Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Saat Ramadhan: Niat, Tata Cara, hingga Waktu Pelaksanaannya
Sarah Elnyora Rumaropen March 01, 2026 04:35 AM

SURYAMALANG.COM, - Umat Muslim di tanah air akan segera menyaksikan fenomena alam yang sarat makna spiritual pada Selasa, 3 Maret 2026 mendatang.

Gerhana Bulan Total diprediksi akan menyapa langit Nusantara tepat pada malam ke-14 bulan suci Ramadhan 1447 H.

Momentum langka saat bulan purnama sempurna di tengah suasana Ramadhan ini menjadi ajakan bagi umat Islam untuk mempertebal iman.

Beberapa amalan yang bisa dilakukan antara lain dengan sholat sunnah gerhana (Khusuf al-Qamar), zikir, dan sedekah sebagaimana tuntunan Rasulullah SAW.

Makna Spiritual Gerhana Bulan

Dalam pandangan Islam, gerhana Bulan Total adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang ditujukan untuk mempertebal iman dan rasa takut hamba-Nya kepada Sang Pencipta. 

Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk mengisi waktu terjadinya fenomena ini dengan melaksanakan sholat sunnah gerhana (Khusuf al-Qamar), memperbanyak zikir, sedekah, serta memohon ampunan sebagai bentuk refleksi atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Mengutip Kemenag, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain (Beirut, Darul Kutubil Ilmiyah: 2002), halaman 108 menjelaskan, hukum melaksanakan shalat khusuf ini adalah sunnah muakkadah alias sunnah yang sangat dianjurkan. 

Pelaksanaannya pun tidak jauh berbeda dengan gerakan shalat sunnah pada umumnya.

Syekh Nawawi kemudian menjelaskan, shalat gerhana memiliki tiga tingkatan.

Pertama adalah paling minimal, yaitu dua rakaat sebagaimana shalat sunnah Zuhur. 

Kedua adalah tingkat pertengahan dengan dua kali rukuk dan dua kali sujud.

Ketiga adalah tingkatan sempurna, yaitu setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan membaca surat-surat panjang sesuai kemampuan, misalnya Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan Al-Ma’idah atau seukuran itu.

Rukuk dan sujudnya pun dilakukan sesuai panjang bacaan surat tersebut.

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan Total, 3 Maret 2026

Pelaksanaan ibadah ini dapat dilakukan secara berjamaah di masjid maupun secara sendirian (munfarid), yang dimulai sejak awal dimulainya gerhana hingga bulan kembali bersinar terang. 

Adapun tata cara melaksanakan shalat gerhana bulan (khusuf) tingkat pertengahan adalah sebagaimana berikut dikutip dari Kemenag

1. Niat shalat gerhana yang dibarengi dengan takbiratul ihram.

Adapun lafal niatnya adalah sebagaimana berikut:

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى 

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ. 

Artinya, “Saya niat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

2. Membaca doa Iftitah.

3. Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah.

4. Membaca surat Al-Qur’an dengan jahr (lantang).

5. Rukuk pertama (lama).

6. Bangkit dari ruku (I‘tidal).

7. Membaca surat Al-Fatihah kembali. 

8. Membaca surat yang lebih pendek dari surat pada poin 4.

9. Rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama).

10. Bangkit dari ruku (I‘tidal).

11. Sujud pertama.

12. Duduk di antara dua sujud.

13. Sujud kedua.

Selanjutnya berdiri untuk melaksanakan rakaat kedua dan tata caranya pun sama sebagaimana pada rakaat pertama.

Hanya saja, bacaan suratnya lebih pendek daripada bacaan surat pada rakaat pertama.

Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan tasyahud akhir dan ditutup dengan salam.

Dengan demikian, tata cara shalat Khusuf atau gerhana bulan itu pada dasarnya adalah sama seperti shalat sunnah pada umumnya.

Perbedaannya terletak pada jumlah rukuk dan sujud yang dilakukan di setiap rakaatnya. Wallahu a‘lam.

Waktu Pelaksanaan Sholat Gerhana Bulan Total

Sholat gerhana Bulan Total tanggal 3 Maret 2026 dilaksanakan pada saat terjadi gerhana sampai dengan usai gerhana.

Setelah gerhana usai sementara salat masih ditunaikan, maka sholat tetap dilanjutkan dengan memperpendek bacaan.

Orang yang dapat mengerjakan sholat gerhana adalah mereka yang mengalami gerhana atau berada di kawasan yang dilintasi gerhana. 

Baca juga: Niat dan tata Cara Sholat Dhuha Saat Ramadhan 2026 dengan Tulisan Latin, Lengkap Doa Setelah Sholat

Sementara bagi mereka yang kawasannya tidak dilintasi gerhana tidak perlu mengerjakan sholat gerhana. 

Berikut urutan terjadi Gerhana Bulan Total pada Selasa, 3 Maret 2026:

Fase Gerhana Sebagian Mulai

WIT: 18:50
WITA: 17:50
WIB: 16:50

Fase Gerhana Total Mulai

WIT: 20:04
WITA: 19:04
WIB: 18:04

Fase Puncak Gerhana

WIT: 20:33
WITA: 19:33
WIB: 18:33

Fase Gerhana Total Berakhir

WIT: 21:02
WITA: 20:02
WIB: 19:02

Fase Gerhana Sebagian Berakhir

WIT: 22:17
WITA: 21:17
WIB: 20:17

Dasar Hukum Pelaksanaan Sholat Gerhana

Dikutip dari Muhammadiyah Jateng, dasar melaksanakan sholat Gerhana berasal dari Aisyah hadist riwayat an-Nasai:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَسَفَتِ الشَّمْسُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا فَنَادَى أَنِ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعَ النَّاسُ فَصَلَّى بِهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ ......... ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ فِيهِمْ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَأَيُّهُمَا خَسَفَ بِهِ أَوْ بِأَحَدِهِمَا فَأَفْزَعُوا إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِذِكْرِ الصَّلَاةِ [رواه النسائي.

Artinya:

"Dari 'Aisyah (diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari lalu Rasulullah saw memerintahkan seseorang menyerukan aş-salātu jämi'ah. Kemudian orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah saw salat mengimami mereka.

Beliau bertakbir....., kemudian membaca tasyahhud, kemudian mengucapkan salam.

Sesudah itu beliau berdiri di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, akan tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah.

Oleh karena itu apabila yang mana pun atau salah satunya mengalami gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir melalui salat [HR. an-Nasai]."

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةٌ هِيَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ
الْأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكوعِ الْأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ سَجَدَ - وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَالْجَلَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلَاةِ [رواه مسلم].

Artinya:

"Dari 'Aisyah, istri Nabi saw, (diriwayatkan) ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa hidup Nabi saw.

Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bersaf-saf di belakang beliau.

Rasulullah saw membaca (al-Fatihah dan surah) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami'allāhu li man hamidah, rabbanā wa lakal-hamd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surah) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama, namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami allāhu li man hamidah, rabbanā wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud.

Sesudah itu pada rakaat terakhir (kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai mengerjakan empat rukuk dan empat sujud.

Lalu matahari terang (lepas dari gerhana) sebelum beliau selesai salat.

Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya, kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka segeralah salat [HR Muslim]."

(Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.