Prabowo Nekat Mau Ke Teheran, Hikmahanto: Sebaiknya Tidak Sekarang, Tak Akan Diterima
Tommy Kurniawan March 01, 2026 03:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Wacana keterlibatan Indonesia dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah kembali mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto dikabarkan menyatakan kesiapan menjadi penengah konflik dan bahkan bersedia terbang ke Teheran, Iran.

Informasi mengenai kesiapan tersebut disampaikan melalui akun resmi X milik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, @Kemlu_RI, yang menegaskan posisi pemerintah Indonesia dalam mendorong dialog damai di tengah eskalasi situasi kawasan.

Melalui unggahan itu ditegaskan bahwa pemerintah, atas nama Presiden Republik Indonesia, siap memfasilitasi dialog guna mengembalikan kondisi keamanan yang kondusif, dan apabila kedua belah pihak menyepakati, Presiden bersedia bertolak ke Teheran untuk menjalankan misi mediasi.

Ketegangan sendiri dipicu oleh serangan udara yang dilancarkan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat, yang dilaporkan memicu dua ledakan keras di sekitar Teheran sebagai ibu kota negara tersebut.

Rencana Presiden Prabowo untuk mengambil peran sebagai juru damai itu kemudian menuai tanggapan dari akademisi hukum internasional.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengingatkan agar langkah diplomatik tersebut tidak dilakukan secara tergesa-gesa dalam situasi yang masih sangat panas.

Baca juga: Posisi Jasad Khamenei Tewas Diserang Israel, Trump-Netanyahu Lihat Fotonya

Baca juga: Iran Akan Balas Kematian Ayatollah Khamenei dan Buat AS-Israel Menyesal

Pandangan tersebut disampaikan Hikmahanto sebagai respons atas keinginan Prabowo menjadi mediator konflik Iran dan Amerika Serikat menyusul serangan gabungan Israel dan AS ke Iran pada tanggal yang sama.

Menurut penilaiannya, momentum yang berkembang saat ini belum sepenuhnya mendukung upaya mediasi karena dinamika konflik masih berada pada fase awal eskalasi.

Dalam keterangannya kepada Tribunnews.com pada Minggu (1/3/2026), ia menyatakan bahwa bila Presiden hendak berperan sebagai juru damai, sebaiknya tidak dilakukan sekarang.

Pertimbangannya, proses mediasi cenderung efektif ketika konflik telah berlangsung cukup lama sehingga para pihak mulai mencari jalan keluar yang terhormat.

Ia menjelaskan bahwa dalam fase konflik berkepanjangan, kebutuhan akan mediator muncul secara psikologis karena negara-negara yang terlibat ingin menyelamatkan muka tanpa harus mengakui kekalahan secara terbuka.

Sebagai mantan Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Hikmahanto menambahkan bahwa dalam situasi perang yang berlarut, pihak yang bertikai umumnya enggan dinilai kalah dan karenanya lebih terbuka terhadap proposal damai yang difasilitasi pihak ketiga.

Sebaliknya, bila mediasi dilakukan saat eskalasi baru saja terjadi, peluang penolakan dari para pihak dinilai jauh lebih besar.

Ia menilai bahwa upaya diplomasi yang dilakukan terlalu dini justru berisiko tidak diterima oleh negara-negara yang sedang berkonflik.

Sementara itu, perkembangan terbaru dari Iran menambah kompleksitas situasi.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat penjelasan resmi yang terperinci mengenai kronologi maupun lokasi pasti serangan yang disebut-sebut menewaskan pemimpin tertinggi tersebut.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 28 Februari melalui media sosial menyatakan bahwa Khamenei meninggal dunia setelah serangan militer besar-besaran oleh AS dan Israel.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Washington mengklaim telah mengonfirmasi kematian itu dalam operasi gabungan yang dilakukan bersama Israel.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan adanya banyak indikasi bahwa Khamenei tidak lagi hidup, memperkuat klaim dari pihak Israel.

Namun, perbedaan informasi muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan NBC menyatakan bahwa sejauh yang ia ketahui, Khamenei masih hidup.

Pernyataan yang saling bertolak belakang itu memunculkan ketidakpastian mengenai kondisi sebenarnya dari pemimpin tertinggi Iran di tengah situasi yang kian memanas.

Serangan skala besar yang terjadi pada 28 Februari disebut menyasar sejumlah target strategis di Iran.

Dalam pidato video yang dirilis setelah operasi, Trump menegaskan bahwa tujuan serangan adalah menghentikan pengembangan program nuklir dan misil Iran.

Ia bahkan menyampaikan pesan terbuka kepada rakyat Iran agar mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer selesai, sebuah pernyataan yang dinilai secara eksplisit mendorong perubahan rezim di Teheran.

Sementara itu, Netanyahu mengklaim bahwa markas Khamenei di pusat Teheran telah dihancurkan dan kembali menegaskan adanya indikasi kuat bahwa pemimpin tertinggi Iran tersebut telah tewas.

Di tengah silang klaim dan eskalasi militer yang belum menunjukkan tanda mereda, wacana Indonesia untuk masuk sebagai mediator menjadi perhatian tersendiri, meski sejumlah pihak menilai waktu pelaksanaannya perlu dipertimbangkan secara matang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.