam kehidupan sosialnya, Sarifah Suraidah Abidien Harum dikenal aktif dalam berbagai kegiatan.
Sarifah merupakan kader Partai Golkar dan kini menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029 mewakili daerah pemilihan Kalimantan Timur.
Ia dilantik pada 1 Oktober 2024 menggantikan suaminya yang maju dalam kontestasi Pilkada dan terpilih sebagai gubernur.
Selain itu, ia juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Ikatan Istri Partai Golkar (IIPG) Kalimantan Timur periode 2020–2025.
Dalam kiprah organisasinya, Sarifah dikenal aktif menggelar kegiatan sosial, termasuk pembagian sembako dan kegiatan open house untuk masyarakat.
Ia juga mendirikan komunitas Bestie Syarifah Suraidah (BSS) yang menjadi wadah aktivitas sosial dan pemberdayaan.
Tak hanya berkecimpung di politik, Sarifah juga memiliki latar belakang sebagai pemimpin perusahaan.
Ia tercatat pernah menjabat sebagai Direktur PT Barokah Agro Perkasa pada 2014–2023.
Di bidang sosial, ia mendirikan Harum Center Foundation yang bergerak dalam kegiatan sosial, edukasi, dan pengembangan masyarakat.
Yayasan tersebut menjadi salah satu sarana yang memperkuat citranya sebagai figur publik yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.
Menanggapi ramainya komentar publik, Sarifah tidak memberikan klarifikasi langsung terkait polemik busananya.
Namun melalui akun Instagram pribadinya, @syarifahsuraidah, ia membagikan sejumlah kutipan reflektif dan doa sejak Rabu (25/2/2026) hingga Kamis (26/2/2026).
Salah satu unggahannya berbunyi, “Kalau satu orang menyerang, itu opini. Kalau berkelompok menyerang, itu rasa takut. Mereka butuh keramaian untuk menjatuhkan.”
Ia juga membagikan pesan motivasi tentang kerja keras dan ketidaksukaan orang lain, serta doa perlindungan dari rasa iri dan dengki.
Menjelang Ramadan, Sarifah turut mengunggah doa agar bulan suci menjadi momentum kabar baik, rezeki lancar, dan keberkahan.
Doa Perlindungan dan Harapan Menyambut Ramadan
Tak hanya refleksi, Sarifah juga menyelipkan doa-doa bernuansa personal menjelang bulan suci Ramadan. Salah satu doa yang diunggah berbunyi:
"Ya Allah jadikanlah Ramadhan tahun ini, menjadi bulan Ramadhan yang dipenuhi kabar baik, kebahagiaan, rezeki lancar dan keberkahan."
Ia turut membagikan doa perlindungan yang sarat makna:
"Ya Allah, lindungilah kami dari rasa iri dan dengki orang-orang yang tidak menyukai kami tanpa alasan. Lindungilah kami dari orang-orang yang ingin mencelakai kami, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
Jagalah hati kami, keluarga kami, dan urusan kami dari tipu daya mereka, dan berikanlah kami kedamaian, keselamatan, dan petunjuk dalam setiap langkah yang kami ambil.
Unggahan-unggahan tersebut dinilai sebagian warganet sebagai bentuk respons batin atas kritik yang tengah mengarah kepadanya.
Kontroversi busana saat blusukan mungkin hanya satu episode dalam perjalanan panjang karier Sarifah Suraidah Abidien Harum.
Sebagai politisi, istri kepala daerah, sekaligus anggota DPR RI, setiap langkah dan penampilannya tak lepas dari perhatian publik.
Di satu sisi, ia dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Di sisi lain, sorotan publik menunjukkan bahwa figur publik selalu berada di ruang terbuka penilaian.
Di tengah derasnya opini, Sarifah memilih merespons dengan pesan-pesan reflektif dan spiritual sebuah sikap yang memperlihatkan bagaimana tekanan publik tak hanya dijawab dengan pernyataan politik, tetapi juga dengan pendekatan personal dan keimanan.
(Tribun Trends/Tribun Medan)