TRIBUNNEWS.COM - Baluwarti dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang konsisten mengusung pelestarian tradisi Jawa di Kota Surakarta.
Berada di kawasan Keraton Surakarta Hadiningrat, lingkungan ini tak sekadar menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tumbuh dan terjaganya berbagai kesenian hingga saat ini.
Salah satu titik pentingnya adalah Ndalem Atmo Supomo di Jl Hordenasan II No 80, Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta.
Rumah bernuansa Jawa dengan pendopo khas ini dulunya merupakan kediaman seniman Wayang Beber sekaligus abdi dalem Keraton, Raden Ngabei Atmo Supomo.
Kini, rumah tersebut telah bertransformasi menjadi Galeri Naladerma, ruang pelestarian budaya yang terbuka bagi masyarakat.
Di galeri inilah Wayang Beber tak hanya dipajang sebagai karya seni, tetapi juga dihidupkan kembali melalui berbagai kegiatan edukasi.
Cucu Atmo Supomo, Doni Susanto, tak ingin Galeri Naladerma hanya menjadi ruang nostalgia.
Ia membuka kelas-kelas Wayang Beber untuk anak-anak guna menciptakan regenerasi dan menumbuhkan minat generasi muda terhadap kesenian leluhur.
Bersama Valent, warga Baluwarti, ia menghadirkan berbagai kegiatan seperti lomba mewarnai Wayang Beber, belajar menulis Aksara Jawa, hingga pementasan wayang dan ketoprak.
Galeri Naladerma menjadi pusat pembelajaran budaya yang dikemas dalam berbagai kelas dan aktivitas.
Baca juga: Menjaga Warisan Leluhur: Kisah Seniman Wayang Beber Dulu, Sekarang dan Masa Depan
Program ini dirangkum dalam tajuk "Baluwarti Experience", yang dikelola Valent, warga Baluwarti.
Kegiatan tidak hanya berfokus di Ndalem Atmo Supomo, tetapi juga tersebar di sejumlah titik kampung seperti Jalan Gambuhan, Wirengan, Tamtaman, Purwodingratan, hingga Hordenasan.
Kawasan ini disebut sebagai ruang eksplorasi budaya yang telah berjalan selama jalan tujuh tahun.
Kelas-kelas ini dibuka untuk umum baik anak-anak, pelajar maupun dewasa/umum.
Kegiatan ini dapat diikuti melalui sistem reservasi di media sosial @kampungwisatabaluwarti.
Beragam kelas yang ditawarkan antara lain:
Setiap sesi edukasi berdurasi sekitar satu jam, lengkap dengan materinya.
Valent menjelaskan pemateri atau mentor dari warga Baluwarti.
Biaya kunjungan atau HTM dapat disesuaikan melalui reservasi WhatsApp di 08122523422 atau DM Instagram @kampungwisatabaluwarti.
Adapun biaya tersebut mencangkup mentor, tempat praktik, dokumentasi, hasil karya, hingga konsumsi.
Menurut Valent, konsep ini dirancang sebagai pengalaman langsung, bukan sekadar kunjungan wisata pasif.
"Mentornya warga Baluwarti sendiri. Jadi ini benar-benar ruang eksplorasi hidup budaya," ujar Valent kepada Tribunnews, Sabtu (28/2/2026).
Pada Sabtu (28/2/2026), kegiatan Baluwarti Experience turut mendapat perhatian dengan hadirnya Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani.
Dalam momen tersebut, digelar edukasi tentang Wayang Beber karya Atmo Supomo hingga muridnya, Joko Sriyono.
Selain itu, permainan edukatif menggunakan media kartu aksara Jawa juga dihadirkan.
Setiap kartu berisi huruf aksara Jawa yang harus dihafal peserta melalui permainan seru dan interaktif.
Pada saat kunjungan itu, anak-anak tampak antusias belajar sambil bermain.
Ini membuktikan pelestarian budaya bisa dikemas secara kreatif dan menyenangkan.
Melihat hal ini, Astrid berencana membawa game atau permainan ini ke sekolah-sekolah.
Ia berharap dengan inovasi permainan anak-anak, para siswa mampu belajar aksara Jawa dengan senang dan mudah diterima.
Di momen yang sama, Astrid juga menyoroti soal inovasi permaianan teka-teki silang (TTS) beraksara Jawa yang dipandu mentor setempat.
Astrid pun mengimbau masyarakat agar ikut melestarikan seluruh budaya Jawa.
Tidak hanya wayang kulit dan wayang wong, wayang beber tetapi juga kesenian lain sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi di Kota Surakarta.
Ia mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga tradisi, mulai dari seniman, budayawan, mahasiswa, hingga wisatawan.
Astrid berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam pelestarian budaya Jawa agar identitas Surakarta sebagai kota budaya tetap langgeng.
(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani)