TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jember angkat bicara terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan. Kritik muncul setelah menu yang dibagikan kepada siswa oleh Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) banyak diprotes warganet di media sosial.
“Kami minta Satgas MBG Pemkab Jember turun mengecek dan memberikan peringatan kepada SPPG nakal. Karena dari sisi kuantitas, kelihatan betul ada yang tanda kutip dicurangi,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Selama Ramadan, SPPG disebut hanya membagikan makanan kering berupa roti, buah, telur, dan kacang. Jika dihitung, nilai satu porsi dinilai tidak mencapai kisaran Rp 8 ribu.
Baca juga: Banyak Wali Murid Berbagai Wilayah di Jember Keluhkan Menu MBG Ramadan
Ketua DPC PDIP Jember, Widarto, menilai masyarakat sudah familiar dengan harga menu tersebut di pasaran. Karena itu, muncul dugaan adanya pengurangan nilai atau kuantitas dari standar yang seharusnya.
Widarto yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Jember mendorong agar Satgas MBG tidak ragu memberikan sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran.
“Diperingatkan sekali dua kali, mereka tetap bandel. Rekomendasikan saja kepada bupati untuk ditutup SPPG itu. Toh masih banyak mereka yang punya modal usaha ini, siap untuk membuka juga,” tegasnya.
Baca juga: Video Flexing SPPG Jember Pamer Gaji MBG untuk Beli Honda Jazz
Menurut Widarto, langkah pengawasan perlu dilakukan demi menjaga kredibilitas program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau program ini semrawut dan dari sisi kuantitas banyak dikurangi, tentu yang dirugikan Pak Prabowo. Maka sejatinya kami juga mengawal program prioritas nasional,” ucapnya.
Ia juga menyinggung potensi penyimpangan apabila pengurangan porsi dilakukan secara terus-menerus setiap hari, bahkan disebut ada SPPG yang membagikan jatah untuk dua hingga tiga hari sekaligus.
“Kita bisa hitung, mungkin kalau hariannya tidak besar. Tetapi kalau dikalikan? bahkan ada beberapa SPPG itu yang dirapel, satu kali ngasih (MBG) untuk dua hari, untuk tiga hari,” katanya.
Baca juga: Wali Murid Keluhkan Menu MBG Ramadan di Bondowoso, Sangat Ala Kadarnya
Widarto menilai, jika SPPG menjalankan MBG sesuai anjuran Badan Gizi Nasional (BGN), secara bisnis tetap memungkinkan memperoleh keuntungan. Terlebih pada Ramadan, biaya operasional dinilai lebih rendah karena tidak ada proses memasak berat.
“Apalagi pada Ramadan biaya tenaga kerjanya harus berkurang kan. Tidak perlu masak, kalaupun ada kebutuhan gas hanya untuk rebus telur mungkin. Tapi kalau buah, kacang dan roti mereka sudah beli. Artinya secara operasional sudah jauh berkurang, kenapa harus dicurangi,” tuturnya.