TRIBUNNEWS.COM - Tanda-tanda peringatan darurat berupa bunyi sirene semakin memenuhi berbagai lokasi di Israel.
Hal tersebut dirilis oleh akun media sosial X (Twitter) Pasukan Pertahanan Israel @IDF pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Simbol-simbol merah berangsur semakin banyak tersebar di banyak lokasi dalam hitungan jam
Padahal 3 jam yang lalu, simbol tersebut masih tersebar dan berjarak di bagian utara dan selatan Israel.
Akun IDF juga memberikan keterangan pada unggahan gambarnya.
"Sirene kembali berbunyi di seluruh Israel!" tulis akun tersebut pada 19.50 WIB atau sekitar 14.50 waktu Israel.
Mengutip jewishnews, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara bersama pre-emptive strike terhadap Republik Islam Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, menandai eskalasi besar konflik di Timur Tengah yang memicu ledakan dan sirene di ibu kota Teheran serta kawasan lain.
Operasi militer skala besar ini disebut sebagai respons terhadap ancaman yang dinilai terus meningkat dari program nuklir dan rudal Iran, serta bertepatan dengan putusnya negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran mengenai pembatasan senjata nuklir dan balistik.
Baca juga: Jumlah Korban Serangan Israel Tewaskan 40 Siswa di Sekolah Iran, Semuanya Perempuan
Menurut laporan dari lembaga-lembaga media internasional, serangan yang disebut pemerintah Israel sebagai tindakan pendahuluan itu melibatkan misil dan serangan udara yang menarget fasilitas-fasilitas militer dan infrastruktur strategis di Teheran dan kota-kota lain di Iran.
Ledakan terdengar luas di kawasan ibu kota, sementara sirene darurat berbunyi di berbagai wilayah, termasuk di Israel sendiri yang menetapkan status darurat dan mengeluarkan perintah bagi warganya untuk berlindung.
Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel menyatakan bahwa serangan dilancarkan secara pre-emptive (“pendahuluan”) untuk menetralkan apa yang disebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional.
Operasi yang disebut Lion’s Roar atau Epic Fury ini dilaporkan telah direncanakan bersama antara Israel dan AS selama beberapa bulan, dengan target meliputi situs militer, fasilitas rudal, serta lokasi yang diyakini dapat digunakan Iran untuk menyerang Israel atau sekutunya di kawasan.
Sementara itu, Presiden AS menyatakan keterlibatan militer negaranya dalam operasi besar terhadap Iran melalui pernyataan publik yang menegaskan bahwa tindakan itu diperlukan untuk melindungi warga Amerika serta mencegah kemungkinan Iran memperoleh kemampuan nuklir ofensif.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa serangan tersebut menandai “operasi tempur besar-besaran” dengan tujuan menghancurkan ancaman yang dihadapi AS dan sekutunya.
Data awal menyebut ledakan terdengar di wilayah pusat Teheran dan kepulan asap terlihat di beberapa titik strategis.
Kejadian ini memicu kekhawatiran publik dan ketidakpastian di seluruh Negeri Persia tersebut.
Belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban jiwa atau kerusakan infrastruktur secara menyeluruh dalam insiden yang masih berlangsung ini.
Reaksi global terhadap serangan itu sudah mulai bermunculan.
Beberapa negara mengecam tindakan militer Israel dan AS, sementara kekhawatiran meningkat tentang potensi perluasan konflik yang lebih luas di kawasan Teluk dan sekitarnya, termasuk kemungkinan dampak bagi keamanan global serta jalur energi internasional.
Lembaga seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa diperkirakan akan menjadi forum penting untuk pembahasan lebih lanjut atas legalitas dan konsekuensi dari tindakan militer ini.
Perkembangan terbaru di lapangan menunjukkan eskalasi yang cepat dan kompleks, menunjukkan potensi terjadinya babak baru dalam konflik berskala regional di Timur Tengah.
Sekolah dasar perempuan di kota Minab, Provinsi Hormozgan, selatan Republik Islam Iran, menjadi salah satu lokasi tragedi paling mematikan dalam eskalasi militer terbaru antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Serangan udara yang dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026 menewaskan puluhan siswa dan melukai puluhan lainnya, menurut laporan media negara Iran yang dilansir oleh berbagai media internasional, termasuk Anadolu Agency, Premium Times dan ON Manorama.
Mayoritas korban adalah pelajar usia anak-anak yang berada di dalam gedung saat serangan terjadi pada pagi hari.
Kronologi Serangan
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi besar-besaran konflik yang dipicu oleh operasi militer gabungan Israel dan AS yang menarget sejumlah infrastruktur militer Iran, termasuk kawasan strategis di Ibu Kota Teheran dan wilayah selatan. L
aporan dari AFP dan Associated Press menegaskan bahwa serangan yang disebut-sebut sebagai strike awal itu dilancarkan sebagai upaya untuk menekan kemampuan militer dan ancaman yang dianggap ditimbulkan Iran.
Pada saat serangan dilancarkan, sekolah dasar itu dipenuhi siswa yang sedang memulai hari pembelajaran.
Dentuman kuat terdengar di lokasi, disusul kepulan asap dan upaya evakuasi darurat oleh pihak berwenang setempat.
Laporan menyebutkan bahwa sedikitnya 45 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di fasilitas kesehatan terdekat.
Pemerintah Iran secara tegas mengutuk serangan tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan menargetkan warga sipil tak bersalah.
Pernyataan otoritas setempat menegaskan solidaritas nasional dan janji akan tindakan balasan terhadap pihak yang mereka anggap bertanggung jawab atas serangan itu.
Serangan ini memicu kecaman internasional dan meningkatkan kekhawatiran eskalasi kekerasan yang dapat meluas di kawasan Timur Tengah.
Beberapa analis menyebut tragedi Minab sebagai salah satu titik balik konflik yang berpotensi memicu intervensi lebih lanjut dari aktor regional maupun global.
Serangan ini merupakan bagian dari serangkaian konfrontasi militer yang lebih luas antara Iran dan koalisi Israel-AS, yang menurut beberapa laporan, termasuk serangan terhadap fasilitas militer Iran serta pernyataan tegas dari pihak-pihak terkait mengenai ancaman terhadap stabilitas regional.
Eskalasi dimulai setelah kegagalan negosiasi nuklir dan meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.
Pemerintah dan organisasi internasional di berbagai negara menyerukan de-eskalasi dan perlindungan warga sipil di tengah meningkatnya korban.
(Tribunnews.com/ Chrysnha)