TA Khalid Tinjau Pusat Pemurnian Sapi Aceh, Ajak Masyarakat Kembangkan Ternak Lokal
Saifullah February 28, 2026 10:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Aceh Besar 

SERAMBINEWS.COM, JANTHO – Di hamparan padang sabana seluas ratusan hektare di Gampong Reukih Dayah, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, kumpulan sapi berwarna cokelat kemerahan tampak merumput tenang di sejumlah sudut padang penggembalaan. 

Di sana upaya pemurnian dan pengembangan Sapi Aceh terus dilakukan.

Tempat yang memiliki area 430 hektare ini merupakan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT).

Sebuah lembaga di bawah Kementerian Pertanian RI yang sejak 1978 menjadi pusat pengembangan dan pemurnian Sapi Aceh.

Anggota Komisi IV DPR RI asal Aceh, TA Khalid pada Sabtu (28/2/2026), meninjau langsung perkembangan di balai tersebut. Kunjungan itu bukan yang pertama baginya, namun ia mengaku melihat progres yang semakin signifikan.

“Ini sebenarnya kunjungan saya sebagai Anggota Komisi IV DPR RI. BPTU ini merupakan bagian dari kegiatan Kementerian Pertanian yang menjadi mitra kami,” ujarnya. 

Baca juga: Disnak Gandeng 3 Profesor untuk Matangkan Kajian Pulo Aceh sebagai Wilayah Sumber Bibit Sapi Aceh 

“Kebetulan saya ada di Aceh dan ingin melihat langsung bagaimana progres perkembangan pemurnian sapi Aceh,” kata Khalid.

Ia menegaskan, sebagai wakil rakyat dari Aceh, dirinya berkepentingan agar Sapi Aceh terus dimurnikan dan dikembangkan oleh masyarakat Tanah Rencong, sehingga menjadi salah satu sapi unggul di Indonesia.

Dalam kunjungan ini, TA Khalid bahkan membandingkan kondisi kawasan balai saat ini dengan beberapa tahun lalu. Menurutnya, beberapa tahun lalu, kawasan BPTU-HPT ini masih banyak semak belukar. 

Namun, sekarang sudah sangat bagus dan ternak sapi juga terpantau sehat. 

Ia berharap, balai tersebut dapat semakin banyak menghasilkan pejantan unggul untuk kebutuhan pembibitan di masyarakat.

“Sehingga nanti tidak ada lagi sapi-sapi Aceh di masyarakat yang kerdil atau inbreeding (perkawinan sedarah). Karena pada dasarnya, Sapi Aceh ukurannya besar-besar,” tegasnya.

Baca juga: Sapi Aceh Diminati di Langkat dan Diternakkan Dalam Skala Besar 

Sementara itu, Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Yanhendri mengakui, kualitas Sapi Aceh di tingkat masyarakat memang cenderung menurun dari tahun ke tahun. 

Salah satu penyebab utamanya adalah praktik perkawinan sedarah dan tidak adanya seleksi bibit di tingkat peternak.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada ketersediaan pakan, melainkan pada manajemen pembibitan.

“Penyebabnya itu inbreeding, tidak ada seleksi sama sekali di masyarakat. Bahkan sapi-sapi ternak mereka yang bagus itu justru mereka jual, dan yang ditinggal itu sapi-sapi yang tidak layak untuk kawin,” jelas Yanhendri.

Akibatnya, kualitas genetik terus menurun dan ukuran tubuh sapi semakin kecil. 

Untuk mengatasi itu, balai menyiapkan pejantan-pejantan unggul bersertifikat yang bisa didistribusikan ke masyarakat.

“Makanya di sini kita siapkan jantan-jantan unggul. Agar sapi-sapi jantan yang ada di masyarakat dijual semua dan diganti dengan jantan unggul yang ada di kita,” ujarnya.

Baca juga: TA Khalid Luapkan Kekecewaannya ke Menteri Trenggono karena Tak Beri Kabar Tinjau Lokasi Banjir Aceh

Saat ini, kata dia, total populasi Sapi Aceh di balai tersebut mencapai sekitar 1.600 ekor. 

Pola pemeliharaan dilakukan dengan dua metode, yakni penggembalaan dan intensif.

Untuk padang gembala dikhususkan bagi sapi betina, sementara intensif yakni untuk sapi jantan dengan tujuan menghasilkan bibit unggulan. 

Sapi jantan unggul yang dipelihara secara intensif itulah yang kemudian didistribusikan kepada masyarakat dengan mekanisme penjualan.

“Tujuan dibeli pun tidak boleh untuk dipotong. Semua ini bibitnya bersertifikat, karena tujuannya untuk pengembangan sapi Aceh di masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan, bahwa prosedur pembelian bisa dilakukan secara langsung maupun melalui aplikasi “LeLeumo”. 

Hasil penjualan tersebut masuk sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Menuju Edu Wisata

Yanhendri juga mengungkapkan, bahwa selain sebagai pusat pembibitan Sapi Aceh, balai ini dalam waktu dekat juga bakal difungsikan sebagai tempat wisata edukasi. 

Selama ini kunjungan umum masih dibatasi karena kekhawatiran penularan penyakit ternak seperti PMK.

Namun, dengan hadirnya sejumlah sejumlah fasilitas baru, pihak balai sudah siap menghadirkan lokasi wisata edukasi untuk masyarakat umum. 

“Tahun ini kita akan buka area khusus untuk edukasi peternakan, mulai dari anak TK sampai yang pensiunan, yang tertarik mau beternak itu kita terima,” ungkap Yanhendri.

Area khusus itu nantinya memungkinkan masyarakat berkunjung tanpa prosedur surat-menyurat, khusus untuk wisata edukasi atau sekadar melihat aktivitas peternakan. 

Sementara untuk yang ingin magang atau penelitian baru diwajibkan bersurat, bisa lewat aplikasi ‘LeLeumo’ atau langsung. 

Di padang gembala yang luas itu, pihak balai nantinya akan menempatkan sapi-sapi di sejumlah area tertentu agar pengunjung bisa menyaksikan langsung aktivitas peternakan.

“Selama ini kita membatasi kunjungan, masyarakat umum yang hanya sekedar datang lihat-lihat itu tidak bisa,” beber dia. 

“Tapi dengan sudah dibangunnya fasilitas ini, maka masyarakat yang ingin berfoto saja nanti kita fasiliasi,” pungkasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.