TRIBUNNEWS.COM - Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu gangguan besar pada penerbangan komersial di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
Sejumlah negara menutup wilayah udaranya, menyebabkan puluhan ribu penumpang di seluruh dunia terlantar.
Bandara Internasional Muscat di Oman juga ditutup, sementara seluruh penerbangan di atas Uni Emirat Arab dibatasi, menurut situs pelacak penerbangan FlightRadar24.
Maskapai-maskapai besar yang berbasis di Timur Tengah dengan jaringan global membatalkan ratusan penerbangan.
Banyak penumpang lainnya dialihkan secara mendadak ke bandara-bandara di Eropa atau bahkan diterbangkan kembali ke bandara keberangkatan.
"Bagi para pelancong, tidak ada cara untuk memperhalus situasi ini," kata Henry Harteveldt, analis industri penerbangan sekaligus Presiden Atmosphere Research Group.
"Anda harus bersiap menghadapi penundaan atau pembatalan dalam beberapa hari ke depan seiring perkembangan dan semoga berakhirnya serangan ini," tambahnya.
Belum jelas berapa lama gangguan operasional penerbangan ini akan berlangsung. Merujuk pada serangan Israel dan AS terhadap Iran pada Juni 2025 sebelumnya berlangsung selama 12 hari.
Perusahaan analitik penerbangan Cirium menyebut sulit menghitung jumlah total pelancong yang terdampak secara global.
Namun, diperkirakan sedikitnya 90.000 orang setiap hari melakukan transit di bandara Dubai, Doha, atau Abu Dhabi hanya melalui tiga maskapai besar: Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways.
Baca juga: Sistem THAAD Amerika Cegat Rudal Balistik Iran yang Incar Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA
Situasi terus berubah cepat dan maskapai mendesak penumpang untuk memeriksa status penerbangan secara daring sebelum berangkat ke bandara.
Sejumlah maskapai memberikan keringanan berupa pembebasan biaya perubahan jadwal bagi penumpang terdampak, sehingga mereka dapat memesan ulang tanpa dikenakan biaya tambahan.
Seorang penumpang, Jonathan Escott mengalami langsung dampak tersebut. Mereka tiba di Bandara Newcastle, Inggris, pada Sabtu dan mengetahui, penerbangan langsung mereka ke Dubai dengan Emirates dibatalkan.
Escott kembali ke tempat tinggal keluarganya yang berjarak sekitar satu jam dari bandara, tapi belum mengetahui kapan dapat kembali bepergian.
"Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dengan konflik ini. Bahkan Emirates pun tidak tahu. Tidak ada yang punya kepastian," ujarnya.
Penutupan wilayah udara diperkirakan akan berdampak luas bagi Emirates yang berbasis di Dubai dan maskapai lain yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Cirium mencatat sedikitnya 850 penerbangan dibatalkan pada Sabtu oleh maskapai Timur Tengah, termasuk Emirates, Flydubai, Gulf Air, Qatar Airways, dan Kuwait Airways.
Pesawat yang sedang menuju kota seperti Tel Aviv dan Dubai pada Sabtu pagi dialihkan ke bandara di Athena, Istanbul, atau Roma, atau kembali ke bandara asal.
Bandara Internasional Dubai yang merupakan bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional dan Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi melaporkan lebih dari 1.000 penerbangan kedatangan dan keberangkatan dibatalkan, menurut situs pelacak FlightAware.
Banyak maskapai juga membatalkan penerbangan internasional ke Dubai hingga akhir pekan, setelah otoritas penerbangan sipil India menetapkan sebagian besar wilayah Timur Tengah , termasuk langit di atas Yordania, Arab Saudi, dan Lebanon, sebagai zona berisiko keamanan tinggi di semua ketinggian.
Air India membatalkan seluruh penerbangan ke destinasi Timur Tengah.
Turkish Airlines menangguhkan penerbangan ke Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan Yordania hingga Senin (2/3/2026) serta menghentikan penerbangan ke Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Maskapai tersebut menyatakan pembatalan tambahan masih mungkin diumumkan, sedangkan banyak maskapai lain juga menangguhkan penerbangan ke kawasan itu hingga akhir pekan.
Maskapai Amerika Serikat seperti Delta Air Lines dan United Airlines menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv setidaknya hingga akhir pekan. Maskapai Belanda KLM sebelumnya telah mengumumkan penghentian penerbangan ke dan dari Tel Aviv.
Lufthansa, Air France, Transavia, dan Pegasus membatalkan seluruh penerbangan ke Lebanon. American Airlines menangguhkan penerbangan dari Philadelphia ke Doha.
Virgin Atlantic menyatakan akan menghindari wilayah udara Irak, sehingga penerbangan ke dan dari India, Maladewa, serta Riyadh kemungkinan memakan waktu lebih lama.
Maskapai itu sebelumnya juga sudah tidak melintasi wilayah udara Iran dan menyatakan seluruh penerbangan akan membawa bahan bakar tambahan jika sewaktu-waktu perlu mengubah rute.
British Airways menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv dan Bahrain hingga pekan depan. Sementara penerbangan ke Amman, Yordania, dibatalkan pada Sabtu. (AP News)