Serangan Israel ke Sekolah Dasar di Iran Tewaskan 108 Orang
Sri Juliati March 01, 2026 07:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Jumlah korban dalam serangan Israel ke sebuah SD Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, meningkat menjadi 108 orang.

Hingga saat ini, belum ada rincian lebih lanjut mengenai jumlah korban tewas maupun luka-luka dalam insiden tersebut.

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian operasi militer gabungan AS-Israel di berbagai wilayah Iran yang memicu eskalasi kekerasan di kawasan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi membagikan foto dampak serangan yang menurutnya menghancurkan sekolah putri tersebut dan menewaskan 'anak-anak tak berdosa'.

"Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan," tulis Araghchi dalam unggahan di platform X.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei juga mengecam serangan tersebut sebagai 'kejahatan terang-terangan' dan mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil tindakan.

Serangan-serangan tersebut mempertanyakan klaim AS dan Israel, mereka hanya menargetkan sasaran militer dan berupaya menghukum rezim, bukan rakyat Iran.

"Presiden Trump telah menjanjikan bantuan bagi rakyat Iran, namun kini kita melihat korban sipil."

"Hal ini kemungkinan akan ditekankan pemerintah Iran sebagai pelanggaran hukum internasional dan bentuk agresi terhadap rakyat Iran," ujar jurnalis Al Jazeera, Mohammed Vall.

Baca juga: Jumlah Korban Serangan Israel Tewaskan 40 Siswa di Sekolah Iran, Semuanya Perempuan

Darurat Evakuasi: Puluhan Siswi Tertimbun Puing

Situasi di lokasi kejadian dilaporkan sangat mencekam.

Hingga Sabtu sore waktu setempat, Gubernur Minab, Mohammad Radmehr, mengungkapkan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dipacu untuk mengevakuasi siswi yang terjepit.

"Setidaknya 53 siswi dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan. Tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan sedang bekerja keras di lokasi untuk mengevakuasi para korban," ujar Radmehr dalam pernyataan resminya.

Meskipun duka mendalam menyelimuti kota, pemerintah setempat mengklaim situasi keamanan di Minab saat ini telah berada di bawah kendali otoritas keamanan.

Tak Ada Fasilitas Militer

Pemerintah Iran secara tegas mengutuk serangan ini sebagai tindakan kriminal yang sengaja membidik warga sipil.

Penyelidikan di lapangan menunjukkan bahwa Sekolah Shajareye Tayabeh merupakan fasilitas pendidikan murni.

Tidak ditemukan adanya instalasi militer, gudang senjata, maupun personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di area tersebut.

Para pengamat internasional menilai penargetan sekolah dasar yang tanpa perlindungan militer ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.

Konflik Terbuka: Agresi Gabungan dan Balasan Teheran

Insiden mematikan di sekolah Minab ini merupakan bagian dari gelombang agresi militer gabungan yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel terhadap kedaulatan Iran sejak Sabtu dini hari.

Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu telah mengonfirmasi operasi militer tersebut dengan dalih demiliterisasi dan pencegahan program nuklir.

Menanggapi gugurnya puluhan siswi tersebut, Angkatan Bersenjata Iran langsung meluncurkan serangan balasan besar-besaran.

Teheran melaporkan telah menghujani wilayah pendudukan Israel dan pangkalan militer AS di seluruh kawasan dengan gelombang rudal balistik serta pesawat tanpa awak (drone).

Desak DK PBB Bertindak dan Respons Indonesia

Melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta, Pemerintah Iran menyerukan kepada masyarakat internasional dan Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil langkah konkret.

Mereka menilai serangan ini melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB dan menegaskan hak bela diri berdasarkan Pasal 51.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan menjauhi objek-objek vital.

Kedutaan Iran di Jakarta juga menyerukan dukungan dari tokoh politik, organisasi keagamaan, dan media di Indonesia untuk mengecam serangan terhadap warga sipil tak bersalah ini.

Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait klaim Iran mengenai serangan terhadap sekolah tersebut.

Sebelumnya, dalam konflik pada Juni 2025 yang berlangsung selama 12 hari, korban sipil di Iran juga dilaporkan cukup besar.

Menurut Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran, ribuan warga sipil tewas atau terluka dan infrastruktur publik mengalami kerusakan selama konflik tersebut. 

(Tribunews.com/Sri Juliati/Abdul Qodir)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.