Serangan AS-Israel Tewaskan Ayatullah Ali Khamenei dan Keluarga
taryono March 01, 2026 12:36 PM

Tribunlampung.co.id - Serangan berkelanjutan yang dilakukan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, beserta putri, menantu, dan cucunya, pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Kematian Ayatullah Ali Khamenei dan keluarganya dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026).

Media pemerintah Iran juga menyatakan, serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan telah menewaskan sedikitnya 108 orang, dan sedikitnya 201 orang tewas di 24 provinsi.

Diketahui, Israel melancarkan serangan udara terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. 

Dua suara ledakan dilaporkan terdengar di area Teheran, ibu kota Iran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Pernyataan Presiden AS Donald Trump

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah tewas.

Hal tersebut disampaikan Trump dalam platform Truth Social, Minggu (1/3/2026) pagi waktu setempat.

Trump menyebut, kematian Khamenei memberikan keadilan bagi masyarakat Iran dan juga masyarakat dunia yang anggota keluarganya telah dibunuh.

"Dia (Khamenei) tidak dapat menghindari intelijen dan sistem pelacakan kami yang sangat canggih dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang dapat dilakukan dia, atau para pemimpin lain yang telah terbunuh bersamanya," tulis Trump.

Iran Berduka

Institusi Iran berduka atas wafatnya Khamenei. Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebutnya sebagai ulama besar dan “pemimpin para syuhada Revolusi Islam.” 

Mereka menegaskan bahwa kesyahidannya tidak akan menghentikan jalannya, melainkan memperkuat tekad rakyat Iran untuk melanjutkan warisannya. 

Pemerintah Iran menetapkan 40 hari berkabung nasional dan 7 hari libur resmi. 

Dewan Keamanan Nasional menilai kesyahidannya akan menjadi katalis kebangkitan besar melawan tirani global.

Serangan ini terjadi setelah AS dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan pada 28 Februari, di tengah pembicaraan nuklir. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi itu sebagai langkah untuk menghapus “ancaman eksistensial” dan mengubah lanskap strategis kawasan. 

Ledakan dilaporkan terjadi di Tehran, Qom, Tabriz, dan Khorramshahr, disusul penutupan wilayah udara Iran dan regional.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan puluhan rudal balistik ke arah Israel, dengan laporan serangan mencapai Tel Aviv, Haifa, dan wilayah Palestina yang diduduki. 

Media Iran menyebut serangan itu sebagai “balasan menghancurkan” terhadap entitas Zionis. 

Selain itu, ledakan juga dilaporkan di sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS, termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

sumber: Tribunnews.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.