Belajar Berpikir Kritis dari Tikus, Skill Penting untuk Bertahan Hidup
GH News March 01, 2026 06:11 AM
Jakarta -

Siapa sangka jika hewan seperti tikus perkotaan juga mampu berpikir kritis? Hewan ini dipandang sebelah mata bahkan dianggap menjijikkan.

Pernah bertanya-tanya mengapa tikus begitu sukses bertahan di kota-kota besar? Mereka hidup di balik dinding, di selokan yang penuh sampah, dan tempat-tempat yang nyaris tak tersentuh manusia.

Mereka bisa berkembang biak di tempat-tempat yang bagi manusia terasa mustahil. Apa rahasianya? Karena tikus-dalam caranya sendiri-adalah pemikir yang cermat.

Meski hanya mengandalkan makanan sisa manusia, seekor tikus akan memastikan makanan yang akan ia konsumsi tidak beracun, dengan mengamati tikus lain memakannya terlebih dahulu. Setelah mengetahuinya, informasi tersebut akan menyebar yang membuat makanan itu dihindari oleh para tikus.

Pertanyaan Membuat Hidup Bermakna

Kemampuan berpikir kritis juga dimiliki oleh tokoh dunia ternama seperti Galileo yang mempertanyakan langit, Darwin yang menanyakan penciptaan manusia. Bahkan Einstein yang mempertanyakan soal waktu, hingga Marie Curie yang bertanya tentang kandungan zat yang ia teliti.

Tokoh-tokoh tersebut bukan dengan mudah menemukan jawabannya, mereka lebih dulu menerima penolakan, perbedaan pendapat dan gagal berkali-kali. Hingga pada akhirnya menemukan konsep yang memuaskan akal pikiran. Proses ini membuktikan bahwa berpikir kritis muncul dari pertanyaan dan mulai menguji kebenarannya.

Penting untuk Memastikan Kebenaran Informasi

Namun sebaliknya, dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang lebih percaya terhadap kepalsuan atau kebohongan berulang. Secara psikologi hal itu disebut dengan istilah "efek kebenaran ilusi." Semakin seseorang akrab dengan kekeliruan, maka semakin sulit bagi dirinya untuk menerima sebuah bukti, sekalipun akurat.

Maka dari itu, sangat penting untuk mengetahui sumber utama dari informasi yang kita peroleh. Seperti studi ilmiah terkait, data asli, hingga dokumen utama, dan bukannya hanya mempercayai kutipan berita dari media sosial.

Dengan mengetahui sumber aslinya, kita dapat membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Sekalipun hanya membacanya sekilas, kita akan tetap mengetahui kebenarannya. Sekali lagi inilah pentingnya kemampuan berpikir kritis

Sebenarnya, setiap orang sangat mampu untuk berpikir kritis. Tapi yang perlu diketahui, ada dua sifat manusia yang menghambat yaitu:

Menghindari Konflik

Manusia adalah makhluk yang terbiasa untuk hidup rukun. Zaman dahulu, jika seseorang berbeda pendapat mayoritas setempat, maka akan diasingkan. Umumnya, pengasingan hanya akan berakhir dengan kematian. Bahkan sampai sekarang, perbedaan pendapat masih sering dianggap tabu di dalam sebuah kelompok.

Bias Konfirmasi

Manusia akan lebih mudah menerima informasi yang sejalan dengan dirinya. Sementara informasi yang bertentangan dan mengancam identitas diri, cenderung dihindari. Kekuatan bias ini telah diamati dari segi budaya, ideologi politik, dan tingkatan pendidikan.

Saat keduanya bersatu, maka akan membentuk ruang gema yang menampung ide keliru yang diulang, kemudian disetujui dan akhirnya dinormalisasikan. Itulah sebabnya kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan, bila perlu dilatih supaya terbiasa.

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan agar seseorang terbiasa untuk berpikir kritis:

  • Cobalah untuk berhenti sejenak ketika mulai terpancing emosi, entah marah, senang, atau mungkin merasa paling benar. Jangan terburu-buru bereaksi atas pernyataan tersebut, karena emosi merupakan sinyal waspada.
  • Cobalah untuk bertanya beberapa hal mendasar. Seperti siapa yang membuat keputusan itu? Apa keuntungan jika mempercayainya? Dan bukti apa yang dapat meyakinkan kita?
  • Cobalah mencari sudut pandang yang bertentangan dengan pendapat pribadi. Hal ini dapat dimulai dengan membaca karya tulis dari tokoh-tokoh pemikir kritis dan bukannya provokator.
  • Bersikaplah dengan rendah hati intelektual, yakni sadar bahwa pengetahuan yang dimiliki terbatas, sudut pandang pribadi dapat bias, dan kegagalan adalah hal biasa.

Berpikir kritis memang tidak membuat seseorang menjadi serba tahu, dan tidak juga menjamin kesuksesan. Hanya saja dengan mengetahui informasi sebenarnya dan tidak mempercayainya begitu saja, dapat menyelamatkan seseorang dari kehancuran.

Jadi apakah detikers sudah terbiasa untuk berpikir kritis? Atau baru akan mencobanya?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.