TRIBUNNEWS.COM, ABU DHABI - Ledakan mengguncang sejumlah kota di kawasan Teluk pada Sabtu (28/2), menewaskan dua orang di Abu Dhabi dan memicu kebakaran di ikon Dubai, The Palm, ketika Iran melancarkan gelombang serangan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.
Serangan tersebut menghantam bandara di Abu Dhabi, Dubai, dan Kuwait, serta pangkalan militer dan kawasan permukiman di negara-negara Teluk.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan Iran menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke wilayah negara itu.
Proyektil terlihat melintasi langit hampir seluruh negara Teluk, kecuali Oman yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan terbaru AS-Iran.
Sebagian besar rudal dan drone berhasil dicegat.
Namun, di Bandara Internasional Zayed, Abu Dhabi, sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka dalam sebuah insiden.
Sebelumnya, seorang warga sipil asal Pakistan dilaporkan tewas akibat serpihan yang jatuh.
Baca juga: Bandara Abu Dhabi Kena Serangan Drone Iran, 1 Orang Tewas, 7 Terluka
Di Bandara Internasional Dubai, empat orang terluka, menurut otoritas bandara. Empat orang lainnya juga mengalami luka di kawasan mewah Palm Jumeirah.
Di Qatar, pejabat menyebut Iran meluncurkan 65 rudal dan 12 drone.
Sebagian besar berhasil dicegat, tetapi delapan orang terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis.
“Kami takut dengan apa yang akan terjadi ke depan dan tidak tahu bagaimana beberapa hari mendatang,” ujar Maha Manbaz, mahasiswa keperawatan di Doha.
Sementara asap terlihat membumbung dari pangkalan AS di Abu Dhabi dan Manama, ibu kota Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Saksi mata melaporkan situasi mencekam di sejumlah lokasi.
Sebuah drone menghantam Bandara Internasional Kuwait, dan sebuah pangkalan yang menampung personel AS juga menjadi target.
Tiga tentara Kuwait dan 12 orang lainnya dilaporkan terluka.
Setelah Garda Revolusi Iran melaporkan serangan rudal, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan tidak ada kapal perang AS yang terkena dampak, kerusakan fasilitas AS minimal, dan tidak ada korban dari pihak Amerika.
Bangunan permukiman di Manama juga menjadi sasaran. Tim pemadam kebakaran dan pertahanan sipil dikerahkan ke lokasi.
Baca juga: Serangan Israel ke Sekolah Dasar di Iran Tewaskan 108 Orang
“Suara ledakan pertama membuat saya sangat ketakutan,” kata seorang pensiunan berusia 50 tahun yang tinggal dekat pangkalan AS di kawasan Juffair, Manama, tempat warga segera dievakuasi.
UEA, Arab Saudi, dan Qatar memperingatkan bahwa mereka berhak memberikan respons atas serangan tersebut.
Negara-negara monarki Arab kaya minyak dan gas di kawasan Teluk merupakan sekutu lama Amerika Serikat dan menjadi tuan rumah sejumlah pangkalan militer AS.
“Negara-negara Teluk terjepit antara Iran dan Israel dan harus menanggung dampak terburuk dari keduanya,” ujar Bader Al-Saif, profesor di Universitas Kuwait.
Ia menilai serangan Iran ke Teluk hanya akan menjauhkan negara-negara tetangganya.
Serangan besar-besaran juga menyasar Pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di kawasan tersebut, serta wilayah Riyadh dan Arab Saudi bagian timur.
Eskalasi ini terjadi di tengah komunikasi pertama antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Mohamed bin Zayed sejak perselisihan terbuka pada akhir Desember lalu.
Keduanya membahas serangan balasan Iran dan menyatakan solidaritas.
Pada Sabtu malam, pejabat Kuwait menyatakan sebuah drone menargetkan pangkalan angkatan laut, namun berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Trump menyampaikan kecaman Washington atas serangan rudal terang-terangan terhadap Kerajaan Arab Saudi, yang berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Saudi.
Ia menegaskan dukungan Amerika Serikat kepada Kerajaan serta dukungan terhadap seluruh langkah yang diambil Riyadh untuk menghadapi pelanggaran Iran yang dinilai mengganggu keamanan dan stabilitas kawasan, tambah SPA.
Dalam panggilan terpisah, Mohammed bin Salman juga berbicara dengan Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa mengenai eskalasi militer yang sedang berlangsung di kawasan.
Al-Sharaa menegaskan dukungan dan solidaritas negaranya terhadap Arab Saudi, menurut laporan SPA lainnya.
Presiden Suriah itu juga menekankan penolakan negaranya terhadap setiap pelanggaran kedaulatan Arab Saudi maupun ancaman terhadap keamanan dan stabilitasnya. (Aljazeera/arabnews)