Kisah KH Idris dan Lahirnya Ponpes Lumpur Losari yang Jadi Cikal Bakal Al Muhajirin
muh radlis March 01, 2026 09:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Berdirinya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muhajirin di Jl Kyai Idris Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes Jawa tengah pada tahun 1993 tak lepas dari Ponpes Yanbau'ul Ulum atau yang lebih dikenal dengan Ponpes  Lumpur Losari.


Keberadaan pesantren lumpur saat itu, dianggap menjadi ancaman bagi eksistensi kolonialisme Hindia-Belanda.

Ponpes Lumpur Losari sendiri berada di Dusun Lumpur, Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Brebes, Jawa Tengah yang didirikan oleh KH Idris bin KH Ahmad Sholeh pada 1874 menjadi perhatian tersendiri bagi kolonial Belanda saat itu.

Berkembangnya waktu, nama Ponpes Lumpur berubah menjadi nama Ponpes Yanbaul Ulum pada 1974.

Kemudian pada tahun 1993, Keturunan dari KH Idris mengembangkan Ponpes Lumpur dan diberi nama Ponpes Al Muhajirin.

Saat itu, pembelajaran keagamaan berfokus pada sebuah musala. Bahkan bertamakali berdiri ponpes hanya memiliki satu santri dari Kecamatan Losari.

33 tahun berlalu, saat ini Ponpes Al Muhajirin memiliki kurang lebih 150 santri, baik yang bermukim atau santri kalong (belajar di pondok kemudian pulang).

Gus Raden Muhammad Syifaul Huda Pengasuh Ponpes Al Muhajirin , mengatakan, Untuk kawasan Losari, baik Brebes maupun Cirebon banyak didatangi oleh para keturunan Wali Songo, Sunan Gunung Jati.

Gus Syifa menyebut, Pondok Lumpur sendiri sudah jelas merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati.

Baca juga: Napak Tilas Jejak Wali Gembyang Sebarkan Islam di Kendal

"Ponpes Lumpur Losari sendiri bahkan telah di kukuhkan oleh Santana dari Keraton Kasepuhan Cirebon, bahwa pendiri dari Ponpes Lumpur merupakan keturunan dari Sunan Gunung Jati Cirebon," ujarnya, Kamis 26 Februari 2026.

Keabsahan itu, kata Gus Syifa dibuktikan melalui manuskrip dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

"Saya sendiri dikasih tahu oleh kyai dari Ponpes benda kerep Cirebon, menurut buku manuskrip (silsilah) itu ada."

"Termasuk Pokdok Lumpur, kempek, benda kerep dan buntet itu satu kesatuan masih satu keluarga."

"Kalo untuk keturunan dari Sunan Gunung Jati, Pondok Lumpur Nyai Raden Ayu Soimah Binti KHR. Murtasim merupakan Keturunan ke 13 dari Sunan Gunung Jati, itu sudah falid, Santana dari Keratonan Kecirebonan sudah turun mengukuhkan dibuktikan manuskripnya," paparnya.

KH Muslih Idris Hambali Pengasuh Ponpes Al Muhajirin menyebut, perpindahan nama Ponpes Yanbu'ul sekitar tahun 1973.

Semakin banyaknya keturunan KH Idris dan sadar akan perjuangan yang di warisi leluhurnya sehingga anak anak serta cucu dan cicitnya mendirikan pondok pesantren di seluruh pelosok Indonesia Ponpes Al Muhajirin salah satunya.

Periode awal Ponpes Al Muhajirin itu di sejarah yang masih keturunan KH Idris berawal juga dari pendirian pondok pesantren Al Qadnawi yang di asuh oleh KH Qadnawi suami nyai Sukainah binti KH Idris tahun 1900 M sepeninggal KH Qadnawi pondok pesantren di teruskan oleh anak KH Qadnawi yaitu KH Abdullah Faqih yang merupakan kakek dari KH Muslih pengasuh pondok pesantren Al Muhajirin.

"Untuk santri waktu awal itu disini Ponpes Al Muhajirin hanya ada satu dari Desa Kedungneng Losari. Dulu itu Ponpes Al Muhajirin kategoroinya masih santri kampung,karena santri hanya dari sekitar Kecamatan Losari," paparnya.

KH Muslih menyebut, saat itu masih belum seperti sekarang hanya bangunan sedanya saja.

Untuk saat ini terkhusus Musala sudah mengalami pemugaran hingga 3 kali .

"Untuk ponpes disini seperti pada umumnya, bada Subuh santri melakukan tadarus Al-Quran, kemudian khusus bagi santri yang tidak mengikuti pembelajaran formal , akan diberikan pembelajaran Kitab Jurmiah pembahasan soal Nahwu Sorof," tuturnya.

Sementara untuk silsilah di Ponpes Al Muhajirin sendiri merupakan keturunan atau generasi ke 5 dari KH Idris yang merupakan pendiri Ponpes Lumpur. (pet).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.