Ketua BEM UGM Pernah Tolak Undangan ke Istana, Minta Prabowo Taubat: Teror Tanda Cacatnya Demokrasi
ninda iswara March 01, 2026 07:50 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, mengungkap kisah ketika dirinya diundang ke Istana oleh Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2025.

Undangan tersebut tak ia penuhi, karena ia memilih tetap berada di barisan yang konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah.

Salah satu yang paling ia soroti adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya perlu evaluasi serius.

Cerita itu ia sampaikan secara terbuka dalam podcast di kanal YouTube Terus Terang Media pada Rabu (25/1/2026) malam.

Dalam perbincangan tersebut, Tiyo menekankan bahwa sikap kritisnya bukanlah luapan emosi sesaat.

“Kita itu tidak tiba-tiba marah ke presiden. Kita itu sudah sejak setahun yang lalu banyak mengkritik kebijakan-kebijakan publik yang dihasilkan dari rezim Prabowo Subianto dan Gibran Rakabumi," kata Tiyo.

Baca juga: Teror Masih Hampiri Ketua BEM UGM, Ibu Tiyo Ardianto Dapat 3 Pesan Misterius, Dituduh Gelapkan Dana

Ia menjelaskan, kritik itu telah disuarakan jauh hari, termasuk terkait revisi UU TNI dan kebijakan mandatory spending yang berhubungan dengan MBG.

Menurutnya, berbagai masukan publik seharusnya menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan.

“Ternyata seluruh kritik yang disampaikan oleh publik itu tidak terolah dengan baik oleh pemerintah. Jadi ada jarak antara suara, telinga, dan otak," paparnya.

Baginya, persoalan utama bukan sekadar berbeda pandangan, melainkan bagaimana ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat masih terasa berjarak.

Akui Pernah Diundang Istana, Tapi Menolak

Tiyo secara terbuka menyatakan telah menolak undangan resmi tersebut.

“Saya sudah diundang untuk ke istana di bulan Agustus dan saya menolaknya. Jadi enggak usah bicara kalau. Kita sudah pernah nolak itu.”

Ia menilai seluruh kritiknya sudah dapat diakses publik tanpa harus bertemu langsung.

“Seluruh yang kita sampaikan itu bisa ditonton sendiri oleh Presiden lewat podcast. Jadi enggak perlu ketemu," kata dia.

Kritik Anggaran Pendidikan dan MBG

Tiyo menyoroti dugaan pergeseran anggaran pendidikan untuk mendanai MBG.

“Yang terjadi adalah demi memberi nutrisi dia melanggar konstitusi. Pasal 31 ayat 4 tentang anggaran pendidikan yang jelas-jelas dirampas oleh BGN dari anggaran pendidikan," kata dia.

Ia menyebut angka Rp 223 triliun sebagai nilai anggaran yang terdampak.

“Kalau 223 triliun anggaran pendidikan yang dirampas oleh MBG itu kita kelola untuk pendidikan, kita hanya butuh 180 triliun untuk menggratiskan seluruh mahasiswa.”

Namun ia menegaskan, pihaknya tidak menolak pengentasan stunting.

“BEM UGM tidak pernah mengatakan untuk MBG itu dihentikan karena kita sadar bahwa persoalan stunting itu penting. Tapi MBG yang ugal-ugalan, MBG yang total, MBG yang jadi celah bagi korupsi itulah yang kami kritisi," ujar Tiyo.

Ia bahkan menyebut program tersebut berpotensi membuka ruang penyimpangan.

“MBG itu investasi yang baik bagi kemenangan politikmu, bukan bagi kesejahteraan rakyat… Justru lebih dekat pada korupsi yang tersistematis, korupsi yang dilegalkan," kata Tiyo.

Baca juga: Adian Napitupulu Minta Hentikan Teror Ketua BEM UGM Buntut Kritik soal MBG: Data Dilawan Intimidasi

Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM Diteror Usai Ngadu ke UNICEF
Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM Diteror Usai Ngadu ke UNICEF (Kompas.com)

Soroti Respons Pemerintah dan Isu Teror

Tiyo juga menyinggung respons pejabat pemerintah terhadap kritiknya.

“Kami ini bosmu… Sebagai rakyat kalian itu buruh outsourcing yang dipekerjakan oleh rakyat," tegas Tiyo.

Ia menyebut kritik kerasnya lahir dari keprihatinan mendalam.

“Ketika kita yang terbiasa pada kesantunan, terpaksa mengatakan presiden bodoh, berarti ini kejahatannya sudah tidak termaafkan," katanya.

Tiyo menilai adanya teror sebagai indikator kemunduran demokrasi.

“Teror sebenarnya adalah tanda cacatnya demokrasi. Apalagi ketika teror, pemerintah tidak berpihak pada korban," papar Tiyo.

Serukan Reformasi Jilid Dua

Di akhir pernyataannya, Tiyo menyerukan refleksi besar terhadap kondisi demokrasi.

“Saya ngajak teman-teman… untuk kita mulai berimajinasi tentang reformasi jilid dua. Karena seluruh syarat terjadinya reformasi itu sudah lengkap," ujarnya.

Meski keras, ia menyatakan tetap membuka ruang perubahan.

“Kalau saja Pak Presiden bertaubat secara politik dan jadi presiden yang baik, mungkin saya mau kok jadi orang pertama yang akan dukung beliau," ungkap Tiyo.

Baginya, rakyat tidak menginginkan konflik berkepanjangan dengan pemimpinnya.

“Rakyat ini enggak pengin punya pemimpin yang harus dikritik. Penginnya punya pemimpin yang bisa kita andalkan, bisa kita banggakan.”

(TribunTrends/WartaKotalive)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.