PM Malaysia Minta AS dan Iran Saling Turunkan Eskalasi Perang
Sri Juliati March 01, 2026 10:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Iran harus menempuh jalur diplomasi (diplomatic off-ramp) alih-alih melanjutkan eskalasi konflik.

Anwar juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak segera tanpa menerapkan standar ganda.

Dikutip dari Bernama, Anwar menyatakan bahwa penghentian permusuhan antara kedua negara secara segera dan tanpa syarat merupakan hal yang sangat mendesak.

"Serangan Israel ke Iran dan aksi militer Amerika yang menyertainya membawa Timur Tengah ke ambang bencana. Permulaan serangan oleh Israel ini adalah upaya keji untuk menyabotase negosiasi yang sedang berlangsung dan menyeret negara-negara lain ke dalam konflik yang terbukti mustahil untuk dikendalikan," ungkapnya dalam pernyataan di Facebook pada Minggu (1/3/2026).

Anwar Ibrahim juga menyatakan kekhawatirannya terhadap keselamatan warga negara Malaysia di Iran dan wilayah lainnya di kawasan tersebut.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus berkomunikasi dengan mitra regional terkait langkah selanjutnya.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri mulai meningkat tajam setelah kemarin Sabtu (28/2/2026),Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran.

Israel menyebut tindakan tersebut sebagai "serangan preemtif" terhadap musuh bebuyutannya untuk melenyapkan ancaman.

Serangan ini terjadi setelah Amerika Serikat meningkatkan pembangunan kekuatan militer secara signifikan di kawasan tersebut untuk menekan Teheran agar mengurangi program nuklirnya

Aksi ini juga dilakukan AS  menyusul tindakan keras pemerintahan Iran terhadap para peserta protes dan demonstrasi yang melanda negara tersebut beberapa waktu lalu.

Baca juga: Serangan Israel ke Sekolah Dasar di Iran Tewaskan 108 Orang

Di sela acara buka puasa bersama Kementerian Pendidikan Tinggi dan Kementerian Pendidikan Malaysia di Seri Perdana pada hari Sabtu, Anwar juga berpesan kepada para mahasiswa untuk merangkul perubahan dan memperkuat pencarian ilmu. 

Menurutnya, tuntutan era modern memerlukan ketahanan dan landasan moral yang kuat.

"Kita tidak punya pilihan. Jika kita ingin maju, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa tetap berada di level lama. Cara berpikir, bekerja, belajar, dan bergerak kita harus mengimbangi kecepatan zaman," tegasnya dalam pidato tersebut.

Dampak Ekonomi dan Geopolitik bagi Malaysia

Secara terpisah, Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat menimbulkan tantangan geopolitik baru bagi ekonomi global.

Meskipun masih terlalu dini untuk menentukan dampak ekonomi secara penuh, ia mengakui situasi ini memerlukan pemantauan ketat.

Akmal Nasrullah menyoroti dua bidang utama yang membutuhkan perhatian: hubungan ekonomi langsung Malaysia dengan Iran dan implikasi geopolitik yang lebih luas terhadap ekonomi global.

"Salah satu bidang yang akan dievaluasi adalah produksi minyak dan gas karena Iran memainkan peran secara regional maupun global," ujarnya. Ia menambahkan bahwa efek berantai pada rantai pasok global secara keseluruhan juga perlu diperiksa mengingat sifat perdagangan internasional dan pasar energi yang saling terhubung.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.