Peneliti Ungkap Bukti Soekarno Lahir di Jombang 6 Juni 1902, Bukan di Surabaya?
Cak Sur February 28, 2026 10:32 PM

 

SURYA.CO.ID, JOMBANG - Suasana berbeda tampak di Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari, Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (28/2/2026) sore.

Alih-alih menghabiskan waktu menunggu berbuka dengan berburu takjil, puluhan orang memilih mengikuti diskusi sejarah yang mengulas jejak kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB itu, dihadiri sekitar 70 peserta dari berbagai kalangan yang antusias menyimak materi sejarah.

Berikut adalah latar belakang para peserta yang hadir dalam diskusi tersebut:

  • Akademisi
  • Santri
  • Pegiat literasi
  • Masyarakat umum

Mereka terlibat dalam bedah dua buku bertema sejarah, yakni Titik Nol Soekarno 1902 karya Gus Binhad Nurrohmat dan Menemukan Bung Karno di Jombang karya Ach Faisol.

Penelusuran Jejak Soekarno di Ploso

Dalam paparannya, Gus Binhad menjelaskan, bahwa penulisan bukunya berangkat dari berbagai informasi yang berkembang di masyarakat mengenai keterkaitan masa kecil Soekarno dengan wilayah Jombang.

Salah satu isu yang mencuat adalah dugaan bahwa proklamator kemerdekaan tersebut lahir di Kecamatan Ploso.

Menurutnya, klaim tersebut tidak cukup hanya disandarkan pada cerita lisan, tetapi perlu diperkuat dengan riset berbasis arsip.

Ia mengaku menelusuri sejumlah dokumen resmi, serta menghimpun kesaksian warga setempat untuk merekonstruksi peristiwa sejarah itu.

Dari penelusuran tersebut, ia menyimpulkan Soekarno lahir di Ploso, tepatnya di Gang Buntu, Desa Rejoagung pada 6 Juni 1902.

Tanggal tersebut, kata dia, sejalan dengan sejumlah dokumen, termasuk catatan dalam buku induk mahasiswa di Institut Teknologi Bandung yang mencantumkan tanggal kelahiran 6 Juni 1902, serta catatan keluarga.

Bukti Penugasan Raden Soekeni

Ia juga memaparkan bahwa ayah Soekarno, Raden Soekeni, telah bertugas di Ploso sebagai mantri guru di sekolah Ongko Loro milik pemerintah kolonial Belanda sebelum kelahiran putranya.

"Penugasan itu dibuktikan melalui dokumen pengangkatan yang terbit pada Desember 1901, yang menunjukkan keberadaan sang ayah di wilayah tersebut beberapa bulan sebelum 6 Juni 1902," ucap Binhad dalam pemaparannya kepada SURYA.co.id.

Selain dokumen tertulis, Gus Binhad menilai memori kolektif masyarakat Ploso menjadi bagian penting dalam penyusunan narasi sejarah.

"Cerita turun-temurun mengenai masa kecil Soekarno dapat menjadi pelengkap dalam membaca fakta arsip," ujarnya melanjutkan.

Sementara itu, Ach Faisol menuturkan bahwa karyanya menitikberatkan pada pelacakan jejak sosial dan kultural Soekarno di Jombang.

Ia menilai, pendekatan yang menggabungkan arsip dan sejarah lisan mampu menghadirkan gambaran lebih utuh tentang fase awal kehidupan tokoh bangsa tersebut.

"Diskusi seperti ini penting untuk membuka ruang kajian sejarah yang lebih luas, sekaligus memperkuat kontribusi Jombang dalam narasi sejarah nasional," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.